Pesawat jet Boeing 747 dari Qatar telah dimodifikasi untuk Air Force One. Foto/us air force
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ia awalnya meminta Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, untuk meminjamkan pesawat jet Boeing 747 kepada AS agar dapat digunakan sementara sebagai Air Force One. Namun, menurut laporan Anadolu, pemimpin Qatar tersebut justru menawarkan untuk menghibahkan pesawat itu kepada Washington.
"Kalau Anda diberi hadiah, ya diterima saja, bukan?" ujar Trump kepada massa dalam kampanye di Arizona. "Kalau mereka memberi Anda pesawat 747, Anda cukup ucapkan dua kata: ‘terima kasih'."
Trump menuturkan ia menghubungi Sheikh Tamim karena pesawat kepresidenan AS yang saat ini digunakan sudah berusia tua.
"Kami ingin meminjamnya karena pesawat kami sudah berusia 35 tahun," ujar Trump.
"Jadi, saya menelepon pemimpin Qatar—sosok yang sangat dihormati, orang yang hebat, masih muda, bahkan tampan… dan punya banyak uang," kata Trump.
Trump menjelaskan, "Saya katakan, ‘Tamim, jika memungkinkan, atas nama Amerika Serikat dan Angkatan Udara, saya ingin meminjam atau menggunakan pesawat 747 Anda sebagai Air Force One untuk sementara waktu, sembari menunggu pesawat kami sendiri.'"
Menurut Trump, sang Emir menolak meminjamkan pesawat tersebut dan justru menawarkan untuk memberikannya kepada AS.
"Dia bilang, ‘Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Anda adalah teman saya. Saya tidak akan membiarkan Anda meminjamnya. Saya justru mengizinkan Anda—atas nama Amerika Serikat—untuk memilikinya. Silakan ambil saja,'" kenang Trump.
Ia mengatakan dirinya menerima pesawat tersebut atas nama Amerika Serikat.
Pesawat milik Qatar itu telah ditetapkan oleh Angkatan Udara AS dengan kode VC-25B dan akan berfungsi sebagai pesawat transisi sementara militer menunggu pengiriman dua pesawat kepresidenan Boeing yang baru, yang diperkirakan akan tiba pada tahun 2028.
(sya)