Seseorang tidak harus memakan semua hidangan yang disajikan. Namun, ketika tidak menyukai suatu makanan, ia dapat meninggalkannya tanpa melontarkan perkataan yang merendahkan. Foto ilustrasi/ist
Kebiasaan
mengomentari makananyang tersaji di meja makan kerap dianggap sebagai hal biasa. Mulai dari menyebut masakan terlalu asin, daging kurang empuk, hingga kuah yang kurang sedap. Padahal, dalam Islam, seorang Muslim dianjurkan menjaga lisannya dan tidak mencela makanan yang dihidangkan.
Islam mengajarkan umatnya untuk mensyukuri rezeki yang diberikan Allah SWT, termasuk makanan yang dapat dinikmati setiap hari. Salah satu bentuk syukur tersebut adalah menghargai makanan dan tidak merendahkannya hanya karena tidak sesuai dengan selera pribadi.
Dai Ustaz Fajar Jaganagara menjelaskan bahwa tidak
mencela makananmerupakan salah satu bentuk akhlak terpuji yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sikap ini mengajarkan umat Islam untuk menghargai nikmat Allah sekaligus menjaga perasaan orang yang telah menyiapkan makanan.
Keteladanan Rasulullah SAW dalam urusan makanan patut menjadi perhatian. Sejumlah riwayat menggambarkan kehidupan beliau yang sederhana, bahkan kerap mengalami kekurangan makanan.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha pernah menceritakan kondisi rumah tangga Rasulullah SAW:
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلَاثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ
Artinya: "Keluarga Muhammad SAW tidak pernah makan hingga kenyang dari gandum selama tiga malam berturut-turut sejak tiba di Madinah hingga beliau wafat." (HR Al-Bukhari)
Kesaksian serupa disampaikan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang banyak mendampingi Rasulullah SAW. Ia berkata:
وَالَّذِى نَفْسُ أَبِى هُرَيْرَةَ بِيَدِهِ مَا شَبِعَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَهْلُهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ تِبَاعًا مِنْ خُبْزِ حِنْطَةٍ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
Artinya: "Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada dalam genggaman-Nya, Nabi Allah dan keluarganya tidak pernah makan hingga kenyang dari roti gandum selama tiga hari berturut-turut sampai beliau meninggalkan dunia." (HR Muslim)
Riwayat tersebut menggambarkan kesederhanaan kehidupan Rasulullah SAW. Beliau tidak menjadikan makanan sebagai alasan untuk mengeluh atau merendahkan apa yang telah disajikan.
Tidak Pernah Mencela Makanan
Salah satu adab makan yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah tidak mencela makanan. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan:
مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
Artinya: "Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukai suatu makanan, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya." (Muttafaq 'alaih, HR Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa seseorang tidak harus memakan semua hidangan yang disajikan. Namun, ketika tidak menyukai suatu makanan, ia dapat meninggalkannya tanpa melontarkan perkataan yang merendahkan.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mencela makanan antara lain dengan mengatakan makanan terlalu asin, kurang garam, terlalu asam, terlalu encer, atau belum matang. Perkataan semacam itu termasuk celaan apabila disampaikan sebagai bentuk merendahkan makanan yang dihidangkan.
Keteladanan Rasulullah SAW juga terlihat ketika beliau disuguhi daging dhabb, sejenis kadal gurun yang biasa dikonsumsi masyarakat Arab.
Dalam sebuah riwayat, istri beliau, Maimunah radhiyallahu 'anha, menyajikan hidangan tersebut. Rasulullah SAW tidak memakannya. Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu yang berada di tempat itu kemudian bertanya apakah daging tersebut haram.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa daging itu bukan sesuatu yang diharamkan, tetapi beliau tidak terbiasa memakannya.
Dalam riwayat Al-Bukhari, beliau bersabda:
لَا، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ
Artinya: "Tidak, tetapi makanan itu tidak terdapat di negeri kaumku, sehingga aku merasa tidak berselera terhadapnya." (HR Al-Bukhari)
Sikap Rasulullah SAW tersebut menunjukkan bahwa tidak menyukai makanan bukanlah alasan untuk mencelanya. Beliau menyampaikan ketidaksukaan dengan cara yang santun tanpa merendahkan hidangan yang disajikan.
Menjaga Lisan dan Mensyukuri Rezeki
Kisah Rasulullah SAW ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar lebih berhati-hati dalam berbicara, termasuk ketika menyantap makanan bersama keluarga, teman, maupun orang lain.
Komentar yang dianggap sepele terkadang dapat melukai perasaan orang yang telah memasak atau menjamu kita. Karena itu, apabila makanan tidak sesuai dengan selera, sikap yang lebih baik adalah tidak mengambilnya atau meninggalkannya dengan santun.
Bukan berarti seseorang dilarang menyampaikan pendapat mengenai rasa atau kualitas makanan dalam segala keadaan. Evaluasi yang disampaikan secara baik, misalnya untuk memperbaiki masakan atau memberi masukan kepada penjual, berbeda dengan celaan yang bertujuan merendahkan.
Inti keteladanan Rasulullah SAW adalah menjaga adab, menghormati orang lain, dan tidak mengingkari nikmat Allah SWT. Makanan yang tersaji hendaknya disyukuri, sementara ketidaksukaan terhadap jenis makanan tertentu dapat disampaikan tanpa menyakiti perasaan siapa pun.
Dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW, seorang Muslim tidak hanya belajar menikmati makanan, tetapi juga membiasakan diri menjaga lisan dan menghargai rezeki yang telah diberikan Allah SWT.
(wid)