Khianati Putin, Perwira Rusia Bantu Ukraina Tewaskan Lebih dari 300 Tentara Moskow

img-redaksi Muhaimin
Minggu, 18 Oktober 2026 - 12:55 WIB
Khianati Putin, Perwira Rusia Bantu Ukraina Tewaskan Lebih dari 300 Tentara Moskow
Letnan Lev Stupnikov, perwira militer Rusia yang membelot ke Ukraina. Dia mengkhianati pemerintah Presiden Vladimir Putin dengan berbalik memihak Ukraina. Foto/WION News
A
A
A
KYIV - Seorang perwira militer Rusia berusia 26 tahun diam-diam memasok informasi intelijen medan perang yang sensitif kepada Ukraina. Informasi tersebut membantu pasukan Kyiv menewaskan lebih dari 300 tentara Rusia sebelum sang perwira melarikan diri menyeberangi garis depan dan bergabung dengan unit yang berperang melawan pemerintahan Presiden Vladimir Putin.

Cerita perwira Rusia yang mengkhianati pemerintah Putin ini diungkap laporan The Wall Street Journal (WSJ), Sabtu (17/10/2026).

Letnan Lev Stupnikov diduga memanfaatkan posisinya di militer Rusia untuk membocorkan rahasia militer kepada intelijen Ukraina. Jabatannya memberinya akses ke pergerakan pasukan, rencana operasi, serta rekaman pengawasan dari drone pengintai dan kamera.

Setelah berhasil mencapai wilayah Ukraina, Stupnikov bergabung dalam pertempuran melawan Moskow. Namun, keputusannya itu harus dibayar mahal secara pribadi. Dia akhirnya kehilangan kontak dengan istrinya, Liza, yang menuduhnya mengkhianati negara sekaligus pernikahan mereka.

Lulusan Akademi Militer Budyonny untuk Korps Sinyal itu ditunjuk sebagai kepala komunikasi sebuah batalion yang ditugaskan merebut Vuhledar, salah satu benteng strategis Ukraina di wilayah Donbas.

Tanggung jawabnya meliputi menjaga komunikasi antara para komandan dan unit di garis depan serta memastikan mereka menerima informasi dari sistem pengawasan. Namun, secara diam-diam, dia justru menyampaikan kepada intelijen militer Ukraina rincian akurat mengenai posisi pasukan Rusia dan rencana pergerakan mereka.

Pada suatu pagi yang sangat dingin di Ukraina timur, Stupnikov berpura-pura mengalami kram perut agar bisa meninggalkan rekan-rekan tentaranya. Tidak lama kemudian, rudal Ukraina menghantam koordinat yang telah dia berikan.

Salah satu serangan tersebut menewaskan 68 tentara Rusia, termasuk Kolonel Gusein Musayev, yang dilaporkan termasuk dalam daftar target prioritas Kyiv. Sebanyak 60 tentara lainnya terluka.

"Apakah terjadi ledakan? Kirim foto," tulis seorang kontak Ukraina kepada Stupnikov setelah serangan itu. "Yang ada hanya daging," jawabnya.

Menurut laporan WSJ, ribuan orang, termasuk tentara dan ibu rumah tangga, berkomunikasi dengan agen-agen Ukraina melalui platform komunikasi terenkripsi.

Bagi Stupnikov, Invasi Rusia Mengubah Segalanya



Keputusan Stupnikov untuk berbalik melawan militer Rusia berawal dari penolakannya terhadap invasi ke Ukraina.

Pada Februari 2022, dia menyaksikan video helikopter Rusia terbang di atas kota-kota Ukraina dan bom-bom meledak ketika Moskow melancarkan invasi skala penuh. Gambar-gambar itu membuatnya ngeri.

"Mereka menjatuhkan bom ke warga sipil yang tidak bersalah," katanya. "Itu adalah kejahatan."

Dia kesulitan memahami bagaimana rekan-rekannya sesama tentara masih bisa menjalani rutinitas sehari-hari ketika perang menghancurkan komunitas-komunitas di Ukraina.

Di rumah, dia menghabiskan malam bersama istrinya, Liza, dengan menonton video yang menampilkan tokoh-tokoh oposisi Rusia dan wawancara dengan tawanan perang Rusia yang ditahan Ukraina.

Bahkan di akademi militer, terdapat sekelompok kecil kadet yang memiliki pandangan serupa. Mereka saling bertukar pandang seolah memahami satu sama lain, sementara beberapa di antaranya berusaha meninggalkan institusi tersebut.

Namun, permohonan mereka berbulan-bulan tak kunjung mendapat keputusan.

"Saya tidak bisa menunjukkan emosi saya," kenangnya. "Namun, di dalam diri saya, rasanya seperti terbakar."

Ibu Stupnikov, Tatiana Yantsen, juga menentang pemerintahan Putin. Perempuan yang bekerja sebagai pegawai kantor itu pernah mengikuti demonstrasi menentang Putin.

Pada Februari 2024, tiga bulan setelah putranya mulai bertugas di garis depan, Tatiana menghubungi Dmytro Karpenko, seorang pemrogram komputer yang bekerja erat dengan intelijen militer Ukraina.

Karpenko mengelola jaringan informan Rusia melalui platform komunikasi terenkripsi. Dia juga menarik perhatian setelah menerbitkan wawancara video dengan tawanan perang Rusia di YouTube.

Menurut laporan tersebut, sejumlah personel militer Rusia menghubunginya setelah kembali ke rumah dan menawarkan informasi militer sebagai imbalan uang.

Pada Oktober 2023, Karpenko mengumumkan pembayaran sebesar 250.000 rubel, setara sekitar USD2.700, kepada personel militer Rusia yang bersedia memberikan informasi untuk mendukung upaya perang Ukraina.

Pelarian Stupnikov pada akhirnya diatur melalui jaringan tersebut. Dia, Karpenko, dan para pengintai Ukraina menggunakan aplikasi terenkripsi untuk mengoordinasikan rute melintasi garis depan yang berbahaya.

Pada Juli 2024, Stupnikov diam-diam meninggalkan unit militernya pada malam hari dan bergerak ke utara menuju posisi pasukan Ukraina.

Operator Ukraina memantau pergerakannya secara langsung dari sebuah bunker bawah tanah melalui siaran video langsung.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, dia mencapai kawasan pepohonan tempat tentara Brigade ke-72 Ukraina ditempatkan.

Pasukan Ukraina melihat seorang pria berseragam Rusia mendekati posisi mereka. Dari sebuah lubang perlindungan, mereka mengarahkan senapan kepadanya dan bertanya dengan tegas, "Apa kata sandinya?"

Stupnikov menjawab dengan kata sandi yang telah disepakati sebelumnya, yakni "toko kacang", sebelum kemudian diamankan oleh pasukan Ukraina.

Dia kemudian bergabung dengan Korps Relawan Rusia (Russian Volunteer Corps/RVC), sebuah unit yang terdiri atas warga etnis Rusia yang bertempur bersama Ukraina melawan pemerintahan Putin.

Menurut laporan tersebut, kini dia bertugas sebagai spesialis komunikasi.

Pada Februari 2025, ibu dan saudara perempuan Stupnikov mengemasi masing-masing sebuah ransel dan koper sebagai persiapan untuk pergi ke Moldova.

Rencana mereka adalah menyeberang ke Ukraina dengan berjalan kaki dan menemui Karpenko.

Sementara itu, selama berbulan-bulan Tatiana menerima telepon dari para pejabat militer Rusia yang meminta bantuannya untuk membujuk putranya menyerah jika dia masih hidup.

Tatiana menampilkan diri sebagai seorang ibu yang dilanda kecemasan dan bersikeras bahwa menemukan keberadaan putranya merupakan tanggung jawab pihak berwenang.

Setahun kemudian, Stupnikov menceritakan pengalamannya dalam sebuah wawancara video berdurasi dua jam bersama Karpenko.

Wawancara tersebut kembali menarik perhatian terhadap pembelotannya dan informasi intelijen yang diduga telah dia berikan kepada pasukan Ukraina.

Terlepas dari konsekuensi keputusannya, Stupnikov bersikukuh bahwa tindakannya sejalan dengan sumpah yang dia ucapkan di akademi militer hampir satu dekade sebelumnya.

Dia bersumpah untuk membela kebebasan, kemerdekaan, dan tatanan konstitusional negaranya. Menurut pandangannya, invasi Putin telah menghancurkan prinsip-prinsip tersebut.

"Apakah saya mengkhianati sumpah saya? Saya bersumpah untuk membela kebebasan, kemerdekaan, dan tatanan konstitusional," katanya. "Namun, Putin menghancurkan ketiganya."
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Demo Anarkis Prancis: Toko-toko Dijarah, Balai Kota Limoges Hancur
International
Minggu, 18 Oktober 2026 - 09:53 WIB
Prancis Membara! Demonstran Bakar Gedung, Desak Presiden Macron Lengser
International
Minggu, 18 Oktober 2026 - 05:31 WIB