Prancis Membara! Demonstran Bakar Gedung, Desak Presiden Macron Lengser

img-redaksi Muhaimin
Minggu, 18 Oktober 2026 - 05:31 WIB
Prancis Membara! Demonstran Bakar Gedung, Desak Presiden Macron Lengser
Massa demonstran membakar gedung kantor pemerintah di Prancis, medesak Presiden Emmanuel Macron segera lengser. Foto/NDTV
A
A
A
PARIS - Demo rusuh telah melanda seluruh negeri di Prancis sejak Sabtu. Ribuan demonstran turun ke jalan mendesak Presiden Emmanuel Macron lengser sebagai protes atas melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan barang kebutuhan pokok lainnya.

Polisi dan demonstran terlibat bentrokan. Asap kebakaran dan gas air mata menyelimuti sejumlah aksi demonstrasi di berbagai wilayah.

Di Paris saja, diperkirakan 110.000 orang turun ke jalan untuk menyuarakan kemarahan mereka terhadap kenaikan inflasi dan tekanan ekonomi. Massa berunjuk rasa di wilayah timur dan utara kota. Mereka mendesak Presiden Macron segera mengundurkan diri. Slogan-slogan "Semua orang membenci polisi" dan "Macron, mundurlah!" nyaring diteriakkan para demonstran.

Di Kota Lyon, sejumlah pemuda bertopeng membakar gedung kantor pariwisata.

Di Kota Marseille, kota terbesar kedua di Prancis, demonstran menerobos masuk ke balai kota. Mereka membalikkan patung dada dan menghancurkan perabotan sebelum akhirnya dipaksa keluar oleh polisi, menurut laporan langsung jurnalis AFP dari lokasi kejadian. Wali Kota Marseille Benoit Payan, menyerukan penambahan personel polisi.

Di Kota Lille, Prancis utara, para demonstran mendobrak masuk ke kantor wali kota dan merusak sejumlah bagian bangunan sebelum meninggalkan lokasi.

Menurut sebuah situs web yang dibuat oleh para penyelenggara aksi demonstrasi, lebih dari 600 demonstrasi direncanakan berlangsung di seluruh Prancis. Pasukan polisi telah menangkap sekitar 400 demonstran.

Berdasarkan pernyataan Kementerian Dalam Negeri Prancis, polisi mengerahkan gas air mata dan meriam air di Paris untuk membubarkan massa di sejumlah lokasi, termasuk Place de la République dan Place de la Nation.

Sejumlah stasiun metro di pusat Paris ditutup. Barikade pengamanan dalam skala besar juga menghalangi akses menuju Champs-Elysees, istana kepresidenan, serta gedung-gedung pemerintahan.

Krisis ini bermula pada pertengahan September 2026, ketika aksi blokade yang melibatkan mahasiswa dan guru terjadi di kawasan pinggiran utara Paris.

Pada awalnya, para demonstran menyuarakan protes terhadap kekurangan guru yang parah, buruknya pemeliharaan infrastruktur sekolah, serta merosotnya standar pendidikan.

Namun, selama tiga pekan terakhir, gerakan tersebut berkembang menjadi krisis nasional yang dipicu oleh keluhan ekonomi yang lebih luas, termasuk tingginya biaya hidup dan kenaikan harga BBM.

Sementara itu, Presiden Macron berjanji bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perusakan fasilitas umum dan penjarahan tempat usaha di sela-sela aksi protes besar-besaran akan dituntut dan dihukum dengan tegas.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyatakan dukungan penuhnya kepada aparat keamanan negara, seraya menyebut peristiwa itu sebagai "kekerasan dengan intensitas ekstrem."

"Saya ingin menyampaikan kepada rakyat Prancis bahwa mereka patut bangga terhadap polisi dan petugas keamanan (gendarme) mereka. Mereka telah menghadapi kekerasan dengan intensitas ekstrem demi melindungi sesama warga negara, dan mereka layak mendapatkan dukungan penuh dari kita semua," kata Lecornu dalam sebuah unggahan di X, Minggu (18/10/2026).

Lecornu menegaskan kembali sikap tegas Presiden Macron, dengan menekankan bahwa siapa pun yang menyasar institusi negara maupun tempat usaha akan menghadapi konsekuensi hukum yang berat.

"Mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administratif atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan—bahkan di balai kota kita—akan dituntut dan dihukum," imbuh Lecornu.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Prancis Membara! Demonstran Bakar Gedung, Desak Presiden Macron Lengser
International
Minggu, 18 Oktober 2026 - 05:31 WIB
Kapal Selam Nuklir Rusia Gelar Latihan Penembakan Rudal Jelajah di Pasifik
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 14:34 WIB