Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett. Foto/anadolu
TEL AVIV - Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett memperingatkan Israel menghadapi ancaman serius terhadap masa depannya di bawah pemerintahan saat ini. Ia menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah gagal secara politik dan menyerukan pergantian kepemimpinan.
Saat berbicara dalam konferensi pemilu yang diselenggarakan Yedioth Ahronoth dan Ynet pada hari Senin, Bennett menggambarkan arah politik dan sosial Israel saat ini sebagai "misi bunuh diri yang berjalan perlahan."
Dia memperingatkan perpecahan yang terus berlanjut dapat mengancam kelangsungan hidup negara dalam jangka panjang.
Bennett secara khusus menyoroti kontroversi seputar pengecualian wajib militer bagi kaum Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi) serta pendanaan pemerintah untuk lembaga-lembaga yang melayani komunitas tersebut.
Ia berpendapat, memberikan pengecualian wajib militer kepada sebagian besar populasi ultra-Ortodoks, sembari tetap menyalurkan dana publik ke lembaga-lembaga mereka, telah membebankan tanggung jawab yang semakin tidak adil kepada warga Israel lainnya.
Bennett juga mengkritik rendahnya tingkat partisipasi kerja di kalangan komunitas ultra-Ortodoks, dengan argumen pengaturan yang ada saat ini tidak berkelanjutan baik secara ekonomi maupun sosial.
Ia memperingatkan jika kebijakan saat ini terus berlanjut selama empat tahun ke depan, "negara ini tidak akan ada lagi."
Bennett menyerukan diakhirinya masa jabatan Netanyahu. Ia menganggap sang perdana menteri sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas masalah politik dan kelembagaan negara, serta berpendapat pergantian pemerintahan diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Ia juga mengangkat dugaan yang melibatkan para penasihat Netanyahu dan hubungan mereka dengan Qatar, dengan secara khusus menyoroti penasihat perdana menteri, Yonatan Urich.
Bennett menyatakan informasi yang muncul dari kasus ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai loyalitas dan pengaruh asing di masa perang.
Ia menggambarkan dugaan tindakan orang-orang di lingkaran dalam Netanyahu sebagai potensi "kasus pengkhianatan paling berat dalam sejarah Israel" dan menyerukan tindakan pengamanan terhadap siapa pun yang terbukti terlibat.
Dugaan-dugaan tersebut masih dalam tahap penyelidikan, dan pernyataan Bennett tidak serta-merta membuktikan adanya tindak pidana.
Mantan Menteri Pertahanan Israel sekaligus pemimpin partai Blue and White, Benny Gantz, juga melontarkan peringatan mengenai situasi politik Israel dan menyerukan pergantian pemerintahan.
(sya)