Trump Pecat Dubes AS dan Eks Tunangan Donald Jr setelah Diduga Ancam Kudeta Yunani

img-redaksi Syarifudin
Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:33 WIB
Trump Pecat Dubes AS dan Eks Tunangan Donald Jr setelah Diduga Ancam Kudeta Yunani
Duta Besar AS untuk Yunani, Kimberley Guilfoyle, dipecat. Foto/kronen zeitung
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memecat duta besarnya untuk Yunani, Kimberley Guilfoyle. Pemecatan itu setelah Guilfoyle meminta sumbangan dengan imbalan akses khusus (pay-to-play) dari seorang donatur Partai Republik dan diduga mengancam akan menggulingkan pemerintah Yunani.

Pemecatan Guilfoyle diumumkan pada hari Selasa oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Katie Zacharia, yang mengatakan kepada para wartawan bahwa "kami telah meminta Duta Besar Guilfoyle untuk mengundurkan diri."

"Dia melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi kami tidak menyukai apa yang kami baca," ujar Trump kepada wartawan tak lama kemudian.

Guilfoyle, yang sebelumnya bertunangan dengan putra sulung Trump, Donald Jr., dilantik sebagai duta besar untuk Yunani pada bulan September lalu.

Kurang dari setahun kemudian, Wall Street Journal mengklaim ia menggunakan jabatannya untuk melobi demi kepentingan taipan energi Yunani, Alexandros Exarchou.

Guilfoyle diduga menekan beberapa pemerintah di Balkan untuk membeli gas alam cair (LNG) Amerika dari perusahaan milik Exarchou, Aktor Group, dan bepergian ke Davos menggunakan jet pribadi milik pengusaha tersebut.

Dalam pertemuan dengan para pejabat Yunani pada bulan Maret, Guilfoyle diduga mengancam akan menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis jika pemimpin Yunani itu menolak membeli LNG AS.

Guilfoyle dilaporkan mengklaim berjasa dalam melengserkan Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan, yang mendukung proyek Koridor Gas Vertikal yang didukung AS, namun menolak membeli lebih banyak LNG Amerika karena Rumania sudah memiliki cadangan domestik yang memadai.

"Kami bisa melakukan itu terhadap negara mana pun yang kami inginkan. Kami bisa melakukan itu di sini," demikian peringatannya kepada Menteri Energi Yunani, Stavros Papastavrou.

Papastavrou kemudian membantah Guilfoyle melakukan "tekanan atau ancaman terhadap negara kami," namun tidak menanggapi klaim Wall Street Journal bahwa sang duta besar berperan dalam pelengseran Bolojan.

Surat kabar tersebut kemudian merilis rekaman bocoran di mana Guilfoyle mengatakan kepada seorang pengusaha Amerika bahwa ia bisa membuat pengusaha itu "mendapatkan banyak uang" jika ia memberinya undangan makan malam di Davos pada bulan Januari.

Puncaknya terjadi pekan lalu ketika Eric Deters, seorang donatur Trump, mengungkapkan kepada MS Now bahwa Guilfoyle meminta uang sebesar USD100.000 kepadanya untuk melunasi tagihan kartu kreditnya pada tahun 2024, sembari menjanjikan akses ke pemerintahan Trump jika Deters memenuhi permintaan tersebut.

"Itu jelas merupakan praktik quid pro quo (timbal balik)," ujar Deters, seraya menyebut Guilfoyle sebagai "penipu."

Dalam unggahan di media sosial yang menanggapi pemberhentiannya, Guilfoyle menyebut "tuduhan-tuduhan terkini" yang diarahkan kepadanya sebagai hal yang "tidak benar."

"Saya bertekad untuk membela nama, reputasi, dan integritas saya dengan gigih," tambahnya, seraya menegaskan, "Saya tidak akan membiarkan tuduhan palsu mencoreng rekam jejak pengabdian publik saya selama puluhan tahun."

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Trump Tuding Houthi Berupaya Dongkrak Harga Minyak Dunia
International
Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:28 WIB
Agen-agen Federal AS Geledah Rumah Anggota DPR Ilhan Omar
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 08:52 WIB
Bill Gates Sebut AI Jadi Teknologi Paling Berbahaya yang Pernah Diciptakan
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 00:30 WIB