4 Jenis Rezeki dalam Islam, dari yang Dijamin hingga Tak Terduga

img-redaksi Widaningsih
Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:35 WIB
4 Jenis Rezeki dalam Islam, dari yang Dijamin hingga Tak Terduga
Dalam penjelasan para ulama, rezeki memiliki beberapa macam yang perlu dipahami umat Islam agar tidak keliru dalam menyikapi kehidupan dan mencari nafkah. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Rezeki manusia telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, dalam penjelasan para ulama, rezeki memiliki beberapa macam yang perlu dipahami umat Islam agar tidak keliru dalam menyikapi kehidupan dan mencari nafkah.

Secara umum, rezeki dapat dibedakan menjadi dua, yakni rezeki yang datang kepada manusia dan rezeki yang harus diupayakan melalui ikhtiar. Islam mengajarkan bahwa keyakinan terhadap ketetapan Allah tidak boleh membuat seseorang bermalas-malasan. Sebaliknya, seorang Muslim tetap diperintahkan bekerja, berdoa, dan mencari penghasilan dari jalan yang halal.

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS At-Talaq: 2–3)

Ayat tersebut menegaskan bahwa ketakwaan merupakan salah satu sebab datangnya pertolongan dan rezeki dari Allah. Meski demikian, manusia tidak dapat menentukan bagaimana dan kapan rezeki itu datang karena semuanya berada dalam ketetapan-Nya.

Mengutip penjelasan yang dihimpun Pustaka Pejaten, rezeki dapat dibahas dalam empat kategori, yakni rezeki yang telah dijamin, rezeki melalui usaha, rezeki yang dijanjikan, serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Lantas, bagaimana penjelasan mengenai empat macam rezeki tersebut?

4 Macam Rezeki Manusia

1. Rezeki yang Sudah Dijamin Allah

Rezeki yang dijamin merupakan rezeki yang telah ditetapkan Allah bagi setiap makhluk-Nya. Dalam ajaran Islam, ketetapan mengenai kehidupan manusia berkaitan dengan ajal dan rezeki berada dalam pengetahuan serta kehendak Allah.

Dalam hadis tentang pencatatan takdir janin, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa malaikat diperintahkan mencatat sejumlah perkara ketika janin berada dalam kandungan, termasuk rezeki, ajal, amal, dan keadaan hidupnya.

Keyakinan tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak perlu berputus asa ketika menghadapi kesulitan ekonomi. Setiap orang hendaknya tetap berusaha tanpa menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

"Janganlah kalian menganggap rezeki datang terlambat. Sebab, tidaklah seorang hamba meninggal dunia hingga rezeki yang menjadi bagiannya sampai kepadanya. Karena itu, perbaikilah cara mencari rezeki, ambillah yang halal, dan tinggalkan yang haram." (Hadis ini diriwayatkan Ibnu Hibban)

Pesan tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak terburu-buru atau mengambil jalan yang dilarang agama hanya karena merasa rezekinya belum mencukupi. Rezeki yang telah ditetapkan Allah bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan dorongan untuk mencari nafkah dengan cara yang baik dan halal.

2. Rezeki yang Bergantung pada Usaha atau Kasab

Macam rezeki berikutnya adalah rezeki yang diperoleh melalui usaha atau kasab. Kasab berarti upaya seseorang untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Allah memberikan manusia berbagai potensi, seperti kesehatan, tenaga, akal, keterampilan, dan kesempatan. Semua itu dapat dimanfaatkan untuk mencari rezeki serta menjalankan tanggung jawab dalam kehidupan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ


"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya." (QS An-Najm: 39)

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya ikhtiar dalam kehidupan. Seseorang yang ingin memperoleh penghasilan perlu bekerja, mengembangkan kemampuan, dan memanfaatkan peluang yang tersedia.

Bentuk usaha setiap orang tentu berbeda. Ada yang bekerja sebagai pegawai, berdagang, bertani, menjalankan usaha sendiri, maupun menekuni profesi lainnya. Islam juga mengajarkan bahwa bekerja merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Karena itu, tawakal tidak berarti menunggu rezeki datang tanpa melakukan apa pun.

Meski demikian, hasil usaha setiap orang tidak selalu sama. Ada yang memperoleh penghasilan besar, sementara yang lain harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kondisi tersebut, umat Islam dianjurkan terus berikhtiar, bersabar, dan menjaga kehalalan sumber penghasilannya.

3. Rezeki yang Dijanjikan Allah

Rezeki yang dijanjikan Allah berkaitan dengan berbagai amalan yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis. Di antaranya adalah bersyukur, bersedekah, menyambung silaturahmi, serta memperbanyak istigfar dan tobat.

Salah satu amalan yang dianjurkan adalah memohon ampun kepada Allah. Dalam Surah Nuh ayat 10–12, Allah menjelaskan seruan Nabi Nuh alaihis salam kepada kaumnya agar memperbanyak istigfar.

Allah Ta'ala berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا


"Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu'." (QS Nuh: 10–11)

Selain istigfar, sedekah juga menjadi amalan yang memiliki keutamaan besar. Allah menjanjikan pahala bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. Adapun silaturahmi merupakan amalan yang disebutkan dalam hadis sebagai sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


"Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Amalan-amalan tersebut hendaknya dilakukan dengan niat beribadah kepada Allah, bukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan materi. Rezeki juga tidak selalu hadir dalam bentuk bertambahnya harta, tetapi dapat berupa keberkahan, kesehatan, kemudahan, dan ketenteraman hidup.

4. Rezeki dari Arah yang Tidak Disangka-sangka

Rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka merupakan salah satu bentuk karunia Allah yang disebutkan secara jelas dalam Al-Qur'an. Rezeki ini dapat datang melalui jalan yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan oleh manusia.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS At-Talaq: 2–3)

Ayat tersebut menghubungkan ketakwaan dengan pertolongan dan datangnya rezeki. Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga ketaatan kepada Allah, menjauhi larangan-Nya, serta tetap berusaha mencari nafkah melalui jalan yang halal.

Selain ketakwaan, memperbanyak istigfar juga merupakan amalan yang dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai bagian dari seruan untuk memohon ampunan dan mengharapkan karunia Allah.

Meski demikian, tidak tepat jika seseorang memahami ayat ini sebagai jaminan bahwa setiap orang yang bertakwa pasti segera memperoleh kekayaan dalam bentuk materi. Allah memberikan rezeki sesuai kehendak dan hikmah-Nya, sedangkan manusia diperintahkan untuk terus berusaha dan berserah diri kepada-Nya.

Rezeki Bisa Lapang dan Sempit

Dalam Al-Qur'an, Allah juga menjelaskan bahwa rezeki seseorang dapat dilapangkan atau dibatasi sesuai kehendak-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ


"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki)." (QS Ar-Ra'd: 26, penggalan ayat)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kondisi ekonomi manusia dapat berbeda-beda. Ada yang memperoleh kelapangan harta, sementara yang lain menghadapi keterbatasan. Perbedaan itu hendaknya disikapi dengan rasa syukur, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya mengukur kemuliaan seseorang hanya dari jumlah kekayaannya. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana harta diperoleh, digunakan, dan dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, memahami macam-macam rezeki dalam Islam dapat membantu umat Muslim menyeimbangkan keyakinan dan usaha. Rezeki yang telah ditetapkan Allah tidak meniadakan kewajiban untuk bekerja, sementara ikhtiar yang sungguh-sungguh juga harus disertai doa dan tawakal.

Dengan demikian, seorang Muslim hendaknya terus berusaha melalui jalan yang halal, memperbanyak amal saleh, menjaga silaturahmi, dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan. Sebab, rezeki bukan hanya tentang banyaknya harta, melainkan juga tentang keberkahan dan kemampuan memanfaatkannya untuk kebaikan.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
4 Jenis Rezeki dalam Islam, dari yang Dijamin hingga Tak Terduga
Kalam
Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:35 WIB
Jangan Takut Miskin! Ini 7 Janji Allah tentang Rezeki Manusia
Kalam
Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:14 WIB
Kerja Keras Tak Selalu Bikin Kaya, Ini Pesan Islam tentang Rezeki
Kalam
Selasa, 13 Oktober 2026 - 05:15 WIB