Meski Memiliki Anggaran Pertahanan Rp1.484 Triliun, Ini 5 Penyebab Arab Saudi Gagal Hadapi Serangan Houthi

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Kamis, 15 Oktober 2026 - 01:10 WIB
Meski Memiliki Anggaran Pertahanan Rp1.484 Triliun, Ini 5 Penyebab Arab Saudi Gagal Hadapi Serangan Houthi
Meski memiliki anggaran pertahanan triliunan rupiah, Arab Saudi gagal hadapi serangan Houthi. Foto/X
A
A
A
MEKKAH - Arab Saudi menghabiskan puluhan miliar dolar untuk pertahanan setiap tahunnya, namun kesulitan melindungi aset-aset vital—seperti bandara, kilang minyak, dan jaringan pipa—dari serangan rudal dan pesawat nirawak yang diluncurkan oleh militan Houthi dari Yaman.

Meskipun telah mengakuisisi sistem persenjataan mutakhir dari Amerika Serikat dan Eropa serta memiliki sistem pertahanan udara berlapis, kerajaan tersebut mengalami serangan mematikan di bandara utama yang melayani ibu kota Riyadh dalam sepekan terakhir.

Menurut Stockholm International Peace Research Institute, Arab Saudi menghabiskan USD83 miliar atau RpRp1.484 Triliun untuk pertahanan tahun lalu, menempatkannya dengan kokoh di antara sepuluh negara dengan pengeluaran militer terbesar di dunia. Negara ini telah mengakuisisi jet tempur AS serta sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD, juga berbagai persenjataan canggih dari Prancis dan Inggris.

Meski Memiliki Anggaran Pertahanan Rp1.484 Triliun, Ini 5 Penyebab Arab Saudi Gagal Hadapi Serangan Houthi

1. Wilayah yang Luas dan Ancaman dari 3 Sisi

Namun, ada banyak hal yang harus dilindungi oleh Saudi: sebuah negara dengan luas wilayah sekitar seperlima dari ukuran AS, yang menghadapi ancaman dari tiga sisi.

Dari arah timur, Iran meluncurkan sekitar 1.000 rudal dan drone ke sasaran-sasaran Saudi selama masa konflik paling intens tahun ini. Dari utara, milisi yang didukung Iran di Irak telah mengirimkan drone untuk menyerang jalur pipa minyak vital Timur-Barat milik negara tersebut. Dan dari selatan, pemberontak Houthi yang didukung Iran menembakkan rudal ke arah kerajaan dari tempat persembunyian serta peluncur bergerak di pegunungan Yaman.

Mempertahankan Arab Saudi berarti melindungi jaringan sasaran yang sangat luas, bukan sekadar Riyadh atau satu kilang minyak saja. Menurut Vision2030.ai, sebuah situs web independen yang menganalisis transformasi ekonomi kerajaan tersebut, sistem pertahanannya harus mendeteksi ancaman yang datang, memutuskan mana yang akan dicegat, dan memperingatkan warga sipil—semuanya dalam hitungan saat.

Arab Saudi berhasil mencegat banyak rudal dan pesawat nirawak yang ditembakkan oleh kelompok Houthi. Namun, beberapa di antaranya berhasil lolos. Menurut sumber dari pihak Saudi, kementerian pertahanan menghadapi pilihan sulit dalam mendistribusikan sistem pertahanan yang ada, mengingat banyaknya instalasi yang rentan terhadap serangan.

2. Tiru Rusia, Houthi Memadukan Rudal dan Drone Jarak Jauh

Melansir CNN, kelompok Houthi telah belajar memadukan rudal balistik dan rudal jelajah dengan drone jarak jauh untuk melumpuhkan pertahanan Saudi. Pendekatan ini menyerupai strategi Rusia: Moskow sering menggunakan serangan massal drone yang disertai rudal jelajah dan balistik untuk menggempur Ukraina.

Rudal jelajah terbang pada ketinggian rendah, sehingga lebih sulit untuk diidentifikasi dan dilacak. Houthi juga telah memperkenalkan generasi baru rudal balistik yang diklaim memiliki kemampuan manuver.

Tidak ada satu pun sistem pertahanan udara yang dapat menjamin bahwa setiap ancaman yang datang akan berhasil dicegat.

3. Iran Memasok Senjata untuk Houthi

Namun, Houthi tidak melakukan hal ini sendirian.

Delapan tahun lalu, para ahli PBB "mengidentifikasi sisa-sisa rudal, peralatan militer terkait, dan pesawat nirawak militer yang berasal dari Iran dan dimasukkan ke Yaman," meskipun terdapat embargo senjata internasional.

Panel yang sama menyatakan dua tahun lalu bahwa "skala, sifat, dan cakupan transfer berbagai material serta teknologi militer yang diberikan kepada Houthi dari sumber eksternal—termasuk dukungan finansial dan pelatihan bagi para kombatannya—belum pernah terjadi sebelumnya."

Para ahli mencatat bahwa rudal-rudal terbaru Houthi, seperti Hatem-2 dan Palestine-2, memiliki desain yang sangat mirip dengan senjata buatan Iran. Rudal-rudal tersebut memiliki kecepatan tinggi dan akurasi yang tepat.

Kelompok Houthi juga telah memodifikasi senjata pertahanan udara buatan Iran untuk menyerang pesawat dan rudal jelajah, menurut Brigadir Jenderal Majed al-Nazili, juru bicara pasukan pemerintah Yaman.

"Rudal-rudal ini bergerak selama hingga 25 menit per rudal dan beroperasi menggunakan sistem pelacakan termal," ujarnya bulan lalu.

4. Houthi Makin Kuat

Kelompok Houthi telah lama menjadi bagian dari 'poros perlawanan' Iran. Sementara kelompok sekutu lainnya seperti Hizbullah, Hamas, dan milisi di Irak kekuatannya telah jauh melemah, kelompok Houthi justru semakin kuat.

Mereka terus menjalin hubungan yang erat dengan Teheran dan mengirimkan delegasi ke pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Namun, mereka juga memiliki agenda mereka sendiri.

Konflik selama tujuh tahun dengan Arab Saudi antara tahun 2015 dan 2022 menyebabkan penderitaan yang luar biasa di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, dan embargo ekonomi dan transportasi terus berlanjut sejak saat itu.

Pada akhirnya, hal itu menyebabkan Houthi pada bulan Juli menyatakan akan menyerang kapal-kapal Saudi di Laut Merah – dan kampanye serangan rudal dimulai segera setelahnya, awalnya menargetkan kilang minyak Aramco di pantai Laut Merah dan pangkalan udara Saudi.

5. Sama Seperti Iran, Houthi Selalu Meminta Kompensasi

Houthi menuntut diakhirinya serangan udara Saudi untuk mendukung pasukan pemerintah di Yaman, serta kompensasi miliaran dolar dari Arab Saudi.

Entah dengan itikad baik atau tidak, Iran telah menawarkan diri untuk menengahi antara Riyadh dan Houthi. Pada hari Senin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran siap memberikan "bantuan apa pun yang diperlukan untuk memfasilitasi dimulainya pembicaraan antara Arab Saudi dan Yaman," yang berarti Houthi.

Mohammed al-Bukhaiti, anggota biro politik Houthi, mengklaim pada hari Senin bahwa Riyadh telah menerima mediasi tetapi kelompok tersebut telah menolak proposal gencatan senjata selama dua minggu dan satu bulan.

"Pertempuran kali ini tidak seperti sebelumnya; arena pertempuran tidak lagi sama," kata al-Bukhaiti. "Setiap hari yang berlalu dalam pertempuran ini akan memperluas cakupannya dan memperdalam kerugiannya, dan penyelesaian yang mungkin dilakukan hari ini mungkin menjadi sulit atau tidak mungkin dilakukan besok."
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Jelang Pemilu AS, Iran Ubah Taktik dengan Serang Kapal-kapal Tanker
International
Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:30 WIB