Pesawat Ethiopian Airlines 767. Foto/Adrian Pingstone/Wikimedia Commons
TEL AVIV - Satu penerbangan kargo Ethiopian Airlines dari Addis Ababa terpaksa putar balik di tengah penerbangan pada malam antara hari Minggu dan Senin. Hal itu dilakukan setelah Israel menolak mengizinkan pesawat tersebut mendarat karena pilotnya adalah warga negara Indonesia.
Kabar itu menurut laporan media berbahasa Ibrani. Israel tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia.
Insiden ini terjadi kurang dari dua pekan setelah serangan di dalam penerbangan Flydubai dari Dubai ke Tel Aviv, di mana seorang pilot asal Oman menikam kopilotnya dalam upaya menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion, namun aksi tersebut digagalkan oleh intervensi beberapa penumpang.
Menyusul insiden tersebut, terungkap bahwa ratusan awak pesawat dari negara-negara musuh telah terbang ke Israel, yang menimbulkan risiko keamanan besar.
Daftar awak pesawat Ethiopian Airlines tersebut baru dikirim ke Israel setelah pesawat lepas landas, demikian dilaporkan Channel 13 pada hari Senin.
Menurut situs berita Ynet, pesawat kembali ke Addis Ababa—sembari membuang bahan bakar ke laut di sepanjang perjalanan—di mana pilot digantikan oleh pilot lain yang memiliki izin untuk mendarat di Israel.
Setelah serangan Flydubai, Kementerian Transportasi Israel dilaporkan memperketat aturan bagi maskapai asing yang terbang ke Israel, dengan melarang awak pesawat yang berkewarganegaraan negara-negara tanpa hubungan diplomatik resmi dengan Israel untuk mengoperasikan atau berada di dalam penerbangan yang menuju Israel.
Pilot dan awak pesawat lainnya yang berkewarganegaraan negara-negara seperti Iran, Irak, Lebanon, dan Pakistan dilaporkan dapat dengan mudah terbang ke Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Menyusul insiden Flydubai, media lokal melaporkan badan keamanan Israel telah bertahun-tahun memperingatkan Kementerian Transportasi tidak melakukan pemeriksaan keamanan yang memadai terhadap maskapai asing dan awaknya yang terbang ke Israel, serta tidak memeriksa penerbangan Israel yang dioperasikan oleh maskapai asing.
Kementerian Transportasi menanggapi bahwa mereka tidak memiliki perangkat intelijen yang diperlukan.
Channel 12 melaporkan pekan lalu bahwa satu surat yang dikirim oleh Kementerian Transportasi sehari setelah serangan tersebut menyatakan operator pesawat tidak boleh mengizinkan warga negara musuh untuk menjadi pilot, awak pesawat, atau bahkan bepergian dalam penerbangan ke Israel.
Surat tersebut dilaporkan memperingatkan para operator bahwa kementerian akan melakukan penilaian berkala untuk memastikan mereka menerapkan program, langkah, dan prosedur yang diperlukan guna mengatasi ancaman dan risiko terkait penerbangan ke Israel, serta mencatat kementerian akan melakukan "audit di lokasi."
Surat itu juga menyatakan—sebagaimana dilaporkan oleh jaringan televisi tersebut—bahwa para operator bertanggung jawab memastikan tidak ada pilot atau awak kokpit dalam penerbangan yang memasuki Wilayah Informasi Penerbangan (FIR) Israel, atau bahkan yang berada di dalam pesawat, merupakan warga negara atau pemegang kewarganegaraan ganda dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
(sya)