Kisah Abdurrahman bin Auf, Rahasia Keberkahan Hidup Sahabat Nabi yang Kaya Raya

img-redaksi Widaningsih
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 18:13 WIB
Kisah Abdurrahman bin Auf, Rahasia Keberkahan Hidup Sahabat Nabi yang Kaya Raya
Kisah Abdurrahman bin Auf merupakan teladan tentang bagaimana seorang Muslim menyikapi kekayaan, menjaga keimanan, dan menggunakan hartanya untuk membantu perjuangan Islam sehingga hidupnya penuh keberkahan. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah Abdurrahman bin Auf merupakan teladan tentang bagaimana seorang Muslim menyikapi kekayaan, menjaga keimanan, dan menggunakan hartanya untuk membantu perjuangan Islam. Sahabat Rasulullah Muhammad ﷺ ini dikenal sebagai saudagar sukses yang memiliki kekayaan melimpah, tetapi tetap rendah hati dan dermawan.

Bagi Abdurrahman bin Auf, kekayaan bukanlah tujuan akhir kehidupan. Harta merupakan amanahyang dapat digunakan untuk beribadah, membantu sesama, dan mendukung kepentingan umat.

Perjalanan hidupnya juga mengajarkan bahwa menjadi kaya bukanlah sesuatu yang tercela dalam Islam. Hal terpenting adalah bagaimana seseorang memperoleh dan membelanjakan hartanya, serta apakah kekayaan tersebut membuatnya semakin dekat kepada Allah SWT atau justru melalaikannya.

Kisah Hijrah Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf termasuk golongan sahabat yang memeluk Islam pada masa awal dakwah Rasulullah ﷺ. Keimanannya tetap teguh meskipun kaum Muslimin ketika itu menghadapi tekanan dan berbagai kesulitan dari kaum Quraisy.

Ketika Rasulullah ﷺ dan para sahabat berhijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf turut meninggalkan Makkah demi mempertahankan keimanannya. Hijrah tersebut membuat kaum Muhajirin harus memulai kehidupan baru di tempat yang berbeda, termasuk membangun kembali kehidupan ekonomi mereka.

Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, penduduk Madinah yang menyambut dan membantu saudara-saudara Muslim mereka.

Dalam peristiwa tersebut, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi', seorang sahabat Anshar yang dikenal memiliki harta berlimpah.

Sa'ad menawarkan bantuan kepada Abdurrahman, termasuk membagi hartanya untuk meringankan kehidupan saudaranya yang baru berhijrah. Namun, Abdurrahman bin Auf memilih jalan yang berbeda.

Ia tidak ingin hanya bergantung pada pemberian orang lain. Dengan penuh keyakinan, ia meminta ditunjukkan tempat untuk berdagang.

Dalam riwayat yang tercantum dalam Sahih Al-Bukhari, Anas bin Malik menceritakan bahwa Abdurrahman bin Auf kemudian pergi ke pasar dan melakukan aktivitas perdagangan. Ia memulai usaha dengan kemampuan yang dimilikinya hingga akhirnya memperoleh penghasilan dan membangun kembali kekayaannya.

Kisah ini memperlihatkan kebesaran hati kedua sahabat tersebut. Sa'ad bin Rabi' menunjukkan ketulusan dalam menolong saudaranya, sedangkan Abdurrahman bin Auf memperlihatkan semangat bekerja, kemandirian, dan kesungguhan untuk berusaha.

Hikmahnya, Islam mengajarkan umatnya untuk saling membantu sekaligus tetap berikhtiar. Menerima pertolongan ketika membutuhkan bukanlah sesuatu yang memalukan, tetapi berusaha mandiri sesuai kemampuan juga merupakan sikap terpuji.

Saudagar Kaya yang Dermawan

Keberhasilan Abdurrahman bin Auf dalam perdagangan tidak membuatnya melupakan perjuangan Islam. Sebaliknya, kekayaan yang dimilikinya menjadi sarana untuk membantu kaum Muslimin.

Ia dikenal sebagai salah seorang sahabat yang banyak menginfakkan hartanya untuk kepentingan umat. Ketika kaum Muslimin membutuhkan dukungan, Abdurrahman bin Auf tidak segan mengeluarkan kekayaannya.

Salah satu peristiwa yang sering dikaitkan dengan kedermawanannya adalah persiapan Perang Tabuk. Pada masa itu, Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk memberikan dukungan bagi ekspedisi yang membutuhkan biaya dan perlengkapan besar.

Abdurrahman bin Auf termasuk sahabat yang berkontribusi dalam pengadaan kebutuhan pasukan. Kedermawanannya menjadi gambaran bagaimana harta dapat digunakan untuk mendukung perjuangan di jalan Allah.

Namun, nilai penting dari kisahnya bukan sekadar besarnya jumlah kekayaan atau sumbangan yang diberikan. Lebih dari itu, Abdurrahman bin Auf menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan finansial dapat menjadikan hartanya sebagai jalan untuk memperluas manfaat bagi orang lain.

Ia tidak memandang kekayaan hanya sebagai milik pribadi yang harus ditumpuk. Kekayaan juga memiliki dimensi sosial, yakni membantu mereka yang membutuhkan dan mendukung kebaikan bersama.

Tidak Silau oleh Kekayaan Dunia

Salah satu pelajaran penting dari kehidupan Abdurrahman bin Auf adalah kemampuannya menempatkan harta pada posisi yang tepat.

Ia merupakan saudagar sukses, tetapi kekayaan tidak menjadikannya meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang Muslim. Ia tetap dikenal sebagai sahabat yang berkontribusi bagi umat dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan kaum Muslimin.

Dalam Islam, harta pada dasarnya merupakan nikmat sekaligus amanah. Seseorang diperbolehkan mencari kekayaan melalui cara yang halal, tetapi ia juga memiliki tanggung jawab untuk menunaikan kewajiban dan menghindari penggunaan harta untuk hal-hal yang dilarang.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا


Artinya: "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (QS Al-Qasas: 77).

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Seorang Muslim diperbolehkan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dunia, tetapi tidak boleh melupakan tujuan akhirat.

Kisah Abdurrahman bin Auf menjadi contoh bagaimana prinsip tersebut dapat diterapkan. Ia bekerja dan berdagang untuk memperoleh kekayaan, kemudian menggunakan sebagian hartanya untuk mendukung perjuangan Islam dan membantu sesama.

Pelajaran dari Kisah

Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan hidup sahabat Rasulullah ﷺ ini.

Pertama, bekerja keras dan mandiri. Setelah berhijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf tidak menyerah pada keadaan. Ia memanfaatkan keterampilan berdagang untuk membangun kembali kehidupannya.

Kedua, kekayaan bukanlah tujuan akhir. Harta dapat menjadi sarana kebaikan apabila diperoleh secara halal dan digunakan untuk kepentingan yang diridai Allah SWT.

Ketiga, menolong sesama merupakan kemuliaan. Sikap Sa'ad bin Rabi' yang bersedia berbagi dengan Abdurrahman bin Auf juga menjadi teladan tentang persaudaraan dan kepedulian sosial dalam Islam.

Keempat, tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan. Kekayaan dan kesuksesan semestinya tidak membuat seseorang sombong atau melupakan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Kelima, menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Seorang Muslim dapat bekerja, membangun usaha, dan meraih kesuksesan, sembari tetap menjaga ibadah serta menjalankan tanggung jawab sosial.

Kekayaan yang Membawa Manfaat

Kisah Abdurrahman bin Auf mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seorang Muslim tidak semata-mata terletak pada banyaknya harta yang dimiliki. Yang lebih penting adalah bagaimana kekayaan tersebut diperoleh, dikelola, dan dimanfaatkan.

Dari seorang sahabat yang memulai kembali kehidupan ekonominya setelah hijrah hingga menjadi saudagar yang dermawan, perjalanan Abdurrahman bin Auf memberikan pelajaran tentang kerja keras, kemandirian, keimanan, dan kepedulian terhadap sesama.

Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa kekayaan tidak harus menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Sebaliknya, apabila dikelola dengan benar, harta dapat menjadi sarana untuk memperbanyak amal saleh dan membantu orang lain.

Hikmah yang dapat dipetik: jangan hanya berusaha menjadi kaya, tetapi berusahalah agar kekayaan yang dimiliki membawa manfaat, menjadi jalan kebaikan, dan bernilai sebagai bekal akhirat.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
7 Tanda Keberkahan Hidup Mulai Hilang, Saatnya Introspeksi Diri
Kalam
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:45 WIB
4 Bentuk Dosa Jariyah di Medsos yang Wajib Diwaspadai
Kalam
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 14:40 WIB