Kelompok Houthi menyerang kompleks Istana Kepresidenan Al-Maashiq di Kota Aden, Yaman selatan, menggunakan rudal dan drone pada Kamis (15/10/2026). Foto/UGC/BBC
ADEN -
Kelompok Houthi telah menyerang kompleks Istana Kepresidenan Al-Maashiq di Kota Aden, Yaman selatan, menggunakan rudal dan drone pada Kamis. Menurut pemerintah Yaman, serangan ini menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya.
Pada hari yang sama, koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengungkap puluhan upaya serangan Houthi terhadap infrastruktur vital Saudi dalam beberapa pekan terakhir.
Menteri Kesehatan Yaman Qasim Buhaibeh mengatakan korban tewas dan luka-luka dalam serangan di kompleks istana tersebut mencakup petugas keamanan dan pegawai sipil. Sementara itu, Perdana Menteri Yaman dan para anggota kabinet dilaporkan selamat.
Menteri Informasi Yaman Moammar al-Eryani mengonfirmasi keselamatan para pejabat pemerintah tersebut. Sejumlah saksi mata mengatakan kepada
Reuters, Jumat (16/10/2026), bahwa mereka mendengar ledakan keras di sekitar istana.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan pasukannya menyerang lokasi yang disebutnya sebagai markas operasi militer Arab Saudi di Aden. Serangan itu, menurut Saree, merupakan bagian dari kebijakan kelompok tersebut untuk menargetkan bala bantuan Saudi di mana pun berada.
Kantor berita
SABA yang dikelola Houthi menyebut markas tersebut dioperasikan oleh para perwira Saudi dan memiliki gudang persenjataan. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan terhadap Istana Al-Maashiq menjadi yang pertama dalam konflik terbaru antara Houthi yang bersekutu dengan Iran dan Arab Saudi. Istana tersebut merupakan pusat pemerintahan Yaman yang didukung Riyadh dan diakui secara internasional.
Arab Saudi Klaim Bandara Riyadh Diserang 20 Kali
Di tengah meningkatnya pertempuran di Yaman, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan Houthi telah berulang kali menargetkan bandara, pelabuhan, dan fasilitas minyak Saudi menggunakan rudal balistik serta drone.
Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, mengatakan Houthi melancarkan 20 serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sepanjang Oktober ini. Menurut klaim koalisi, serangan-serangan tersebut menewaskan 17 orang dan melukai 333 lainnya.
Bandara King Khalid merupakan salah satu pusat penerbangan internasional utama Arab Saudi.
Koalisi juga menyatakan serangan Houthi terhadap Bandara Abha di barat daya Saudi, dekat perbatasan Yaman, menewaskan tiga orang dan melukai 28 lainnya.
Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangan terbaru terhadap bandara sipil, pesawat, dan infrastruktur penerbangan di Arab Saudi.
Al-Maliki mengatakan Houthi telah memperoleh teknologi militer canggih dengan bantuan aktor-aktor regional. Persenjataan tersebut mencakup rudal balistik, drone, dan kapal cepat yang dilengkapi bahan peledak.
Iran dituduh telah memberikan senjata, pendanaan, dan pelatihan kepada Houthi. Namun, Teheran secara resmi membantah mempersenjatai kelompok tersebut dengan melanggar embargo senjata PBB.
Al-Maliki juga mengatakan koalisi telah menghancurkan 127 fasilitas penyimpanan senjata dan landasan peluncuran di kawasan pegunungan Yaman. Ia mendesak Houthi segera menghentikan operasi yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil.
Sebagai tanggapan, juru bicara militer Houthi kembali memperingatkan bahwa wilayah udara dan bandara Arab Saudi tidak aman. Peringatan itu ditujukan kepada maskapai penerbangan, tetapi tidak mencakup wilayah udara di atas Makkah dan Madinah.
Otoritas Pertahanan Sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan dini sepanjang Kamis mengenai potensi ancaman di Kota Najran dan Jizan serta wilayah sekitarnya. Otoritas kemudian menyatakan ancaman tersebut telah berlalu.
Koalisi pimpinan Saudi juga mengumumkan telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone di Kota Khamis Mushait, Arab Saudi barat daya, serta satu drone lainnya yang diluncurkan menuju wilayah selatan negara itu.
Pertempuran di Yaman Kembali Berkecamuk
Pertempuran antara Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi kembali berlangsung bulan lalu. Lembaga-lembaga bantuan memperingatkan bahwa kondisi kemanusiaan di Yaman memburuk dengan cepat.
Pekan lalu, pasukan pemerintah Yaman melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Dalam operasi tersebut, pasukan pemerintah berhasil merebut kembali sejumlah wilayah di dekat Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting dunia.
Perang Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah mundur ke wilayah selatan. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman. Intervensi tersebut memicu konflik berdarah yang berakhir dalam kebuntuan berkepanjangan.
Gencatan senjata pada 2022 sempat meredakan pertempuran dan bertahan hingga konflik kembali meningkat tahun ini.
Dalam fase awal perang, para pejuang Houthi dan pasukan sekutunya pernah merebut Istana Al-Maashiq selama pertempuran untuk menguasai Aden. Mereka kemudian menarik diri dari lokasi tersebut.
Konflik terbaru ini menjadi bagian dari perang regional yang lebih luas, yang bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026. Dukungan Arab Saudi terhadap pemerintah Yaman dan hubungan Houthi dengan Iran membuat pertempuran di Yaman turut memperluas ketegangan regional.
(mas)