Houthi Mengamuk! Markas Besar Saudi Aramco Dibombardir dengan Rudal dan Drone

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:12 WIB
Houthi Mengamuk! Markas Besar Saudi Aramco Dibombardir dengan Rudal dan Drone
Houthi mengamuk! Markas besar Saudi Aramco dibombardir dengan rudal dan drone. Foto/X
A
A
A
RIYADH - Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman kembali saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi. Lelompok yang didukung Iran tersebut kembali menargetkan ibu kota Saudi dan tampaknya menghantam markas besar raksasa minyak negara Saudi, Aramco.

Menurut otoritas Saudi, sebuah gedung administrasi milik Aramco di kota Dhahran, Provinsi Timur—tempat perusahaan tersebut berkantor pusat—menjadi sasaran serangan. Serangan itu menyebabkan kebakaran kecil, namun belum jelas apakah hal tersebut disebabkan oleh hantaman langsung atau jatuhan puing. Tidak ada laporan mengenai korban luka.

Koalisi pimpinan Saudi juga menyatakan telah mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah serta dua pesawat nirawak (drone) yang menargetkan wilayah Riyadh dan wilayah selatan Arab Saudi. Menurut otoritas Saudi, setidaknya empat orang terluka akibat jatuhan puing.

CNN telah menghubungi Aramco untuk meminta tanggapan.

Peristiwa ini menandai eskalasi terbaru antara kedua belah pihak, menyusul serangkaian serangan rudal dan drone mematikan oleh Houthi selama sepekan terakhir yang sempat melumpuhkan bandara internasional utama Riyadh.

Serangan-serangan ini juga terjadi hanya beberapa jam setelah Arab Saudi menyerang sebuah depot bahan bakar penting pada hari Selasa. Saudi mengklaim depot tersebut digunakan oleh pemberontak Houthi untuk mendukung serangan terhadap bandara dan fasilitas energi kerajaan, serta serangan terhadap pelayaran di Laut Merah.

Sebelumnya, Yemen Oil Company yang dikuasai Houthi menyatakan bahwa fasilitas tersebut tidak menyimpan stok produk minyak bumi, sehingga serangan itu tidak akan berdampak pada cadangan atau pasokan bahan bakar.

Menurut pihak Houthi, serangan tersebut menewaskan dua warga sipil dan melukai dua lainnya, meskipun koalisi pimpinan Saudi bersikeras bahwa mereka telah memperingatkan warga sipil untuk meninggalkan area tersebut sebelumnya.

"Operasi ini berfokus untuk melumpuhkan kemampuan yang digunakan milisi Houthi untuk mengancam kerajaan, Yaman, wilayah selatan Laut Merah, dan jalur pelayaran maritim," ujar juru bicara koalisi, Mayjen Turki al-Maliki, dalam sebuah pernyataan, dilansir CNN.

Aksi saling serang pada hari Selasa ini terjadi di tengah tanda-tanda meningkatnya eskalasi konflik berkepanjangan tersebut, yang kembali memanas pada musim panas ini dan semakin intensif bulan lalu setelah sempat relatif tenang selama bertahun-tahun. Sebelumnya pada hari Selasa, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan ke arah provinsi bagian timur, serta satu rudal lainnya yang ditujukan ke Haradh di dekat perbatasan Yaman. Koalisi tersebut juga melaporkan pencegatan tiga pesawat nirawak milik Houthi di sebelah utara Riyadh.

Sementara itu, saluran televisi Al Masirah yang dikelola Houthi melaporkan bahwa tembakan artileri oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di provinsi Saada melukai tiga warga Yaman dan dua penduduk asal Afrika di distrik Baqim. Saluran tersebut kemudian melaporkan tewasnya dua warga sipil dan luka-lukanya dua orang lainnya akibat tembakan artileri yang menghantam desa-desa permukiman di distrik perbatasan Shada, Saada, serta melaporkan adanya serangan di Sanaa dan beberapa provinsi lainnya. CNN tidak dapat memverifikasi laporan-laporan tersebut secara independen.

Konflik ini semakin memanas sejak Houthi mengumumkan pada bulan Juli bahwa—sebagai tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai balasan terhadap blokade Arab Saudi di ibu kota Yaman—mereka akan menargetkan kapal-kapal Saudi di Laut Merah serta infrastruktur di dalam wilayah kerajaan tersebut.

Serangan-serangan itu meningkat dalam beberapa hari terakhir, termasuk serangan berulang terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh; di lokasi tersebut, 13 orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka pada hari Sabtu dalam peristiwa yang tercatat sebagai serangan paling mematikan terhadap Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.

AS, Inggris, Spanyol, dan Kanada termasuk di antara negara-negara yang kini memperingatkan warganya untuk tidak menggunakan bandara tersebut. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS pada hari Selasa memperluas pembatasan perjalanan bagi personel pemerintah AS di kerajaan tersebut, dengan menyatakan bahwa pegawai kini memerlukan izin khusus dari kepala perwakilan untuk menggunakan bandara mana pun di Arab Saudi. Serangan-serangan tersebut juga telah menyingkap kerentanan dalam kemampuan pertahanan kerajaan itu saat mereka melancarkan kampanye udara untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang sedang memerangi kelompok Houthi di medan tempur darat.

Pada hari Selasa, pasukan pemerintah Yaman mengklaim telah terus mencatat kemajuan dalam operasi militer yang diberi nama "Fajar Yaman" (Dawn of Yemen). Pihaknya menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir, pasukan mereka telah melancarkan 2.200 serangan terhadap posisi-posisi Houthi, menewaskan sekitar 1.200 petempur serta menghancurkan atau melumpuhkan lebih dari 440 kendaraan militer dan aset lainnya. CNN tidak dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.

Sementara itu, kelompok Houthi bersumpah akan melancarkan serangan lanjutan terhadap target-target ekonomi dan penerbangan di wilayah Arab Saudi, seraya memperingatkan bahwa mereka akan menyasar fasilitas milik Aramco serta Bandara Internasional King Khalid jika pasukan Saudi terus menyerang mereka.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
IRGC Ancam Tenggelamkan Semua Kapal Perang AS yang Dekati Selat Hormuz
International
Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:26 WIB