Wapres AS Vance Mengaku Berbeda Pendapat dengan Trump terkait Perang Iran

img-redaksi Syarifudin
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB
Wapres AS Vance Mengaku Berbeda Pendapat dengan Trump terkait Perang Iran
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, dalam perbincangan mengenai perang dengan Iran bersama mantan juru bicara Gedung Putih Sean Spicer, mengungkapkan ia sempat memiliki "perbedaan pendapat" dengan Presiden Donald Trump.

"Meskipun Anda tidak sependapat dengannya dalam satu masalah tersebut, perbedaan pendapat itu bisa saja terjadi. Dan menurut saya, saya memang pernah memiliki perbedaan pendapat seperti itu," ujar Vance dalam acara yang ditayangkan pada hari Jumat tersebut.

Vance menyampaikan hal ini saat menanggapi pertanyaan mengenai hubungannya dengan komentator sayap kanan Tucker Carlson, yang dikenal vokal dalam mengkritik perang tersebut. Vance menyebut Carlson merasa "sangat, sangat marah" terkait masalah itu.

"Dia dan saya telah mendiskusikan hal ini, baik secara pribadi maupun di depan umum. Saya tahu bagaimana perasaannya, dan saya memahaminya," katanya.

Menceritakan kembali percakapannya dengan sosok yang pernah menjadi sekutu Trump tersebut, Vance mengatakan ia mendesak Carlson untuk mengakui apa yang ia sebut sebagai pencapaian-pencapaian sang presiden.

"Apa yang saya katakan kepada Tucker adalah jangan sampai kita membuang hal yang berharga hanya karena ada masalah lain yang menyertainya… Bukankah penutupan perbatasan serta penghentian diskriminasi rasial yang tidak masuk akal terhadap kelompok kulit putih dalam penerimaan universitas—bukankah hal-hal ini patut diakui sebagai bukti bahwa Donald Trump telah melakukan banyak kebaikan?" ujar dia.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh angka USD110 per barel untuk pertama kalinya sejak bulan Mei, di tengah kekhawatiran eskalasi ketegangan di Timur Tengah dapat semakin memperketat pasokan.

Pada hari Jumat, harga minyak mentah berjangka Brent ditutup naik USD3,94 atau 3,7 persen menjadi USD109,86—level tertinggi sejak 19 Mei—sementara harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), ditutup naik USD3,44 atau 3,5 persen menjadi USD101,41, yang merupakan level tertinggi sejak 17 September.

Sepanjang pekan ini, harga Brent telah naik 4,9 persen, sementara WTI naik 10,4 persen.

"Harga WTI dan Brent berbalik naik setelah sempat melemah, seiring dengan munculnya kembali kekhawatiran akan eskalasi konflik di tengah rumor adanya serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi," tulis firma riset dan konsultasi Energy Aspects dalam sebuah catatannya.

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Putin Raih Kemenangan Besar! Trump Tangguhkan Sanksi terhadap Rusia
International
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 16:20 WIB
Wapres AS Vance Mengaku Berbeda Pendapat dengan Trump terkait Perang Iran
International
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB
Sebelum Perang Iran, AS Sudah Kekurangan Sistem Pertahanan Rudal hingga 2030
International
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 07:22 WIB