GFS Pride, kapal kontainer yang terdaftar di Singapura, perlahan tenggelam setelah menabrak ranjau di Selat Hormuz pada Rabu (14/10/2026). Foto/Russia Today
TEHERAN - Sebuah kapal kontainer tenggelam setelah menabrak ranjau di
Selat Hormuz pada Rabu. Insiden ini terjadi di tengah gelombang serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut dan mandeknya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sudah lebih dari 20 kapal tanker minyak dan kapal lainnya telah diserang sepanjang bulan ini.
Kapal kontainer GFS Pride yang terdaftar di Singapura terbakar sebelum akhirnya tenggelam. Seluruh 21 awak kapal berhasil diselamatkan, menurut Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura.
Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan asap mengepul dari kapal yang miring serta puluhan kontainer mengapung di permukaan laut.
Kapal kedua yang terdaftar di Singapura, GFS Giselle, juga diserang pada hari yang sama hingga mengalami kerusakan pada lambung. Kapal tersebut berhasil meninggalkan lokasi dengan tenaga sendiri. Tidak ada awak yang dilaporkan terluka.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjelaskan bahwa GFS Pride, yang mengangkut lebih dari 2.500 kontainer, tenggelam ketika melintasi jalur yang mereka sebut sebagai "rute tidak resmi dan berbahaya".
"Kapal-kapal lokal dan para nelayan harus mengutamakan keselamatan saat melintasi rute ini agar tidak bertabrakan dengan kontainer yang mengapung di laut," kata Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan yang dikutip
Press TV, Kamis (15/10/2026).
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebelumnya kembali menegaskan pada awal bulan ini bahwa Iran tidak akan membuka kembali jalur perairan vital tersebut sampai AS menerima persyaratan Teheran.
Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia yang diangkut melalui laut. Persyaratan Iran mencakup pencabutan sanksi dan pembebasan dana Iran yang dibekukan.
Angkatan Laut AS mengeklaim telah memandu lebih dari 1.600 kapal melintasi Selat Hormuz antara Mei dan pertengahan September melalui jalur-jalur yang dianggap ilegal oleh Iran.
Pada Sabtu pekan lalu, pasukan AS menyerang dan melumpuhkan kapal pengangkut curah Ocean Molica yang berbendera Panama. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan kapal tersebut berupaya melanggar blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pada hari Rabu, CENTCOM merilis video yang memperlihatkan serangan pada 6 Oktober terhadap sebuah kapal yang sedang berlayar. AS mengeklaim kapal tersebut "melakukan pengawasan dan membidik kapal-kapal Angkatan Laut AS" atas nama Iran.
Pada hari Minggu, Iran menyatakan respons AS terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz belum memadai, meskipun Washington menerima sebagian dari tujuh persyaratan yang diajukan Teheran.
Pejabat Iran mengatakan mereka sedang meninjau respons tersebut. Namun, mereka memperingatkan bahwa pertempuran dapat kembali berkobar sekalipun kesepakatan berhasil dicapai.
(mas)