Jenderal Iran Tak Gentar dengan 'Ibu Segala Bom' AS: Rudal Kami yang Paksa Amerika Bilang 'Ya, Tuan!'

img-redaksi Muhaimin
Minggu, 18 Oktober 2026 - 05:58 WIB
Jenderal Iran Tak Gentar dengan Ibu Segala Bom AS: Rudal Kami yang Paksa Amerika Bilang Ya, Tuan!
Iran tak gentar dijatuhi bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) yang dijuluki Ibu dari Segala Bom AS. Iran lebih percaya pada kekuatan rudal-rudal mereka sendiri. Foto/Press TV
A
A
A
TEHERAN - Iran tidak gentar dijatuhi bom raksasa GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) yang dijuluki "Ibu dari Segala Bom" Amerika Serikat (AS). Menurut Teheran, rudal-rudal merekalah yang menentukan persamaan strategis dalam konfrontasi.

Hal itu disampaikan Penjabat Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Majid Ebn-e-Reza. Dia berargumen bahwa kekuatan militer Amerika justru menimbulkan kerugian ekonomi, merusak reputasi, dan berdampak negatif pada perhitungan elektoral Washington sendiri.

"Nama dan ukuran bom tidaklah penting! Bom-bom Anda justru akan meledak di tempat lain; yakni pada reputasi global Anda, ekonomi AS, bahkan perhitungan elektoral Anda!" tulis jenderal tersebut di platform X pada hari Sabtu.

"Kekuatan rudal kamilah yang telah mengubah persamaan tersebut dan membawa Anda ke titik di mana Anda kini harus mengatakan, ‘Ya, Tuan!'" lanjut dia, yang dilansir Press TV, Minggu (18/10/2026).

Pernyataan tersebut muncul menyusul laporan CNN yang menyebutkan bahwa militer AS telah menyusun rencana serangan tambahan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran, termasuk kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB).

Mengutip pejabat AS yang mengetahui perencanaan militer, CNN melaporkan bahwa Presiden Donald Trump dapat memerintahkan serangan baru sebelum atau sesudah pemilu sela bulan November.

Namun, Gedung Putih belum mengonfirmasi apakah operasi yang diusulkan tersebut akan benar-benar dilaksanakan.

Sementara itu, CNN melaporkan bahwa Trump dan para penasihatnya tengah menjajaki opsi militer yang dapat memberikan "kemenangan simbolis" sekaligus menawarkan jalan keluar bagi AS.

Di tengah kritik luas terhadap langkah Trump melancarkan agresi terbaru terhadap Iran—bersama dengan rezim Israel—tanpa "strategi keluar" yang matang, CNN menyebutkan bahwa "oposisi domestik" menjadi salah satu faktor yang membebani Washington.

AS melancarkan agresi terhadap Iran pada 28 Februari, namun justru dihadapkan pada setidaknya 100 gelombang serangan balasan Iran yang gigih dan berhasil, yang menyasar target-target strategis dan sensitif milik pihak lawan di seluruh kawasan Teluk.

Trump mengumumkan gencatan senjata sepihak pada 7 April, seiring dengan skala serangan balasan yang terus meningkat.

Sebagai bagian dari tindakan balasan, Republik Islam Iran menutup Selat Hormuz yang strategis, sebuah langkah yang berdampak sangat besar terhadap harga energi global.

Teheran membuka kembali jalur perairan tersebut setelah tercapainya nota kesepahaman dengan Washington pada bulan Juni, namun menutupnya kembali setelah menganggap Amerika melanggar nota kesepahaman tersebut.

Para pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa sejauh ini, Republik Islam Iran baru menunjukkan sebagian kecil dari kekuatan pertahanan dan kemampuan balasannya. Mereka juga menyatakan keyakinan penuh bahwa Iran jauh lebih siap dibandingkan Amerika Serikat dalam menghadapi dampak dari penutupan Selat Hormuz.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
3 Alasan 19 Negara Islam Ini Kecam Pembukaan Kedubes Kolombia di Yerusalem
International
Minggu, 18 Oktober 2026 - 03:30 WIB