Korut Uji Coba Sistem Torpedo Baru Berbasis AI, Ini 4 Kecanggihannya

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:06 WIB
Korut Uji Coba Sistem Torpedo Baru Berbasis AI, Ini 4 Kecanggihannya
Korut uji coba sistem torpedo baru berbasis AI. Foto/X/@USNINews
A
A
A
PYONGYANG - Korea Utara (Korut) menguji sistem torpedo berpemandu presisi "jenis baru" yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dan memandu sasaran. Demikian dilaporkan media pemerintah pada Sabtu di tengah langkah negara bersenjata nuklir tersebut yang terus meningkatkan pengujian senjatanya.

Pengumuman ini disampaikan beberapa hari setelah Pyongyang menyatakan telah meluncurkan dua jenis rudal jelajah dari kapal selam, menyusul ketegangan selama berminggu-minggu dengan Seoul akibat ledakan ranjau darat di sepanjang perbatasan kedua negara.

Para analis menyebutkan bahwa Korea Utara mungkin tengah mempercepat pengembangan teknologi rudal dan senjatanya dengan dukungan dari Rusia—dukungan yang diperoleh sebagai imbalan atas pengiriman pasukan Korea Utara untuk membantu perang Rusia melawan Ukraina.

Korut Uji Coba Sistem Torpedo Baru Berbasis AI, Ini 4 Kecanggihannya

1. Sangat Presisi

Uji coba peluncuran bawah air untuk sistem torpedo "berkecepatan super" Zam-2.0 dilakukan pada hari Kamis "untuk mengonfirmasi keberhasilan pembaruan teknis" pada senjata tersebut, lapor Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).

"Teknologi AI diterapkan pada fungsi deteksi sasaran dan pemanduan untuk torpedo berpemandu presisi berkecepatan super jenis baru tersebut," ungkap KCNA. Uji coba tersebut membuktikan "teknologi inti untuk meningkatkan efisiensi propulsi dan kinerja perangkat propulsi roket," ungkap pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa mereka telah merampungkan "lebih dari 180 rangkaian uji coba yang berbeda selama lima tahun terakhir."

2. Tak Bisa Dicegat

Awal bulan ini, Korea Utara mengumumkan peluncuran rudal hipersonik jarak menengah yang dibantu oleh kecerdasan buatan (AI).

Saat itu, Pyongyang menyatakan bahwa rudal hipersonik tersebut "mustahil untuk dihindari" karena "mampu mengubah lintasan terbangnya pada ketinggian rendah."

Torpedo dirancang untuk menghantam target musuh di bawah air dengan kecepatan tinggi. Menurut para analis, penerapan AI—sebagaimana diklaim—dapat memungkinkan torpedo melakukan manuver mengelak serta mengambil keputusan secara otonom untuk mengecoh lawan.

"Korea Selatan dan Amerika Serikat menggunakan sasaran umpan untuk mengalihkan torpedo, namun AI berpotensi membantu membedakan antara target yang sebenarnya dan umpan tersebut," ujar Lim Eul-chul, seorang profesor di Universitas Kyungnam, kepada AFP.

"Mulai dari torpedo hingga senjata yang diluncurkan dari kapal selam, Pyongyang terus mengerahkan sumber daya untuk menunjukkan bahwa aset strategis AS dapat dibuat tidak efektif."

3. Bisa Menang dalam Perlombaan Senjata

Pada bulan September, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menekankan perlunya meningkatkan "tingkat kecerdasan buatan" dalam sistem persenjataan negara tersebut.

Pengumuman pada hari Sabtu ini muncul di tengah situasi di mana kedua Korea tampak semakin gencar dalam perlombaan senjata yang melibatkan rudal hipersonik.

Rudal hipersonik melesat dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara dan mampu bermanuver saat terbang, sehingga jauh lebih sulit untuk dilacak maupun dicegat.

Beberapa hari setelah Korea Utara mengumumkan uji coba rudal hipersonik jarak menengah berbasis AI, Seoul turut menguji senjatanya sendiri—sebuah wahana luncur hipersonik yang disebut sebagai "aset strategis kunci yang mampu mengubah jalannya pertempuran."

Pekan ini, Korea Utara melontarkan keraguan terhadap uji coba Seoul, dengan menyatakan bahwa uji coba tersebut mungkin "gagal mencapai penerbangan hipersonik"—sebuah klaim yang dibantah oleh Korea Selatan sehari kemudian.

Serangkaian uji coba senjata terbaru ini terjadi di tengah spekulasi yang berkembang mengenai kemungkinan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, seiring dengan persiapan para pemimpin dunia untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Tiongkok pada bulan November mendatang. Setelah beberapa upaya pendekatan tidak mendapat tanggapan dari Pyongyang, Trump kembali menyatakan minggu ini bahwa ia "mungkin" akan bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim, dalam kunjungannya ke Asia bulan depan.

Menjelang kemungkinan diadakannya pertemuan puncak antara Korea Utara dan Amerika Serikat, Pyongyang tampaknya "berupaya mengecilkan arti program rudal hipersonik Korea Selatan, dengan tujuan menunjukkan bahwa mereka lebih unggul daripada Seoul—sekutu Washington—dalam perlombaan senjata," ujar Yang Moo-jin, mantan rektor University of North Korean Studies di Seoul, kepada AFP.

4. Terus Dikembangkan

Namun, menurutnya, Korea Utara mungkin memerlukan lebih banyak waktu untuk menyempurnakan sistem torpedo mereka, khususnya dalam upaya mengurangi kebisingan yang dihasilkan saat berada di bawah air.

"Saat melaju dengan kecepatan tinggi di bawah air, torpedo akan menghasilkan kebisingan yang cukup besar, sehingga lebih mudah dideteksi," jelas Yang, dilansir CNA.

"Mengurangi kebisingan tersebut merupakan tantangan teknis yang besar dan memerlukan teknologi canggih—dan tampaknya Korea Utara belum mencapai tingkat tersebut."
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Korut Uji Coba Sistem Torpedo Baru Berbasis AI, Ini 4 Kecanggihannya
International
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:06 WIB
Kapal Induk China Bermanuver di Dekat Okinawa, Jepang Kerahkan Jet Tempur
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 11:31 WIB