Rekaman CCTV yang dirilis Arab Saudi menunjukkan detik-detik rudal Houthi menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober 2026. Serangan ini menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya. Foto/The Guardian
SANAA -
Kelompok Houthi Yaman akan terus melancarkan serangan balasan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi selama Riyadh melanjutkan operasi militernya di Yaman. Demikian disampaikan pelaksana tugas Menteri Luar Negeri pemerintahan Houthi, Abdulwahid Abu Ras.
Dia mengatakan pertempuran dapat diakhiri jika Arab Saudi mencabut blokadenya dan menarik pasukan dari wilayah Yaman.
Serangan-serangan terbaru yang diklaim dilakukan Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh telah menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai lebih dari 300 orang selama akhir pekan. Pada Selasa, koalisi pimpinan Arab Saudi menyerang sebuah depot bahan bakar di dekat ibu kota Yaman, Sanaa.
Abu Ras menggambarkan pendekatan kelompoknya sebagai prinsip "mata ganti mata". Dia mengatakan pasukan Houthi menargetkan fasilitas minyak, infrastruktur, dan posisi militer Arab Saudi sebagai pembalasan.
"Blokade dibalas dengan blokade, bandara dengan bandara, pelabuhan dengan pelabuhan, dan eskalasi dengan eskalasi," kata Abu Ras kepada pemimpin redaksi
RT India, Ashok Bagriya, dalam wawancara pada Rabu (14/10/2026).
Konfrontasi terbaru ini dimulai pada Juli, ketika serangan terhadap Bandara Sanaa diikuti oleh serangan rudal Houthi ke Arab Saudi. Perkembangan tersebut mengakhiri periode relatif tenang selama beberapa tahun setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022.
Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan pekan lalu bahwa Yaman telah kembali terjerumus ke dalam perang skala penuh.
"Garis merah kami adalah blokade terhadap Yaman, bandara-bandara kami, dan pelabuhan-pelabuhan kami tidak boleh terus berlanjut," kata Abu Ras. Dia juga menuntut akses terhadap sumber daya minyak dan gas negara tersebut.
Abu Ras mengatakan pemerintahan Houthi tetap siap melakukan perundingan langsung dengan Riyadh, meskipun Arab Saudi dituding gagal melaksanakan kesepakatan kemanusiaan sebelumnya.
"Kami mengundang rezim Saudi untuk duduk di meja perundingan guna melaksanakan apa yang telah disepakati," ujar Abu Ras. Dia juga menyerukan agar fasilitas kemanusiaan tidak dijadikan sasaran dalam pertempuran.
Namun, Abu Ras menepis kemungkinan Sanaa memberlakukan tarif atau pungutan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang kini berada di bawah kendali pasukan Houthi setelah kemajuan militer mereka di sepanjang pesisir.
"Hal ini sama sekali tidak mungkin dilakukan. Sanaa bertekad menjaga jalur pelayaran dan lalu lintas komersial di Bab el-Mandeb tetap normal sepenuhnya, dalam segala hal," katanya.
Abu Ras berupaya memisahkan konflik di negaranya dari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, negara yang menjadi pendukung utama Houthi.
"Posisi Yaman adalah sikap yang telah dinyatakan secara terbuka terkait persoalan internal kami, perjuangan nasional kami, yang tidak ada hubungannya dengan agenda eksternal mana pun," katanya.
"Terlepas dari apakah saudara-saudara kami di Republik Islam Iran mencapai kesepakatan dengan pihak Amerika atau tidak, ini merupakan persoalan yang sepenuhnya terpisah," ujarnya.
Abu Ras menuduh Inggris mengambil sikap bermusuhan terhadap Houthi di Dewan Keamanan PBB, memberikan perlindungan politik bagi tindakan Arab Saudi, serta melegitimasi tindakan tersebut di forum-forum internasional.
"Intervensi semacam itu semakin memperumit konflik dan menyeret kawasan ini menuju konflik yang berpotensi lebih besar. Hal itu dapat menimbulkan dampak dan konsekuensi yang memengaruhi semua pihak," katanya.
(mas)