Setiap Keluarga AS Dibebani Rp35 Juta Akibat 8 Bulan Perang AS Melawan Iran

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Rabu, 14 Oktober 2026 - 18:30 WIB
Setiap Keluarga AS Dibebani Rp35 Juta Akibat 8 Bulan Perang AS Melawan Iran
Setiap keluarga AS dibebani Rp35 juta akibat delapan bulan perang AS melawan Iran. Foto/X
A
A
A
WASHINGTON - Delapan bulan setelah dimulainya perang agresi AS terhadapIran, rumah tangga Amerika menghadapi tambahan biaya hampir USD2.000 atau Rp35 juta per rumah tangga. Sementara dampak ekonominya diperkirakan telah merugikan perekonomian AS sebesar USD265 miliar atau Rp4.743 triliun.

"Hampir USD2.000. Berdasarkan perhitungan saya, itulah biaya yang harus ditanggung rata-rata rumah tangga Amerika akibat perang Iran sejak perang dimulai hampir delapan bulan lalu. Secara nasional, jumlahnya mencapai USD265 miliar," tulis Mark Zandi, kepala ekonom di Moody's Analytics, dalam sebuah unggahan di X, dilansir Press TV.

Perkiraan biaya tersebut tujuh kali lipat lebih besar daripada angka yang disampaikan Menteri Perang Pete Hegseth kepada Kongres untuk periode mulai 28 Februari—saat AS dan Israel melancarkan agresi militer gabungan terhadap Iran—hingga akhir Juli.

Angka yang disampaikan Hegseth hanya mencakup biaya militer langsung dari perang tersebut. Namun, bagi rumah tangga Amerika, beban finansialnya jauh lebih besar karena dampak perang yang lebih luas terhadap pasar global, khususnya pasar minyak, telah memicu kenaikan inflasi dan biaya hidup sehari-hari.

Lonjakan harga energi menyumbang bagian terbesar dari beban finansial tersebut, dengan menambah pengeluaran setiap rumah tangga sekitar $1.100 akibat kenaikan harga bahan bakar, tagihan pemanas rumah, dan biaya transportasi.

"Harga satu galon bensin reguler mencapai USD4,37, naik dari angka di bawah USD3 sebelum perang," tulis Zandi. "Harga solar kini melampaui USD6, dan harga bahan bakar jet hampir naik dua kali lipat. Menjelang musim dingin, harga bahan bakar pemanas rumah yang jauh lebih tinggi juga turut menambah beban biaya."

Ia mencatat bahwa pada tingkat harga saat ini, biaya energi terus meningkat sekitar $50 per rumah tangga setiap minggunya.

Para peneliti di Watson School of International and Public Affairs, Universitas Brown, juga memantau dampak perang terhadap konsumen Amerika melalui kenaikan harga bensin dan solar. Menurut perkiraan mereka, konsumen AS telah menanggung biaya tambahan sebesar USD133,3 miliar sejak 28 Februari, seiring melonjaknya harga bensin lebih dari 46% dan harga solar lebih dari 70%.

Kenaikan harga bensin menyumbang USD73,5 miliar dari biaya tambahan tersebut, sementara kenaikan harga solar menambah USD59,8 miliar lagi, sehingga total beban tambahan diperkirakan mencapai USD1.017,76 per rumah tangga di AS.

Suku bunga yang lebih tinggi telah menambah beban biaya rumah tangga sekitar $540, ujar Zandi, seraya mencatat bahwa suku bunga hipotek tetap telah naik dari di bawah 6% sebelum perang menjadi sekitar 7,5%.

"Suku bunga jangka panjang juga mengalami kenaikan signifikan," tulisnya. "Menurut perhitungan kami, suku bunga yang lebih tinggi ini telah membebani perekonomian sebesar sekitar USD540 per rumah tangga."

Zandi juga memperkirakan bahwa operasi militer langsung telah menambah beban sebesar USD360 per rumah tangga, berdasarkan angka-angka yang diakui oleh Pentagon.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa biaya militer yang sebenarnya bisa jadi melampaui perkiraan Pentagon, karena angka-angka yang diumumkan tersebut tidak memperhitungkan pengeluaran tambahan terkait perbaikan, pemeliharaan, dan penggantian peralatan.

Linda Bilmes, seorang ahli penganggaran perang sekaligus Dosen Senior Daniel Patrick Moynihan bidang Kebijakan Publik di Harvard Kennedy School, menyatakan keyakinannya bahwa biaya perang melawan Iran akan mencapai $1 triliun. "Mungkin saja kita sudah mencapai angka tersebut," tambahnya.

Meningkatnya beban ekonomi terjadi di tengah kian besarnya penolakan publik terhadap perang melawan Iran serta cara Presiden AS Donald Trump menanganinya.

Menurut survei Pew Research Center yang dilakukan pada 28 September hingga 4 Oktober terhadap 5.062 orang dewasa di AS, 65% responden tidak menyetujui cara Trump menangani agresi militer AS terhadap Iran.

Dukungan terhadap keputusan awal untuk menggunakan kekuatan militer juga menurun; kini hanya 34% yang menganggapnya sebagai keputusan yang tepat, turun empat poin persentase dibandingkan bulan Maret.

Zandi mengatakan bahwa, mengingat "total biaya perang telah menyerap sekitar separuh dari kenaikan pendapatan rata-rata rumah tangga Amerika selama delapan bulan terakhir," maka "tidak mengherankan jika perang ini sangat tidak populer."

Sementara itu, tingkat kepuasan publik terhadap Trump juga merosot, mencapai angka bersih -23,5—level terendah sepanjang masa—menurut Nate Silver.

Dalam upaya membenarkan agresi terhadap Iran, Trump menyebut biayanya sebagai "harga yang kecil untuk menjaga keamanan dunia dan keamanan negara kita."

Di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan biaya hidup akan membebani Partai Republik dalam pemilihan umum sela bulan November, Trump bulan lalu menjanjikan pembayaran sebesar USD5.000 kepada setiap orang dewasa di AS jika Partai Republik berhasil mempertahankan dominasi mereka di kedua kamar Kongres.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Setiap Keluarga AS Dibebani Rp35 Juta Akibat 8 Bulan Perang AS Melawan Iran
International
Rabu, 14 Oktober 2026 - 18:30 WIB
Trump Tuding Houthi Berupaya Dongkrak Harga Minyak Dunia
International
Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:28 WIB