Hizbullah ancam Arab Saudi jangan ulangi kesalahan masa lalu di Yaman. Foto/X
SANAA - Gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon meminta pihak berwenang Arab Saudi untuk memetik pelajaran dari kesalahan masa lalu mereka di Yaman dan tidak mengulanginya. Seruan tersebut diungkapkan di tengah terus berlanjutnya serangan kejam serta blokade tidak manusiawi yang mereka lakukan terhadap negara yang dilanda kemiskinan tersebut.
Ammar al-Moussawi, kepala Departemen Hubungan Arab dan Internasional kelompok tersebut, pada Jumat malam dengan tegas menepis tuduhan Arab Saudi mengenai serangan pesawat nirawak dan rudal dari Yaman yang ditujukan ke kota suci Mekkah dan Madinah. Ia menekankan bahwa klaim tak berdasar semacam itu sengaja dilontarkan untuk memancing emosi umat Muslim.
Ia menambahkan bahwa klaim Riyadh tidak akan mengubah status quo, mengingat Arab Saudi berupaya menghalangi rakyat Yaman untuk memanfaatkan sumber daya alam mereka sendiri dan menggunakan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri.
Moussawi menyarankan para pejabat Arab Saudi untuk memperlakukan rakyat Yaman berdasarkan prinsip bertetangga yang baik, serta menghentikan agresi dan pengepungan terhadap negara tersebut.
"Rakyat Yaman telah menjadi korban perang yang menghancurkan sejak tahun 2015, yang menyasar seluruh infrastruktur sipil. Rezim Saudi telah melancarkan berbagai serangan udara terhadap Yaman," ujar pejabat senior Hizbullah tersebut, dilansir Press TV.
Ia menegaskan, "Solusi untuk krisis Yaman terletak pada dialog dan penghapusan blokade terhadap negara di Semenanjung Arab tersebut. Kami meminta pihak berwenang Arab Saudi untuk belajar dari kegagalan masa lalu dan tidak mengulangi kesalahan mereka. Kerusakan yang ditimbulkan terhadap Yaman, atau negara Muslim lainnya, adalah tindakan yang tercela dan harus segera diakhiri."
Moussawi lebih lanjut menyatakan bahwa pemerintah Yaman yang berbasis di Sana'a siap untuk duduk di meja perundingan dengan Arab Saudi, dengan syarat blokade dicabut, serangan kejam terhadap Yaman dihentikan, dan Arab Saudi tidak mencampuri urusan dalam negeri Yaman.
Ia juga menyoroti upaya Arab Saudi untuk memanfaatkan ketegangan yang tengah memanas guna melegitimasi intervensinya di Yaman, dengan menyajikan narasi palsu mengenai perang tersebut serta mengeklaim bahwa krisis Yaman hanyalah sebuah perang saudara.
Pejabat tinggi Hizbullah tersebut juga memperingatkan semua pihak di kawasan itu mengenai konspirasi AS-Israel. Ia menekankan perlunya menyadari bahwa pengerahan pasukan Amerika dan keberadaan pangkalan militer di seluruh kawasan tersebut tidaklah melindungi negara-negara Teluk Persia, melainkan justru membuat mereka lebih rentan terhadap serangan dan ketegangan.
Pemerintahan di Sana'a mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi pada tanggal 20 Juli, sebagai tindakan balasan atas "kepungan yang tidak adil dan menindas" terhadap Yaman yang telah berlangsung selama hampir 12 tahun.
Militer Yaman melaporkan sejumlah operasi yang berhasil dengan menyasar kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah.
Pada bulan Maret 2015, Arab Saudi beserta sekutunya menerapkan blokade terhadap Yaman dan melancarkan perang berskala besar, dengan dukungan dari Amerika Serikat serta berbagai negara Barat dalam bentuk sumber daya militer, politik, dan logistik.
Perang ini telah mengakibatkan puluhan ribu warga Yaman kehilangan nyawa. Meski demikian, Arab Saudi belum berhasil mencapai tujuannya untuk memulihkan pemerintahan boneka yang sejalan dengan kepentingan mereka.
(ahm)