Dituding Melakukan Spionase, Rusia Tahan Jurnalis Jepang

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:20 WIB
Dituding Melakukan Spionase, Rusia Tahan Jurnalis Jepang
Dituding melakukan spionase, Rusia tahan jurnalis Jepang. Foto/X/@tassagency_en
A
A
A
MOSKOW - Badan keamanan Rusia, FSB, menahan seorang jurnalisJepang atas dugaan spionase. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan penyesalannya karena Tokyo menggunakan koresponden untuk melakukan kegiatan mata-mata.

Dalam sebuah pernyataan di situs webnya, FSB menyebutkan bahwa jurnalis surat kabar Hokkaido Shimbun tersebut ditahan di wilayah timur jauh Sakhalin sehari sebelum ia berencana meninggalkan Rusia. Pihak FSB tidak merinci kapan tepatnya kejadian itu berlangsung.

Hubungan diplomatik antara Rusia dan Jepang—yang tidak pernah menandatangani perjanjian damai resmi Perang Dunia II—telah memburuk sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, meskipun Jepang bergantung pada Rusia untuk pasokan gas alam cair (LNG).

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengidentifikasi jurnalis tersebut sebagai Imai Yuki—berdasarkan transliterasi nama dalam bahasa Rusia—dan mengatakan bahwa penahanannya kembali memperkeruh hubungan dengan Tokyo.

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi pada hari Rabu mengatakan bahwa Kedutaan Besar Jepang di Moskow dan Konsulat Jenderal di Yuzhno-Sakhalinsk telah meminta informasi kepada pihak berwenang Rusia serta menyerukan perlakuan yang adil dan pertimbangan kemanusiaan bagi warga negara Jepang tersebut. Motegi tidak mengonfirmasi identitas orang yang ditahan itu.

Hokkaido Shimbun menyatakan pihaknya masih melakukan konfirmasi mengenai rincian kejadian tersebut.

"Kami akan mengambil langkah dengan menempatkan keselamatan sang wartawan sebagai prioritas utama," ujar juru bicara penerbit tersebut, seraya menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Dalam laporan video televisi pemerintah Rusia mengenai kasus ini, tiga pria bertopeng dengan seragam hitam terlihat memborgol seorang pria yang sedang berbaring di tanah, sementara terdengar suara di luar kamera yang menyatakan bahwa pria itu dicurigai melakukan kegiatan mata-mata.

Video tersebut memperlihatkan pria itu dikawal oleh dua petugas FSB menaiki pesawat, lalu berada di dalam sel jeruji besi di pengadilan Moskow, yang memerintahkan penahanannya selama hampir dua bulan. Badan tersebut "menggagalkan aktivitas ilegal" sang jurnalis, ungkap FSB.

"Berdasarkan operasi intelijen, terungkap bahwa ia mengumpulkan dan menyimpan informasi terkait kemampuan pertahanan negara dengan tujuan meneruskannya demi kepentingan intelijen asing yang akan digunakan untuk mengancam keamanan Federasi Rusia," demikian bunyi pernyataan tersebut.

"Upaya Tokyo untuk memanfaatkan korespondennya di Rusia—yang berstatus sebagai jurnalis asing—guna mengumpulkan informasi yang dapat melemahkan keamanan negara kami adalah hal yang patut disesalkan," ujar juru bicara kementerian luar negeri.

Ia menyebutkan bahwa Jepang telah mengambil sikap anti-Rusia selama operasi militer Rusia di Ukraina dan menolak mempertimbangkan kekhawatiran Moskow terkait "remiliterisasi" Tokyo.

"Kami harus mencatat bahwa peristiwa ini akan menjadi faktor tambahan yang memperkeruh suasana hubungan Rusia-Jepang," kata Zakharova.

Rusia menganggap Jepang sebagai negara yang "tidak bersahabat" karena Jepang turut serta dalam sanksi Barat terhadap Moskow terkait perang di Ukraina.

Rusia dan Jepang memiliki sengketa wilayah atas Kepulauan Kuril, yang di Jepang dikenal sebagai Wilayah Utara.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi salah satu pulau yang disengketakan tersebut pada bulan Agustus, yang memicu reaksi keras di Jepang. Sebuah delegasi dari provinsi Heilongjiang, Tiongkok, juga mengunjungi pulau itu pada hari Selasa, di tengah ketegangan hubungan antara Beijing dan Tokyo.

Saat ditanya apakah perbaikan hubungan AS-Rusia dan ketergantungan Jepang pada impor energi dari Rusia menyulitkan Tokyo untuk mengambil langkah balasan, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengatakan: "Memang benar ada banyak masalah antara Jepang dan Rusia.

"Dari sudut pandang Jepang, terlepas dari situasi sulit dalam hubungan Jepang-Rusia, Jepang telah mengambil langkah-langkah tegas berdasarkan posisinya. Pada saat yang sama, Rusia adalah negara tetangga Jepang, dan komunikasi diperlukan untuk menyelesaikan masalah-masalah ini."

Salah satu kasus penangkapan jurnalis di Rusia adalah penahanan reporter Wall Street Journal, Evan Gershkovich, pada tahun 2023.

Ia dinyatakan bersalah melakukan spionase oleh pengadilan Rusia, dijatuhi hukuman 16 tahun penjara, dan kemudian dibebaskan dalam pertukaran tahanan antara Timur dan Barat pada Agustus 2024.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Dituding Melakukan Spionase, Rusia Tahan Jurnalis Jepang
International
Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:20 WIB
Profesor AS: NATO Remehkan Senjata Nuklir Rusia Sama Saja Bunuh Diri
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:13 WIB