Menteri Arab Saudi sedang berpidato, tetapi sistem peringatan rudal berbunyi. Foto/RT
RIYADH - Sebuah peringatan rudal menghentikan pidato menteriSaudi, Ahmed bin Sulaiman Al Rajhi, saat ia sedang berbicara di sebuah forum ekonomi di Riyadh pada hari Senin, di tengah meningkatnya serangan Houthi terhadap kerajaan tersebut.
Insiden itu terjadi di Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Riyadh, ketika notifikasi peringatan berbunyi secara bersamaan di ponsel menteri dan ponsel para hadirin.
Al Rajhi, menteri sumber daya manusia dan pembangunan sosial, sempat menanggapi peringatan tersebut sebelum melanjutkan pidatonya dengan tenang.
"Kita berada dalam perlindungan Tuhan Semesta Alam. Insya Allah, semoga Tuhan membalikkan rencana jahat mereka kepada diri mereka sendiri," ujarnya kepada hadirin, dilansir RT.
Gangguan tersebut terjadi setelah dua serangan Houthi berturut-turut terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh selama akhir pekan, yang menewaskan lebih dari belasan orang, termasuk beberapa warga negara asing.
Menurut
Al Jazeera, warga melaporkan mendengar beberapa ledakan keras di ibu kota Saudi pada Senin malam. Militer Saudi menyatakan bahwa pertahanan udaranya telah mencegat setidaknya satu rudal balistik Houthi yang menargetkan Riyadh, serta dua proyektil lainnya yang diluncurkan ke arah kota Khamis Mushait di bagian barat daya.
Otoritas penerbangan Arab Saudi mengumumkan pada hari Senin bahwa Bandara Internasional King Khalid Riyadh akan tetap ditutup hingga 17 Oktober menyusul serangan mematikan tersebut.
Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu itu. Dalam wawancara eksklusif dengan RT, Mohammed al-Bukhaiti, juru bicara kelompok tersebut, menggambarkan serangan itu sebagai pembalasan atas pemboman bertahun-tahun yang dilakukan Saudi terhadap infrastruktur sipil Yaman. Ia memperingatkan bahwa kelompok Houthi akan terus menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur vital Arab Saudi sampai Riyadh mengakhiri keterlibatannya di Yaman, mencabut blokade, dan menyepakati "perdamaian yang komprehensif dan permanen."
Arab Saudi melakukan intervensi dalam perang saudara Yaman pada tahun 2015 dengan memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah yang diakui secara internasional dalam melawan Houthi.
Pertempuran berskala besar sebagian besar telah mereda menyusul gencatan senjata yang ditengahi PBB pada tahun 2022, namun kembali berkobar pada bulan Juli setelah pasukan Yaman yang didukung Saudi menyerang Bandara Sanaa yang dikuasai Houthi.
Bulan lalu, Houthi merebut wilayah yang luas di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan kawasan di sekitar Selat Bab el-Mandeb yang strategis, termasuk pelabuhan Mocha.
Sejak saat itu, pasukan pemerintah yang didukung Saudi telah melancarkan serangan balasan dan mengklaim berhasil merebut kembali posisi-posisi penting di dekat jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Riyadh telah meningkatkan dukungan udara bagi serangan tersebut dan mengintensifkan gempuran terhadap wilayah yang dikuasai Houthi dalam beberapa hari terakhir. Menurut kelompok tersebut, pemboman oleh Saudi telah menewaskan hampir 400 orang sejak awal September, yang banyak di antaranya adalah warga sipil.
(ahm)