Ada perbuatan yang dampak buruknya terus berlanjut dan menyebabkan seseorang menanggung dosa setelah kematiannya yang disebut dosa jariyah. Dosa ini juga berlaku pada perbuatan kita di medsos terutama tentang unggahan yang kita upload. Foto ilustrasi/ist
Media sosial (Medsos) tidak hanya menjadi tempat berbagi informasi dan hiburan, tetapi juga bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir meski seseorang telah meninggal dunia. Unggahan foto, video, komentar, hingga berita yang disebarkan tanpa pertimbangan dapat meninggalkan dampak panjang bagi orang lain.
Dalam Islam, umat Muslim mengenal amal jariyah, yakni amal yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggal dunia. Namun, ada pula perbuatan yang dampak buruknya terus berlanjut dan menyebabkan seseorang menanggung dosa setelah kematiannya. Fenomena ini kerap disebut sebagai
dosa jariyah.
Di era digital, persoalan tersebut menjadi semakin relevan. Sebuah konten yang diunggah hanya dalam hitungan detik bisa disimpan, dibagikan ulang, dan ditonton berkali-kali oleh banyak orang. Jika konten itu mengajak kepada keburukan, penyebarannya berpotensi menimbulkan dosa selama dampak buruknya terus berlangsung.
Karena itu, setiap Muslim perlu berhati-hati ketika menggunakan media sosial. Jangan sampai sesuatu yang dianggap sekadar hiburan atau candaan justru menjadi sebab tersebarnya kemaksiatan, fitnah, dan kerugian bagi orang lain.
Dalil tentang Dosa yang Terus Mengalir
Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang bahaya mengajak orang lain kepada kesesatan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, beliau bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Artinya: "Barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR Muslim)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa seseorang dapat menanggung dosa karena menjadi sebab orang lain mengikuti keburukan. Orang yang melakukan perbuatan itu tetap bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, sedangkan pihak yang mengajak atau menyesatkan juga menanggung dosa sesuai perbuatannya.
Dalam konteks media sosial, sebuah unggahan dapat menjadi sarana mengajak orang lain melakukan kebaikan maupun keburukan. Konten yang mengandung penipuan, fitnah, penghinaan, atau ajakan kepada kemaksiatan bisa menyebar jauh melampaui jangkauan awal pengunggahnya.
Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya mempertimbangkan jumlah penonton atau respons yang diperoleh, tetapi juga manfaat dan dampak dari konten yang dibagikan.
Bentuk-Bentuk Dosa Jariyah di Media Sosial
Ada sejumlah perilaku di dunia digital yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan dampak buruk berkepanjangan.
1. Menyebarkan konten yang mengajak kepada kemaksiatan
Konten yang secara nyata mempromosikan perbuatan terlarang atau mendorong orang lain melakukan keburukan dapat menjadi sarana penyebaran maksiat. Apabila seseorang sengaja mengajak orang lain kepada perbuatan dosa, ia perlu menyadari tanggung jawab atas pengaruh yang ditimbulkannya.
Namun, penilaian terhadap suatu konten perlu memperhatikan isi dan konteksnya. Tidak setiap konten hiburan otomatis termasuk maksiat.
2. Menyebarkan hoaks dan fitnah
Berita palsu, tuduhan tanpa bukti, serta informasi yang merusak nama baik orang lain dapat menimbulkan kerugian besar. Lebih berbahaya lagi apabila informasi tersebut dibagikan berulang kali sehingga semakin banyak orang mempercayainya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS Al-Hujurat: 6, petikan ayat)
Ayat ini mengajarkan pentingnya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil sikap. Prinsip tersebut juga berlaku ketika menerima dan membagikan berita di media sosial.
3. Mengajak orang lain melakukan keburukan
Konten yang mendorong tindakan berbahaya, merendahkan nilai-nilai kebaikan, atau mengajak orang melakukan pelanggaran dapat memengaruhi perilaku orang lain.
Karena itu, pengguna media sosial perlu memikirkan kemungkinan dampak konten yang dibuat. Jangan sampai demi popularitas atau mengejar jumlah penonton, seseorang justru mempromosikan perilaku yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
4. Menghina, melakukan perundungan, dan menyebarkan kebencian
Dosa tidak hanya berkaitan dengan video atau foto yang diunggah. Komentar yang menghina, mempermalukan, melakukan perundungan, atau memprovokasi kebencian juga dapat menyakiti orang lain.
Komentar yang awalnya dianggap candaan bisa menyebar dan ditiru pengguna lain. Jika menimbulkan kerugian, perbuatan tersebut bukan lagi sekadar persoalan etika bermedia sosial, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab moral dan agama.
Mengapa Dosa Jariyah Medsos Perlu Diwaspadai?
Ada beberapa hal yang membuat dampak buruk di dunia digital sulit dikendalikan.
Pertama, jejak digital sulit dihapus sepenuhnya. Konten yang sudah diunggah mungkin telah disimpan, direkam, atau dibagikan kembali oleh pengguna lain. Menghapus unggahan asli tidak selalu berarti seluruh salinannya ikut hilang.
Kedua, jangkauan media sosial sangat luas. Satu unggahan dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Jika isinya menyesatkan atau merugikan, dampaknya bisa meluas jauh dari lingkungan awal pengunggah.
Ketiga, dampaknya dapat berlangsung setelah pelaku meninggal dunia. Selama konten masih diakses dan menjadi sebab orang lain melakukan keburukan, dampak perbuatan tersebut berpotensi terus berlangsung. Meski demikian, perhitungan dosa dan pertanggungjawaban setiap orang sepenuhnya berada dalam keadilan Allah SWT.
Karena itu, umat Islam hendaknya tidak meremehkan aktivitas di dunia maya. Apa yang terlihat sederhana di layar ponsel dapat membawa konsekuensi bagi kehidupan orang lain.
Cara Menghindari Dosa Jariyah di Media Sosial
Agar media sosial tidak menjadi sumber dosa yang berkepanjangan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Berpikir sebelum mengunggah
Periksa apakah konten yang hendak dibagikan benar, bermanfaat, dan tidak merugikan orang lain. Jangan terburu-buru mengunggah sesuatu hanya karena sedang viral.
2. Memanfaatkan media sosial untuk kebaikan
Gunakan media sosial untuk berbagi ilmu, menyampaikan nasihat, mempererat silaturahmi, dan membantu sesama. Dengan cara ini, teknologi dapat menjadi sarana menyebarkan manfaat.
3. Menghapus konten bermasalah dan memperbaiki dampaknya
Jika pernah mengunggah informasi palsu, konten yang merugikan, atau materi yang mendorong keburukan, segera hentikan penyebarannya. Hapus unggahan jika memungkinkan, koreksi informasi yang keliru, dan mintalah maaf kepada pihak yang dirugikan apabila diperlukan.
Menghapus konten saja belum tentu menghentikan seluruh dampaknya. Karena itu, upayakan pula memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkan sejauh mampu dilakukan.
4. Memperbanyak istigfar dan bertobat
Setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan. Jika pernah menyalahgunakan media sosial, jangan berputus asa dari rahmat Allah SWT. Bertobatlah dengan sungguh-sungguh, meninggalkan perbuatan tersebut, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya.
5. Menjaga tulisan dan komentar
Sebelum menulis komentar, pastikan perkataan tidak mengandung penghinaan, fitnah, atau kebencian. Perbedaan pendapat seharusnya disampaikan dengan santun, bukan menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Wallahu a'lam.
(wid)