Israel Rebut Paksa 18% Wilayah Tepi Barat dalam 2 Tahun Terakhir

img-redaksi Syarifudin
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 19:26 WIB
Israel Rebut Paksa 18% Wilayah Tepi Barat dalam 2 Tahun Terakhir
Masjid dibakar penjajah Israel di Tepi Barat. Foto/al jazeera
A
A
A
TEPI BARAT - Israel mengambil alih kendali atas sekitar 18 persen wilayah Tepi Barat yang diduduki dalam kurun waktu dua tahun. Data itu menurut Biro Pusat Statistik Palestina yang dikutip Quds News Network pada hari Kamis (15/10/2026).

Laporan tersebut juga menyebutkan pendirian 185 pos permukiman pastoral, yang berperan dalam memperluas kendali Israel atas lahan pertanian dan area terbuka milik Palestina, terutama di sekitar komunitas pedesaan dan masyarakat Badui.

Pos-pos ini bermula dari kehadiran fisik dalam skala kecil, sebelum para pemukim memperluas kendali mereka atas lahan di sekitarnya melalui kegiatan penggembalaan ternak serta penerapan pembatasan yang menghalangi pemilik lahan asal Palestina untuk mengakses atau menggarap properti mereka.

Menurut laporan tersebut, ekspansi ini disertai dengan berbagai serangan dan pelecehan terhadap para petani serta penggembala Palestina.

Dampaknya tidak hanya sebatas perampasan lahan, tetapi juga hilangnya mata pencaharian, pembatasan dalam beternak, serta tekanan terhadap komunitas setempat untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Pembangunan jalan khusus permukiman, pembatasan pergerakan, dan pelarangan akses ke area pertanian semakin memecah belah Tepi Barat serta menghambat akses warga Palestina terhadap sumber daya alam.

Penggerebekan di Salfit



Pasukan penjajah Israel melancarkan penggerebekan besar-besaran di Salfit mulai Rabu malam hingga Kamis pagi, dengan memasuki fasilitas medis, lembaga resmi, dan rumah-rumah warga Palestina.

Menurut Quds News Network, operasi ini menyusul insiden pada Rabu sore, di mana seorang petugas keamanan di permukiman ilegal Ariel terluka setelah tertabrak kendaraan milik warga Palestina.

Petugas tersebut sempat melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang kemudian melarikan diri dari lokasi kejadian. Pasukan pendudukan Israel lantas mengerahkan bala bantuan dan mulai melakukan penyisiran di Salfit serta wilayah sekitarnya.

Selama operasi berlangsung, pasukan Israel menggerebek Rumah Sakit Yasser Arafat dan kantor pusat Bulan Sabit Merah Palestina.

Mereka menyita rekaman kamera pengawas dari kantor pusat Bulan Sabit Merah dan mengancam pihak administrasi rumah sakit dengan tembakan senjata api jika tidak menyerahkan rekaman yang mereka miliki, demikian menurut laporan tersebut.

Pasukan pendudukan sempat mundur ke pintu masuk rumah sakit sebelum kembali memasuki fasilitas tersebut pada hari yang sama.

Pasukan penjajah juga menggerebek kantor Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan, mengacak-acak isinya, merobek foto serta dokumen, dan melakukan interogasi di tempat terhadap para pegawai.

Penggerebekan juga meluas hingga ke Rafat, di sebelah barat Salfit, di mana tentara menggeledah rumah-rumah warga dan melakukan kekerasan terhadap penduduk setempat.

Meskipun pasukan telah ditarik dari Salfit pada Kamis pagi, berbagai pembatasan tetap diberlakukan. Penghalang tanah menutup jalan al-Matwi, sementara satu gerbang besi menutup pintu masuk bagian utara kota, sehingga menghambat lalu lintas keluar-masuk kota tersebut.

Pos Permukiman Baru



Sementara itu, pada hari Kamis, para pemukim ilegal mulai mendirikan pos permukiman pastoral baru di Wadi Yasuf, sebelah timur Salfit, dengan memasang tenda-tenda dan karavan.

Kepala dewan desa Yasuf, Jumaa Abd al-Fattah, memperingatkan pos tersebut secara langsung mengancam lahan pertanian dan mata pencaharian penduduk.

Ia mengatakan keberadaan pos tersebut akan membatasi akses petani ke lahan mereka, menghalangi penggembalaan ternak, serta menghambat akses terhadap air dan sumber daya alam lainnya.

Menurut QNN, desa Yasuf telah menghadapi tekanan dari permukiman ilegal di dekatnya, yaitu Kfar Tapuach dan Rehelim, ditambah dengan pos-pos permukiman pastoral yang didirikan di sekitar desa tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai serangan yang terjadi mencakup penebangan dan pembakaran pohon zaitun yang telah berusia lama, pembatasan akses petani ke lahan mereka yang hanya diizinkan dalam periode singkat setiap tahunnya, serta serangan berulang terhadap rumah-rumah penduduk di pinggiran desa.

Pos permukiman baru ini merupakan bagian dari perluasan permukiman yang terus berlanjut di wilayah kegubernuran Salfit, di mana rencana untuk memperbesar blok permukiman Ariel mengancam kesinambungan geografis antara wilayah Tepi Barat bagian utara dan tengah.

Laporan tersebut menyebutkan jalan-jalan khusus permukiman, tembok pemisah, dan pos-pos permukiman pastoral semakin mengisolasi desa-desa Palestina serta membuat lebih banyak lahan pertanian dan kebun zaitun terancam disita.

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Arab Saudi Senang Dewan Keamanan PBB Kecam Serangan Houthi
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 22:36 WIB
Israel Kemungkinan Tidak akan Menyerang Iran sebelum Pemilu
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 22:04 WIB
Hizbullah Akui sebagai Pemilik Bahan Peledak yang Disita Otoritas Lebanon
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 20:31 WIB
Israel Rebut Paksa 18% Wilayah Tepi Barat dalam 2 Tahun Terakhir
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 19:26 WIB
Kemampuan Pertahanan Udara Iran Kini Lebih Tinggi Dibandingkan Bulan Februari
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 18:28 WIB