Seorang pembunuh bayaran untuk kartel narkoba JNGC Meksiko saat diwawancarai televisi. Dia mengaku sudah membakar 250 mayat korban. Foto/X@Tg1Rai
MEXICO CITY - Seorang pria pembunuh bayaran yang bekerja untuk
kartel narkoba yang ditakuti di Meksiko mengaku terlibat dalam eksekusi lebih dari 500 orang di sebuah peternakan terpencil. Dari jumlah tersebut, dia mengaku secara pribadi membakar 250 mayat.
Selama 18 bulan terakhir, pria tersebut memberikan informasi kepada sekelompok relawan yang mencari anggota keluarga mereka yang hilang.
Pembunuh bayaran bertopeng itu mengatakan Kartel Generasi Baru Jalisco (Jalisco New Generation Cartel/JNGC) menghilangkan ratusan korban di dalam dan sekitar Rancho Izaguirre, sebuah properti terpencil di Teuchitlán, wilayah administratif di negara bagian Jalisco, Meksiko bagian barat.
"Lebih dari 500 orang dieksekusi di sana," kata algojo bayaran kartel tersebut dalam wawancara yang ditayangkan oleh stasiun televisi publik Italia,
RAI. "Saya secara pribadi membakar 250 orang," ungkapnya, yang dikutip
The New York Post, Minggu (18/10/2026).
Pembunuh bayaran yang identitasnya dirahasiakan itu mengatakan dirinya memperoleh sekitar USD220 atau sekitar Rp3,9 juta (kurs Rp18.050/USD) per pekan untuk melakukan eksekusi bagi Kartel Generasi Baru Jalisco.
"Di dalam kartel, seorang pembunuh bayaran selalu menerima upah yang sama," katanya. "Saya mungkin membunuh lima orang dalam satu hari, tetapi bayaran saya tetap sama. Nyawa manusia tidak dihargai mahal."
Televisi Italia tersebut mengungkapkan bahwa pembunuh bayaran itu telah menjalin kontak dengan Jalisco Search Warriors, sebuah kelompok relawan pencari orang hilang. Dia juga memberi tahu kelompok tersebut mengenai lokasi yang diduga menjadi tempat pemusnahan para korban.
"Mereka tidak akan pernah menemukan mereka," katanya. "Jika mereka terus mencari, mereka mungkin akan menemukan lebih banyak jenazah di kawasan sekitar peternakan itu."
Menurut pemerintah Meksiko, lokasi tersebut telah digunakan oleh kartel narkoba sejak 2021. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menetapkan JNGC sebagai organisasi teroris.
Lokasi tersebut pertama kali ditemukan oleh Garda Nasional Meksiko pada September 2024 dalam sebuah penggerebekan yang berujung pada penangkapan 10 anggota kartel. Dua korban penculikan berhasil diselamatkan dan satu jenazah juga ditemukan. Namun, kantor kejaksaan negara bagian Jalisco saat itu mengecilkan arti temuan tersebut dengan menyebut lokasi itu hanya sebagai tempat pelatihan kartel.
Indira Navarro, pemimpin Jalisco Search Warriors, mengatakan kepada
The New York Post bahwa dirinya pertama kali mengetahui keberadaan Rancho Izaguirre pada Februari 2025. Informasi itu diperolehnya melalui panggilan telepon anonim dari para korban penculikan yang terpikat tawaran pekerjaan, tetapi berhasil melarikan diri, serta dari pembunuh bayaran kartel tersebut.
Kunjungan pada 5 Maret 2025 menjadi pukulan memalukan bagi pemerintah Meksiko. Navarro dan para relawan menemukan ratusan potong pakaian serta pecahan tulang manusia.
Fragmen tulang tersebut diserahkan kepada kantor kejaksaan negara bagian Jalisco. Namun, hingga kini, temuan itu belum berhasil dikaitkan dengan orang hilang tertentu.
Kantor Kejaksaan Agung Federal Meksiko (FGR) kemudian mengambil alih kasus tersebut. Pada Juli 2025, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara masing-masing selama 141 tahun kepada 10 anggota kartel tersebut.
Kejaksaan Federal Meksiko Bantah Pengakuan Pembunuh Bayaran
Pekan ini, kantor kejaksaan federal membantah pengakuan pembunuh bayaran JNGC yang ditayangkan televisi Italia tersebut.
"Terkait sebuah video yang menampilkan seseorang yang diduga anggota kelompok kriminal dan mengaku telah melakukan pembakaran massal terhadap manusia di properti yang dikenal sebagai Rancho Izaguirre, di negara bagian Jalisco, FGR menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar," kata lembaga itu.
FGR menambahkan bahwa pemeriksaan forensik telah dilakukan terhadap 92 persen area lokasi tersebut.
Namun, Navarro membantah penilaian kejaksaan federal. Dia mengatakan informasi dari pembunuh bayaran tersebut telah mengarahkan para relawan ke sejumlah lokasi yang menunjukkan indikasi adanya pembakaran jenazah manusia.
"Dia adalah salah satu saksi yang memberikan informasi kepada kami," kata Navarro, yang mengeklaim bahwa ribuan sisa jasad manusia telah ditemukan.
"Mengapa saya mengingatnya? Karena dia kembali menghubungi kami pada Juni 2026, dan suaranya sangat khas—tidak mungkin salah mengenalinya."
Pembunuh bayaran tersebut juga memberi tahu kelompok relawan agar mendatangi lokasi lain pada April 2025, di wilayah administratif tetangga bernama Ahualulco de Mercado.
Navarro mengatakan banyak jenazah diduga telah dibakar di tempat tersebut dan lebih dari 1.000 fragmen tubuh ditemukan.
"Saat itu, kami menemukan sisa-sisa jasad manusia yang terbakar dalam jumlah sangat besar di sana," katanya.
Navarro mengatakan dirinya belum kembali menjalin komunikasi dengan kantor kejaksaan negara bagian maupun federal sejak wawancara pembunuh bayaran kartel tersebut ditayangkan.
(mas)