Media Asing Ramai Soroti Langit Oranye Indonesia akibat Karhutla, 'Ekspor' Asap ke Negara Tetangga

img-redaksi Muhaimin
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 14:21 WIB
Media Asing Ramai Soroti Langit Oranye Indonesia akibat Karhutla, Ekspor Asap ke Negara Tetangga
Parahnya kebakaran hutan dan lahan telah mengubah warna langit di sejumlah kota di Indonesia menjadi oranye. Foto/Screengrab video Sky News
A
A
A
JAKARTA - Fenomena langit berwarna kuning hingga oranye di sejumlah wilayah Indonesia menjadi sorotan media internasional. Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat pemandangan di sejumlah kota tampak tidak biasa, sekaligus memperburuk kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Media Inggris Sky News, surat kabar Jepang The Japan Times, dan media Eropa Euronews menyoroti fenomena tersebut dalam laporan yang diterbitkan pada Kamis (15/10/2026). Reuters juga mendistribusikan rekaman video yang memperlihatkan langit berwarna kuning-oranye di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Dalam laporannya berjudul "Eerie Orange Smog Shrouds Indonesian Cities", Sky News menggambarkan kabut asap berwarna oranye yang menyelimuti sejumlah kota di Indonesia. Media tersebut menyebut kondisi pencemaran udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan telah jauh melampaui ambang batas berbahaya.

Sky Newsmelaporkan bahwa kualitas udara di Kabupaten Katingan dan Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah, pada Kamis berada pada tingkat yang beberapa kali lebih tinggi daripada ambang batas berbahaya.

Warga Palangka Raya, Adinata (46), menggambarkan perubahan warna langit tersebut kepada Sky News. "Langit kemarin sangat kuning," ujarnya.

Dia mengatakan kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat berkurang secara signifikan. Warga berharap hujan segera turun untuk membantu mengatasi kabut asap.

Euronews turut menyoroti fenomena tersebut melalui laporan video berjudul "Indonesia's Skies Turn Apocalyptic Orange as Smoke Blankets Singapore".

Media itu melaporkan bahwa asap tebal dari kebakaran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan mengubah warna langit Palangka Raya menjadi kuning dan oranye pada Kamis.

Jarak pandang di kota tersebut dilaporkan menyusut hingga hanya beberapa puluh meter. Rekaman udara memperlihatkan sejumlah kawasan kota hampir tidak terlihat di balik kabut asap tebal. Bundaran Talawang dan patung di dekatnya pun tampak samar.

Euronewskemudian menyoroti dampak lintas negara dari kebakaran tersebut. Asap dari Indonesia telah menyebar ke Singapura dan Malaysia, serta memengaruhi kualitas udara di sejumlah bagian Asia Tenggara lainnya.

Di Singapura, gedung ikonik Marina Bay Sands bahkan hampir tidak terlihat akibat tebalnya kabut asap yang menyelimuti cakrawala kota.

Sementara itu, The Japan Times menerbitkan laporan berjudul "Haze Turns Indonesia Skies Orange, Shuts Schools in East Timor". Media Jepang tersebut menyoroti langit Palangka Raya yang berubah menjadi kuning dan oranye, disertai penurunan jarak pandang hingga hanya puluhan meter.

Laporan itu menghubungkan krisis asap di Indonesia dengan penutupan sekolah selama tiga hari di Timor-Leste akibat pencemaran udara.

Reuters dalam laporan penjelas berjudul "Why Is the Haze So Bad in Southeast Asia This Year?" pada Kamis menyebut kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan di Indonesia telah meningkatkan kasus gangguan pernapasan dan menyelimuti beberapa negara Asia Tenggara dengan kabut asap berbahaya.

Menurut Reuters, sumber utama kabut asap tersebut adalah kebakaran hutan dan lahan gambut, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Kedua wilayah itu memiliki kawasan hutan luas dan lahan gambut yang rentan terbakar selama musim kemarau, yang biasanya berlangsung dari April hingga Oktober.

Kondisi cuaca kering dan panas yang berkaitan dengan fenomena El Nino turut memperburuk situasi. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menyebar dan kebakaran lebih sulit dikendalikan.

Reuters mengutip data kelompok lingkungan Auriga yang memperkirakan lebih dari 637.000 hektare lahan terdampak kebakaran selama Januari hingga Agustus 2026. Sementara itu, pemantau deforestasi Nusantara Atlas memperkirakan luas lahan terdampak mendekati 900.000 hektare.

Kedua angka tersebut merupakan perkiraan dari lembaga pemantau, bukan angka resmi pemerintah yang telah diperbarui untuk periode yang sama.

Reuters melaporkan bahwa emisi kebakaran Indonesia selama periode tertentu telah menyumbang hampir separuh total emisi kebakaran global dalam tujuh hari terakhir yang dianalisis, berdasarkan data Fire Emissions Watch, platform pemantauan yang dikembangkan melalui layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa.

Dampak kabut asap tidak hanya terlihat dari perubahan warna langit dan menurunnya jarak pandang. Krisis tersebut juga menimbulkan persoalan kesehatan masyarakat.

Menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia, jumlah kasus gangguan pernapasan yang dikaitkan dengan kebakaran meningkat menjadi 283.270 kasus di tujuh provinsi hingga 13 Oktober 2026. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan 113.336 kasus yang tercatat pada 9 September.

Kabut asap juga mengganggu kegiatan pendidikan dan transportasi. Reuters melaporkan sejumlah sekolah di Indonesia, Timor-Leste, dan beberapa negara bagian Malaysia terpaksa ditutup. Hampir 2.000 penerbangan di Indonesia juga terdampak dalam periode 11 Agustus hingga 12 Oktober.

Mengapa Langit Bisa Berubah Menjadi Oranye?



Warna langit yang tampak kuning atau oranye dalam peristiwa ini berkaitan dengan kabut asap pekat yang mengandung partikel hasil pembakaran. Partikel tersebut menghamburkan dan menyerap cahaya, sehingga mengubah tampilan langit dan mengurangi jarak pandang.

Fenomena itu tidak berarti atmosfer Indonesia secara keseluruhan berubah warna. Pemberitaan media internasional secara khusus menyoroti wilayah yang tertutup asap tebal, terutama Palangka Raya dan sejumlah kawasan di Sumatera serta Kalimantan.

Kebakaran lahan gambut menjadi salah satu faktor penting karena api dapat membara di bawah permukaan tanah dan kembali muncul meskipun bagian atasnya tampak telah padam. Kebakaran gambut juga menghasilkan asap pekat yang sulit dikendalikan.

Selain kondisi cuaca, pembukaan lahan dengan cara membakar turut menjadi perhatian. Reuters menyebut perluasan lahan untuk pertanian dan perkebunan, termasuk kelapa sawit, dapat meningkatkan risiko kebakaran ketika pengeringan lahan dan deforestasi membuat kawasan gambut semakin rentan terbakar.

Di tengah kritik terhadap penanganan karhutla, pemerintah Indonesia telah mengerahkan lebih dari 60.000 personel untuk memadamkan kebakaran. Sekitar 50 pesawat juga digunakan dalam operasi pengeboman air dan modifikasi cuaca.

Namun, otoritas Indonesia menyatakan situasi baru dapat dikendalikan secara lebih menyeluruh apabila hujan turun secara berkelanjutan. Musim kemarau tahun ini berlangsung lebih lama daripada biasanya, sementara prakiraan cuaca memperkirakan datangnya hujan tertunda hingga November.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Kapal Induk China Bermanuver di Dekat Okinawa, Jepang Kerahkan Jet Tempur
International
Jum'at, 16 Oktober 2026 - 11:31 WIB
Korea Utara Curiga AS Bantu Militer Jepang Bangun Senjata Nuklir
International
Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:21 WIB
Umat Islam di Kashmir Tolak Usulan Khotbah Jumat Seragam di Seluruh Masjid
International
Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:47 WIB