Keluarga-keluarga Yaman yang mengungsi akibat perang di Aden, Yaman, pada 12 Oktober 2026. Foto/Abdulnasser Alseddik/Anadolu Agency
SANAA - Lebih dari 230.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran di Yaman sejak Agustus. Data itu diungkap wakil juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Farhan Haq pada hari Kamis (15/10/2026).
Haq menyampaikan kepada para wartawan bahwa pertempuran antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui Arab Saudi terus memaksa penduduk meninggalkan rumah mereka serta memberikan tekanan tambahan terhadap operasi kemanusiaan.
Hal ini merujuk pada peringatan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
"Rekan-rekan kami di Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan lebih dari 230.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran sejak awal Agustus," kata Haq.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, mitra kemanusiaan telah menjangkau lebih dari 152.000 orang dengan bantuan darurat, tambahnya.
"Kami kembali menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional, melindungi warga sipil serta infrastruktur sipil, dan mengizinkan akses kemanusiaan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan—termasuk menjamin jalur aman bagi pasokan, pasien, ambulans, dan tim medis," tegasnya.
Yaman telah dilanda konflik sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan beberapa provinsi pada tahun 2014. Peristiwa ini memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Eskalasi saat ini dimulai pada bulan Juli, setelah periode yang relatif tenang menyusul gencatan senjata yang ditengahi oleh PBB dan mulai berlaku pada April 2022.
(sya)