Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Foto/anadolu
BEIJING - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mendesak Israel menghentikan "pembentukan paksa" permukiman di Tepi Barat yang diduduki. Dia menyerukan pembukaan kembali akses penuh ke Jalur Gaza.
Beijing berpendapat masalah Palestina merupakan "ketidakadilan sejarah terbesar abad ini" dan solusi dua negara adalah jalan yang tepat untuk menyelesaikannya.
Hal ini disampaikan Wang kepada Presiden Israel, Isaac Herzog, dalam pertemuan di Baku, Azerbaijan, di sela-sela KTT CICA ketujuh.
Ia menggambarkan situasi regional saat ini sebagai situasi yang tegang, seraya menambahkan perdamaian dan ketenangan masih jauh dari tercapai.
Menteri Luar Negeri China tersebut menyatakan prioritas mendesak saat ini adalah membuka kembali akses penuh ke Gaza guna mencegah dua juta penduduknya menghadapi bencana kemanusiaan yang lebih parah. Ia juga meminta Israel menghentikan dan membatalkan perluasan permukiman di Tepi Barat.
Wang menambahkan Beijing bersedia bekerja sama dengan Israel untuk memajukan kerja sama bilateral dan memperkuat dukungan publik terhadap hubungan kedua negara.
Ia mencatat tahun 2027 akan menandai peringatan 35 tahun hubungan diplomatik serta peringatan 10 tahun pembentukan kemitraan komprehensif yang inovatif antara kedua pihak.
Wang menegaskan masalah Palestina merupakan akar dari konflik di Timur Tengah, seraya menambahkan baik rakyat Israel maupun Palestina memiliki hak untuk hidup damai dan mendirikan negara yang merdeka.
Menurutnya, China meyakini komitmen berkelanjutan terhadap perdamaian dan kepatuhan pada "arah yang tepat" melalui solusi dua negara pada akhirnya akan menghadirkan perdamaian yang telah lama dinantikan oleh banyak orang.
Dalam pertemuan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, pada hari Kamis, Wang menyatakan China "dengan tegas" mendukung perjuangan rakyat Palestina yang "adil demi memulihkan hak-hak nasional mereka yang sah."
Ia menegaskan selama masalah Palestina belum "diselesaikan secara adil, perdamaian dan stabilitas yang langgeng tidak akan dapat tercapai di Timur Tengah."
"Masalah Palestina tidak boleh dikesampingkan, dan dunia tidak boleh melupakan dua juta rakyat Palestina di Gaza yang sedang berjuang di ambang kematian. Keadilan mungkin tertunda, tetapi tidak akan pernah hilang," ujar Wang.
Ia menambahkan China akan "terus berdiri di pihak keadilan internasional, tetap berada di pihak bangsa-bangsa yang tertindas, serta terus menyuarakan perjuangan adil Palestina di berbagai forum multilateral."
Menurut kementerian tersebut, sejak Oktober 2023, serangan militer Israel di Gaza—yang didukung oleh Amerika Serikat—telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang lainnya. Serangan ini juga telah menghancurkan 90% infrastruktur di Gaza.
Sejak saat itu, serangan oleh pasukan Israel dan pihak pendudukan terhadap warga Palestina beserta properti mereka di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki—termasuk Yerusalem Timur—juga semakin meningkat.
(sya)