Islam mengajarkan umatnya agar menghargai makanan dan tidak meremehkan keberkahan yang mungkin terdapat di dalamnya. Foto ilustrasi/ist
Islam mengajarkan sejumlah
adab ketika makanagar seorang muslim tidak sekadar mendapatkan rasa kenyang, tetapi juga memperoleh keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di antaranya, tidak menyia-nyiakan makanan, mengambil makanan yang terjatuh lalu membersihkannya jika masih layak dikonsumsi, serta tidak tergesa-gesa membersihkan jari sebelum menjilatinya setelah makan.
Ustaz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I., menjelaskan tuntunan tersebut dalam kajian Kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Dalam kajian itu, ia menguraikan hadis Rasulullah SAW yang mengajarkan umat Islam agar menghargai makanan dan tidak meremehkan
keberkahanyang mungkin terdapat di dalamnya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah RA:
إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ، فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ
Artinya: "Apabila sesuap makanan salah seorang di antara kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membersihkan kotoran yang melekat padanya, kemudian memakannya. Janganlah ia membiarkannya untuk setan. Jangan pula ia mengusap tangannya dengan serbet sebelum menjilati jari-jarinya, karena ia tidak mengetahui pada bagian makanan yang mana terdapat keberkahan." (HR Muslim).
1. Jangan Menyia-nyiakan Makanan
Menurut Ustaz Mubarak Bamualim, hadis tersebut mengajarkan umat Islam untuk benar-benar mensyukuri nikmat Allah SWT. Makanan yang telah diberikan hendaknya dimanfaatkan dengan baik, bukan diremehkan atau dibuang begitu saja.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang seseorang langsung membuang makanan yang terjatuh, meskipun baru sesaat dan belum terkena kotoran. Padahal, apabila makanan tersebut masih bersih atau dapat dibersihkan dengan aman, Rasulullah SAW mengajarkan agar makanan itu diambil dan dimanfaatkan kembali.
Tuntunan ini sekaligus menjadi pengingat agar seorang muslim menjauhi perilaku berlebihan dan menyia-nyiakan nikmat yang telah diterimanya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 27:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS Al-Isra: 27).
Ayat tersebut menegaskan bahwa perilaku boros merupakan sesuatu yang harus dihindari. Karena itu, seorang muslim hendaknya mengambil makanan secukupnya, menghabiskannya dengan baik, serta tidak membuang makanan yang masih layak dikonsumsi.
Apabila memiliki makanan berlebih dan tidak sanggup menghabiskannya, makanan tersebut dapat diberikan kepada orang lain selama masih layak dikonsumsi. Dengan demikian, nikmat yang diterima tidak terbuang sia-sia dan dapat memberi manfaat bagi sesama.
2. Mengambil Makanan yang Terjatuh dan Membersihkannya
Adab berikutnya adalah mengambil makanan yang terjatuh, membersihkan bagian yang terkena kotoran, kemudian memakannya apabila masih aman untuk dikonsumsi.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW mengingatkan agar makanan yang jatuh tidak dibiarkan begitu saja. Ustadz Mubarak menjelaskan bahwa tuntunan ini menunjukkan pentingnya menghargai makanan sekaligus menghindari perilaku mubazir.
Meski demikian, kebersihan dan keamanan makanan tetap harus diperhatikan. Jika makanan jatuh di tempat yang kotor, terkena bahan berbahaya, atau sudah tidak layak dikonsumsi, makanan tersebut tidak perlu dimakan. Prinsip menjaga kebersihan dan kesehatan tetap menjadi pertimbangan penting.
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar makanan yang terjatuh tidak dibiarkan untuk setan. Pesan tersebut menjadi bagian dari tuntunan beliau dalam mengajarkan adab makan kepada umatnya.
3. Menjilati Jari Setelah Makan
Adab lainnya yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah tidak terburu-buru mengusap tangan dengan serbet atau tisu sebelum menjilati jari-jari yang digunakan untuk makan.
Rasulullah SAW menjelaskan alasannya, yakni manusia tidak mengetahui pada bagian makanan yang mana keberkahan berada.
Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan sisa makanan yang masih melekat pada jari-jarinya. Tuntunan ini merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap makanan sekaligus upaya mengikuti sunah Rasulullah SAW.
Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan kebersihan. Jari yang digunakan untuk makan dapat dijilati sebelum tangan dibersihkan, selama tidak menimbulkan gangguan kebersihan atau membahayakan kesehatan.
4. Makanan Halal Menjadi Penunjang Amal Saleh
Lebih jauh, Ustadz Mubarak Bamualim mengingatkan bahwa makanan yang dikonsumsi seorang muslim memiliki kaitan dengan kehidupannya, termasuk dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Makanan bukan hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga harus diperhatikan asal-usul dan kehalalannya. Seorang muslim diperintahkan untuk mengonsumsi makanan yang baik dan halal serta menjauhi makanan yang diharamkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mu'minun ayat 51:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Artinya: "Wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan beramal salehlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Mu'minun: 51).
Ayat ini menghubungkan perintah mengonsumsi makanan yang baik dengan perintah mengerjakan amal saleh. Dengan demikian, seorang muslim hendaknya memperhatikan apa yang dikonsumsinya, memastikan kehalalannya, serta menjadikan rezeki yang diterima sebagai sarana untuk beribadah.
Sebaliknya, makanan yang diperoleh melalui cara haram dapat membawa dampak buruk terhadap kehidupan seorang muslim, terutama dalam hubungannya dengan ketaatan dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati terhadap sumber penghasilan dan cara memperoleh makanan. Harta yang diperoleh melalui praktik terlarang, termasuk riba, tidak boleh dianggap sepele karena berkaitan dengan kewajiban menaati ketentuan agama.
Pada akhirnya, keberkahan makanan tidak semata-mata diukur dari jumlah atau kelezatannya. Seorang muslim perlu memastikan makanan yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal, mengucapkan basmalah, menjaga adab ketika makan, serta tidak menyia-nyiakan nikmat yang diberikan Allah SWT.
Melalui tuntunan Rasulullah SAW tersebut, umat Islam diingatkan untuk membangun kebiasaan sederhana yang mencerminkan rasa syukur. Sebab, makanan yang dikonsumsi dengan cara yang baik dan sesuai tuntunan syariat diharapkan menjadi penunjang kekuatan untuk beribadah serta mengerjakan amal saleh.
(wid)