Houthi Bisa Berdamai jika Saudi Akui Kekalahan dan Hormati Hak Rakyat Yaman

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:50 WIB
Houthi Bisa Berdamai jika Saudi Akui Kekalahan dan Hormati Hak Rakyat Yaman
Houthi mau berdamai asalkan Arab Saudi akui kekalahan dan hormati hak rakyat Yaman. Foto/X
A
A
A
SANAA - Seorang pejabat senior Ansarullah atau pemberontak Houthi Mohammad al-Farah menyatakan bahwa perdamaian abadi di Yaman akan tercapai begitu Arab Saudi mengakui kegagalan serangan militer skala penuhnya serta ketidakmampuannya untuk menundukkan bangsa Yaman.

Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Mohammad al-Farah, anggota senior biro politik Ansarullah, menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh dicapai dengan mengorbankan hak-hak rakyat atau melalui penandatanganan gencatan senjata sementara yang justru membuka peluang bagi agresi lanjutan saat status quo berubah.

Farah mencatat bahwa rakyat Yaman telah lama menuntut diakhirinya agresi dan blokade brutal yang dilakukan Arab Saudi, namun seruan mereka tidak ditanggapi maupun dipertimbangkan.

Ia mengatakan bahwa Arab Saudi harus bertanggung jawab atas penderitaan parah yang ditimbulkannya terhadap Yaman, serta harus mengakui fakta bahwa mereka tidak dapat mencapai satu pun tujuannya melalui kekerasan.

Pejabat senior Ansarullah tersebut menegaskan bahwa seruan perdamaian dari Yaman mencerminkan keinginan tulus akan ketenangan dan stabilitas, dan sama sekali bukan tanda kelemahan.

Farah menyatakan bahwa inisiatif apa pun yang tidak menyentuh akar penyebab dan dampak agresi Saudi dapat gagal jika rezim Riyadh memanfaatkan gencatan senjata sementara untuk memulihkan kekuatan, mempersenjatai kembali, dan melancarkan babak baru serangan militer.

Ia menambahkan bahwa agresi berkelanjutan terhadap Yaman akan berakhir begitu rezim Riyadh akhirnya mengakui kegagalan total serangan militernya, serta fakta bahwa rakyat Yaman tidak dapat ditundukkan ataupun dirampas hak mutlaknya untuk mengambil keputusan secara mandiri. Farah menegaskan bahwa jaminan yang kredibel, penghormatan terhadap kedaulatan, dan pengakuan atas hak-hak rakyat harus menjadi landasan bagi setiap inisiatif perdamaian.

Ia memperingatkan bahwa kesepakatan yang didasarkan pada perhitungan yang keliru dan pengabaian terhadap perubahan keseimbangan kekuatan tidak dapat memberikan perlindungan efektif dari agresi lanjutan.

Pejabat tersebut juga mengingatkan bahwa kekayaan, pengaruh, dan kekuatan militer dapat memicu arogansi serta agresi, seraya menekankan bahwa krisis Yaman menggarisbawahi perlunya menghormati kedaulatan negara dan hak-hak bangsa mereka.

Pemerintahan Sana'a mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi pada tanggal 20 Juli, sebagai tanggapan atas "blokade yang tidak adil dan zalim" terhadap Yaman yang telah berlangsung selama hampir 12 tahun.

Militer Yaman telah mengumumkan keberhasilan sejumlah operasi yang menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah.

Pada bulan Maret 2015, Arab Saudi dan sekutunya memberlakukan blokade terhadap Yaman serta melancarkan kampanye militer besar-besaran, dengan dukungan militer, politik, dan logistik dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat.

Perang tersebut telah menewaskan puluhan ribu warga Yaman. Namun, Arab Saudi gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkannya, yaitu memulihkan kembali rezim lama yang melayani kepentingan mereka.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Arab Saudi Tangkap Sejumlah Warga AS karena Rekam Serangan Rudal Houthi
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:30 WIB
Houthi Bisa Berdamai jika Saudi Akui Kekalahan dan Hormati Hak Rakyat Yaman
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:50 WIB
Ratu Cantik Yordania: Hati Kami Bersama Kerajaan Arab Saudi
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:30 WIB