Pejuang Houthi di Yaman. Foto/anadolu
SANAA - Hassan Jouni, mantan brigadir jenderal di tentara Lebanon, mengatakan serangan kelompok Houthi terhadap kantor pusat Aramco di kota Dhahran, Arab Saudi—yang berjarak 1.200 km (745 mil)—menunjukkan semakin jauhnya jangkauan rudal mereka serta kemampuan untuk menyerang jauh ke dalam wilayah Arab Saudi.
Kepada Al Jazeera, Jouni menyatakan meskipun pihak Arab Saudi berhasil mencegat rudal-rudal tersebut, serangan semacam itu tetap menjadi ancaman serius dan langsung terhadap keamanan nasional kerajaan tersebut.
Kementerian Energi Arab Saudi menyampaikan kepada kantor berita SPA bahwa pihak berwenang telah menangani kebakaran yang dipicu serangan terhadap gedung Aramco pada hari Selasa. Tidak ada laporan mengenai korban luka.
Sementara itu, menurut Dewan Pengungsi Norwegia (Norwegian Refugee Council/NRC), lebih dari 200.000 orang di Yaman telah mengungsi dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan meningkatnya pertempuran yang mengganggu pasokan pangan dan bahan bakar.
Alison Bottomley, manajer advokasi di NRC, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Yaman sebenarnya sudah mengalami "salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia" bahkan sebelum eskalasi terbaru ini terjadi.
Ia menjelaskan, pergeseran garis depan pertempuran di Taiz kini mengisolasi warga sipil dan menghalangi masuknya pasokan kebutuhan pokok. Beberapa laporan bahkan menunjukkan kenaikan harga pangan hingga 50 persen di wilayah tersebut.
Ia menambahkan, persediaan tepung terigu diperkirakan akan habis dalam hitungan pekan, sementara kelangkaan bahan bakar turut mengancam akses terhadap air bersih.
Bottomley mengungkapkan di beberapa wilayah, lokasi pengungsian yang didukung NRC telah berkembang hingga dua kali lipat, dengan banyak keluarga yang tiba tanpa membawa kebutuhan dasar apa pun.
"Kisah yang disampaikan oleh mereka yang terpaksa berpindah adalah mereka pergi tanpa membawa apa pun," ujarnya. "Situasi ini sungguh menghancurkan."
(sya)