Mengapa Islam Melarang Buruk Sangka? Ini Bahaya yang Mengintai

img-redaksi Widaningsih
Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:11 WIB
Mengapa Islam Melarang Buruk Sangka? Ini Bahaya yang Mengintai
Salah satu bahaya dari berpraangka buruk adalah ia akan terus-menerus memelihara kecurigaan dapat mengalami kegelisahan karena selalu memikirkan kemungkinan buruk dari tindakan orang lain. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Dalam kehidupan sehari-hari, buruk sangkakerap muncul ketika seseorang menilai orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Informasi yang tidak lengkap, rasa iri, pengalaman masa lalu, hingga kebiasaan bergosip bisa membuat seseorang mudah menaruh curiga dan menuduh orang lain tanpa bukti.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga hati, memeriksa kebenaran informasi, serta tidak terburu-buru menilai orang lain. Larangan berprasangka buruk ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an, salah satunya melalui Surah Al-Hujuratayat 12.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا


Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (QS Al-Hujurat: 12).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa tidak semua prasangka dapat dibenarkan. Prasangka yang tidak didasari bukti dan kemudian berkembang menjadi tuduhan, mencari-cari aib, atau menggunjing orang lain dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan dosa.

Rasulullah SAW juga memperingatkan umatnya agar menjauhi prasangka buruk. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ


Artinya: "Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan." (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang sama, Rasulullah SAW juga melarang umatnya mencari-cari kesalahan, saling mendengki, membenci, dan memutus hubungan. Beliau mengingatkan agar kaum Muslimin menjadi saudara satu sama lain.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjaga hati dari prasangka buruk merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang sehat dan harmonis.

Penyebab Seseorang Mudah Berburuk Sangka

Ada sejumlah faktor yang dapat mendorong seseorang berprasangka buruk terhadap orang lain. Berikut beberapa di antaranya.

1. Kurangnya Pengetahuan dan Informasi

Ketidaktahuan terhadap suatu persoalan sering kali membuat seseorang mengambil kesimpulan secara terburu-buru. Ketika tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, seseorang bisa membangun asumsi berdasarkan dugaan pribadi.

Islam mengingatkan agar umatnya tidak mengikuti sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا


Artinya: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS Al-Isra: 36).

Ayat ini mengajarkan pentingnya kehati-hatian dalam menerima informasi dan menilai perilaku orang lain.

2. Hasad dan Dengki

Hasad merupakan perasaan tidak senang ketika melihat orang lain memperoleh nikmat, keberhasilan, atau kebahagiaan. Perasaan ini dapat membuat seseorang mencari-cari kekurangan orang lain dan menafsirkan tindakannya secara negatif.

Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk membersihkan hati dari kedengkian. Jika dibiarkan, hasad dapat merusak hubungan persaudaraan dan mendorong seseorang melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

3. Ketidakpercayaan terhadap Orang Lain

Pengalaman buruk di masa lalu dapat membuat seseorang sulit mempercayai orang lain. Namun, apabila kecurigaan tersebut diterapkan kepada semua orang tanpa mempertimbangkan keadaan dan bukti, seseorang akan mudah terjebak dalam prasangka buruk.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam bersikap, yakni tetap waspada tanpa menuduh orang lain secara sembarangan.

4. Pengaruh Lingkungan yang Gemar Bergosip

Lingkungan yang terbiasa membicarakan keburukan orang lain dapat membentuk kebiasaan berprasangka. Informasi yang belum jelas kebenarannya bisa menyebar dari satu orang ke orang lain hingga akhirnya dianggap sebagai fakta.

Kebiasaan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan umatnya menjaga kehormatan sesama dan menjauhi ghibah atau menggunjing.

5. Kurangnya Pengendalian Diri

Emosi yang tidak terkendali dapat membuat seseorang mudah menyimpulkan sesuatu berdasarkan perasaan. Kemarahan, kekecewaan, atau rasa tersinggung bisa mendorong seseorang menafsirkan tindakan orang lain secara negatif.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


Artinya: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi pedoman agar seorang Muslim tidak sembarangan mengucapkan sesuatu, terlebih jika perkataannya berpotensi menyakiti orang lain atau menyebarkan tuduhan yang belum terbukti.

6. Kurangnya Pemahaman Agama

Pemahaman agama yang belum memadai dapat membuat seseorang mengabaikan pentingnya menjaga hati, lisan, dan kehormatan orang lain. Padahal, Islam tidak hanya mengatur ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga mengajarkan adab dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Dengan memperdalam ajaran agama, seseorang diharapkan mampu membedakan antara sikap berhati-hati yang diperlukan dan prasangka buruk yang tidak memiliki dasar.

Bahaya Buruk Sangka bagi Diri Sendiri dan Masyarakat

Buruk sangka tidak hanya berdampak pada orang yang menjadi sasaran tuduhan. Perilaku ini juga dapat merugikan orang yang melakukannya serta lingkungan sosialnya.

1. Menimbulkan Kegelisahan

Orang yang terus-menerus memelihara kecurigaan dapat mengalami kegelisahan karena selalu memikirkan kemungkinan buruk dari tindakan orang lain. Ia menjadi sulit mempercayai orang di sekitarnya dan mudah salah menafsirkan perkataan maupun perbuatan.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat mengganggu ketenangan batin dan membuat hubungan dengan orang lain terasa penuh ketegangan.

2. Merusak Persaudaraan dan Memicu Permusuhan

Prasangka buruk dapat berkembang menjadi tuduhan, fitnah, pertengkaran, bahkan permusuhan. Hubungan keluarga, pertemanan, dan lingkungan kerja pun dapat rusak ketika seseorang lebih mempercayai dugaan daripada mencari kebenaran.

Al-Qur'an juga mengecam perilaku mencela dan mengumpat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Humazah ayat 1:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ


Artinya: "Celakalah setiap pengumpat lagi pencela." (QS Al-Humazah: 1).

Ayat ini menegaskan peringatan terhadap perilaku mencela dan merendahkan orang lain. Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar prasangka yang muncul dalam hati tidak berkembang menjadi perkataan atau tindakan yang menyakiti sesama.

3. Mengikis Kepercayaan Sosial

Masyarakat yang dipenuhi kecurigaan akan kesulitan membangun kerja sama. Orang menjadi enggan terbuka, mudah salah paham, dan cenderung menganggap orang lain memiliki niat buruk.

Padahal, kepercayaan merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga kerukunan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Cara Menghindari Buruk Sangka

Islam memberikan tuntunan agar umatnya menjaga kebersihan hati dan membangun hubungan yang baik dengan sesama. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.

1. Membiasakan Husnuzan

Husnuzan atau berbaik sangka merupakan sikap berusaha melihat sesuatu secara positif selama tidak ada bukti yang menunjukkan sebaliknya. Sikap ini bukan berarti mengabaikan fakta atau menutup mata terhadap kesalahan, melainkan tidak terburu-buru menuduh seseorang tanpa dasar yang jelas.

Ketika menghadapi tindakan orang lain yang menimbulkan pertanyaan, seorang Muslim sebaiknya mencari penjelasan terlebih dahulu daripada langsung mengambil kesimpulan negatif.

2. Menjaga Lisan dan Tidak Menyebarkan Gosip

Salah satu cara mencegah buruk sangka adalah menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain. Jangan sampai dugaan pribadi berubah menjadi kabar yang menyebar dan merusak nama baik seseorang.

Pesan Rasulullah SAW agar berkata baik atau diam perlu dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berkomunikasi secara langsung maupun melalui media sosial.

3. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah

Hubungan persaudaraan dapat diperkuat dengan saling membantu, menghormati, dan memberikan klarifikasi ketika terjadi kesalahpahaman. Komunikasi yang baik membantu mencegah prasangka berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ


Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS Al-Maidah: 2).

Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk membangun hubungan yang dilandasi kebajikan, bukan saling menjatuhkan atau memperbesar perselisihan.

4. Memperbanyak Doa agar Hati Terjaga

Seorang Muslim juga dianjurkan memohon kepada Allah SWT agar hatinya dibersihkan dari kedengkian, kebencian, dan prasangka buruk. Doa dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperbaiki diri sekaligus menjaga hubungan dengan sesama.

Allah SWT mengabadikan doa orang-orang beriman dalam Surah Al-Hasyr ayat 10:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ


Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.'" (QS Al-Hasyr: 10).

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya memohon ampunan sekaligus meminta agar hati dijauhkan dari kedengkian terhadap sesama orang beriman.

Pada akhirnya, menjaga diri dari buruk sangka bukan sekadar persoalan mengendalikan pikiran, melainkan juga bagian dari menjaga akhlak dan persaudaraan. Islam mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menilai orang lain, memastikan kebenaran informasi, serta tidak menjadikan dugaan sebagai dasar untuk menuduh.

Dengan membiasakan husnuzan, menjaga lisan, dan membersihkan hati dari kedengkian, seorang Muslim dapat ikut menciptakan lingkungan yang lebih damai, saling menghormati, dan jauh dari fitnah.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Ternyata Ada Prasangka yang Dibolehkan dalam Islam, Apa Itu?
Kalam
Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:25 WIB
Mengapa Islam Melarang Buruk Sangka? Ini Bahaya yang Mengintai
Kalam
Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:11 WIB
Jangan Mudah Curiga! Ini Larangan Suuzan dalam Al-Quran
Kalam
Kamis, 15 Oktober 2026 - 05:15 WIB
Jangan Asal Makan! Ini 3 Adab Rasulullah yang Sering Diabaikan
Kalam
Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:26 WIB
Rahasia Keberkahan Makanan, Jangan Sia-siakan yang Terjatuh
Kalam
Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:36 WIB