Kisah Imam Malik dan Imam Syafi'i tentang Rezeki, Antara Ikhtiar dan Tawakal

img-redaksi Widaningsih
Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:45 WIB
Kisah Imam Malik dan Imam Syafii tentang Rezeki, Antara Ikhtiar dan Tawakal
Kisah Imam Malik, Imam Syafi’i, hingga Ibrahim bin Adham memberikan pelajaran berharga tentang hubungan antara usaha dan tawakal dalam menjemput rezeki. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah ulama ini, yakni Imam Malik, Imam Syafi'i, hingga Ibrahim bin Adham memberikan pelajaran berharga tentang hubungan antara usaha dan tawakal dalam menjemput rezeki.

Dalam kehidupan sehari-hari, rezekikerap menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Ada yang meyakini bahwa rezeki akan datang dengan sendirinya jika seseorang bertawakal kepada Allah SWT. Sebagian lainnya menekankan pentingnya kerja keras dan usaha agar pintu rezeki terbuka.

Islam sendiri mengajarkan bahwa Allah SWT merupakan pemberi rezeki bagi seluruh makhluk-Nya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, salah satunya melalui Surat Hud ayat 6.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا


Artinya: "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya." (QS Hud: 6).

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT menjamin rezeki setiap makhluk. Namun, jaminan rezeki bukan berarti manusia diperintahkan untuk berpangku tangan. Ikhtiar, doa, dan tawakal merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan.

Pelajaran tentang hal ini tergambar dalam kisah yang populer diceritakan mengenai dua ulama besar, yakni Imam Malik dan Imam Syafi'i.

Kisah Imam Malik dan Imam Syafi'i tentang Rezeki

Imam Malik bin Anas, ulama besar pendiri Mazhab Maliki yang wafat pada 179 Hijriah, dikenal sebagai salah satu guru Imam Syafi'i. Sementara Imam Syafi'i, pendiri Mazhab Syafi'i, wafat pada 204 Hijriah.

Dalam sebuah kisah yang beredar, keduanya diceritakan memiliki penekanan berbeda ketika membahas cara memperoleh rezeki. Imam Malik menekankan pentingnya tawakal kepada Allah SWT, sedangkan Imam Syafi'i mengingatkan bahwa manusia perlu melakukan usaha untuk menjemput rezeki.

Pandangan tentang tawakal tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA.

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا


Artinya: "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang." (HR At-Tirmidzi, no. 2344).

Hadis tersebut menggambarkan bahwa tawakal merupakan sikap berserah diri kepada Allah SWT dengan keyakinan bahwa Dia yang mengatur rezeki. Namun, burung dalam hadis itu tetap keluar dari sarangnya untuk mencari makanan.

Dalam kisah yang beredar tadi, Imam Syafi'i kemudian mengemukakan perumpamaan. Jika burung hanya berdiam diri di dalam sarang, bagaimana ia akan mendapatkan makanan?

Suatu hari, Imam Syafi'i dikisahkan berjalan-jalan dan melihat sekelompok orang sedang memanen anggur. Ia kemudian membantu pekerjaan mereka. Setelah pekerjaan selesai, ia memperoleh beberapa ikat anggur sebagai imbalan.

Imam Syafi'i merasa senang karena mendapatkan contoh yang menurutnya menunjukkan pentingnya ikhtiar. Ia lalu membawa anggur tersebut kepada Imam Malik dan menceritakan bagaimana dirinya memperoleh buah itu setelah membantu orang lain.

Namun, Imam Malik dikisahkan menanggapi pengalaman tersebut dengan sudut pandang berbeda. Ia menerima anggur itu dan menjelaskan bahwa rezeki juga bisa datang melalui perantaraan orang lain, bahkan ketika seseorang tidak sedang mencarinya secara langsung.

Imam Malik pun mengingatkan bahwa manusia perlu menjalankan kewajibannya, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.

Dalam kisah tersebut, keduanya kemudian digambarkan tertawa bersama. Perbedaan penekanan antara usaha dan tawakal tidak lantas merusak hubungan guru dan murid.

Perlu dicatat, kisah dialog Imam Malik dan Imam Syafi'i tentang anggur ini populer sebagai cerita hikmah, tetapi sumber historisnya perlu diverifikasi. Karena itu, kisah tersebut lebih tepat dipahami sebagai ilustrasi untuk mengambil pelajaran, bukan sebagai peristiwa sejarah yang telah dipastikan keabsahannya.

Kisah Ibrahim bin Adham dan Burung yang Terluka

Pelajaran tentang rezeki juga terdapat dalam kisah yang dinisbatkan kepada Ibrahim bin Adham, seorang ulama sufi yang dikenal dengan kezuhudannya.

Dalam cerita yang beredar, suatu hari Ibrahim bin Adham melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, ia melihat seekor burung yang sayapnya patah sehingga tidak mampu terbang dengan leluasa.

Ia kemudian berhenti dan memperhatikan burung tersebut. Ibrahim ingin mengetahui bagaimana burung yang tidak mampu mencari makan itu dapat bertahan hidup.

Tidak lama kemudian, datang seekor burung lain. Burung tersebut mendekati burung yang terluka dan memberinya makanan. Pemandangan itu membuat Ibrahim bin Adham merenungkan betapa luasnya kasih sayang dan pemeliharaan Allah SWT terhadap makhluk-Nya.

Dikisahkan, pengalaman tersebut membuat Ibrahim ingin meninggalkan aktivitas perdagangannya dan memilih berdiam diri untuk beribadah. Ia merasa telah menyaksikan bukti bahwa rezeki dapat datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka.

Namun, keputusan tersebut mendapat tanggapan dari seorang sufi bernama Asy-Syibli dalam cerita yang sama.

Asy-Syibli bertanya mengapa Ibrahim memilih berdiam diri dan meninggalkan aktivitasnya. Setelah mendengar penjelasan Ibrahim tentang burung yang terluka, Asy-Syibli memberikan nasihat yang mengena.

"Wahai Ibrahim, mengapa engkau memilih menjadi burung yang lemah dan menunggu diberi makan? Mengapa engkau tidak memilih menjadi burung yang datang membawa makanan bagi burung lainnya?"

Pesan dalam kisah tersebut mengajak manusia untuk tidak hanya berharap mendapatkan pertolongan, tetapi juga berusaha menjadi perantara kebaikan bagi sesama.

Sebagaimana burung yang membawa makanan kepada burung lain, manusia yang memiliki kemampuan dapat membantu mereka yang sedang kesulitan. Rezeki bukan semata-mata sesuatu yang diterima, melainkan juga amanah yang dapat digunakan untuk menolong orang lain.

Kisah Ibrahim bin Adham dan Asy-Syibli ini juga populer sebagai cerita hikmah. Atribusi dan sumber historisnya perlu diperiksa lebih lanjut sebelum diperlakukan sebagai riwayat yang terverifikasi.

Mukmin yang Kuat Lebih Dicintai Allah

Pesan tentang pentingnya ikhtiar juga sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ


Artinya: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing terdapat kebaikan."

(HR Muslim, no. 2664).

Hadis ini tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik, tetapi juga dapat menjadi pengingat tentang pentingnya memiliki kemampuan dan semangat untuk melakukan kebaikan. Dalam urusan rezeki, seorang Muslim hendaknya berusaha dengan cara yang halal, mengembangkan kemampuannya, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Pada saat yang sama, manusia perlu menyadari bahwa hasil usaha tidak selalu sesuai dengan harapan. Ada kalanya rezeki datang melalui pekerjaan, bantuan orang lain, kesempatan yang tidak terduga, atau jalan lain yang sebelumnya tidak diperhitungkan.

Karena itu, ikhtiar tidak seharusnya membuat seseorang merasa bahwa seluruh keberhasilannya semata-mata hasil kekuatan dirinya. Sebaliknya, tawakal juga tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.

Ikhtiar dan Tawakal Harus Berjalan Beriringan

Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada ulama Mesir, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi, terdapat ungkapan yang populer: Al-jawarihu ta'mal, wal-qulubu tatawakkal.

Ungkapan tersebut dapat dimaknai bahwa anggota tubuh tetap bekerja dan berusaha, sedangkan hati bersandar kepada Allah SWT. Namun, atribusi ungkapan ini perlu diperiksa melalui sumber aslinya apabila hendak dikutip sebagai perkataan autentik beliau.

Pesan yang terkandung di dalamnya sejalan dengan prinsip kehidupan seorang Muslim: bekerja dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki melalui jalan yang halal, berdoa, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Kisah Imam Malik dan Imam Syafi'i mengingatkan bahwa rezeki bisa datang melalui banyak jalan. Sementara kisah Ibrahim bin Adham dan Asy-Syibli mengajarkan bahwa keyakinan terhadap kemurahan Allah semestinya tidak membuat manusia berhenti berusaha.

Lebih dari itu, manusia juga perlu membuka mata terhadap kesulitan orang lain. Ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, kesempatan tersebut dapat digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Pada akhirnya, seorang Muslim tidak cukup hanya berdoa agar rezekinya dilapangkan. Ia juga perlu berikhtiar, menjaga kehalalan penghasilannya, bersyukur atas apa yang diterima, dan berbagi sesuai kemampuannya.

Sebab, tawakal bukanlah sikap pasif menunggu rezeki datang, melainkan keyakinan kepada Allah yang berjalan beriringan dengan usaha dan tanggung jawab. Wallahu a'lam.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait