Jangan Takut Miskin! Ini 7 Janji Allah tentang Rezeki Manusia

img-redaksi Widaningsih
Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:14 WIB
Jangan Takut Miskin! Ini 7 Janji Allah tentang Rezeki Manusia
Salah satu sumber rezeki adalah dari usaha, manusia harus berusaha untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Kerja keras, kesungguhan, dan ikhtiar merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Rezeki merupakan salah satu ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah diatur bagi setiap makhluk-Nya. Karena itu, umat Islam tidak sepatutnya diliputi kecemasan berlebihan dalam urusan rezeki. Meski demikian, jaminan rezeki dari Allah bukan berarti manusia boleh berpangku tangan tanpa berusaha.

Dalam Islam, manusia diperintahkan untuk berikhtiar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah. Rezeki juga tidak selalu berbentuk harta benda, tetapi dapat berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, serta ketenangan hati.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengibaratkan kepastian datangnya rezeki seperti kematian yang pasti akan menjumpai setiap manusia.

Beliau bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ


"Seandainya anak Adam melarikan diri dari rezekinya sebagaimana ia melarikan diri dari kematian, niscaya rezekinya akan tetap menjumpainya sebagaimana kematian menjumpainya."

Hadis ini disebutkan dalam As-Silsilah ash-Shahihah nomor 952 karya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak perlu menghabiskan hidupnya dalam ketakutan terhadap masa depan. Kewajiban manusia adalah berusaha dengan cara yang halal, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ


"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya." (QS At-Talaq: 3)

Rasulullah juga menjelaskan pentingnya tawakal melalui perumpamaan burung yang keluar dari sarangnya untuk mencari makanan.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا


"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang."

(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan usaha. Burung tetap keluar dari sarangnya untuk mencari makanan sebelum kembali dalam keadaan kenyang.

Lantas, apa saja sumber rezeki yang dijelaskan dalam Al-Qur'an? Berikut tujuh di antaranya.

1. Rezeki melalui usaha

Islam mengajarkan bahwa manusia harus berusaha untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Kerja keras, kesungguhan, dan ikhtiar merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ


"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya." (QS An-Najm: 39)

Ayat ini menegaskan pentingnya usaha dalam kehidupan manusia. Meski demikian, hasil yang diperoleh tidak selalu sama dengan apa yang diharapkan. Ada kalanya seseorang telah bekerja keras, tetapi hasilnya belum sesuai dengan keinginan.

Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap dianjurkan bersabar, mengevaluasi ikhtiarnya, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.

2. Rezeki melalui rasa syukur

Bersyukur merupakan salah satu sikap penting yang harus dimiliki seorang Muslim ketika memperoleh nikmat, baik dalam jumlah besar maupun kecil.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ


"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu'."

(QS Ibrahim: 7)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa rasa syukur tidak boleh ditinggalkan ketika memperoleh rezeki. Syukur dapat diwujudkan dengan mengakui nikmat Allah, menggunakan harta untuk hal-hal yang baik, serta berbagi dengan orang yang membutuhkan.

Tambahan nikmat dari Allah tidak selalu berarti bertambahnya jumlah uang. Nikmat itu juga dapat berupa keberkahan, kesehatan, kecukupan, dan kemampuan memanfaatkan rezeki secara tepat.

3. Rezeki melalui istigfar dan tobat

Memperbanyak istigfar merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Istigfar berarti memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

Dalam Surah Nuh ayat 10–12, Allah mengisahkan seruan Nabi Nuh alaihis salam kepada kaumnya agar memohon ampunan kepada-Nya.

Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا


"Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu'." (QS Nuh: 10–12)

Ayat tersebut menerangkan hubungan antara istigfar, tobat, dan berbagai nikmat yang Allah karuniakan. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak istigfar dengan sungguh-sungguh, bukan semata-mata untuk mengejar kekayaan, melainkan juga sebagai bentuk penghambaan dan upaya memperbaiki diri.

4. Rezeki melalui sedekah

Sedekah merupakan amalan yang memiliki banyak keutamaan. Islam mengajarkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak sepatutnya membuat seseorang takut kehilangan seluruh keberkahannya.

Allah Ta'ala berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ


"Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS Al-Baqarah: 245)

Ungkapan meminjami Allah dalam ayat tersebut merupakan perumpamaan bagi pengeluaran harta di jalan-Nya. Allah menjanjikan balasan bagi orang-orang yang berinfak dengan ikhlas.

Balasan sedekah tidak selalu datang dalam bentuk uang yang langsung kembali kepada pemberinya. Sedekah juga merupakan ibadah yang mendatangkan pahala, menumbuhkan kepedulian sosial, dan membantu meringankan beban sesama.

5. Rezeki melalui pernikahan

Persoalan rezeki kerap menjadi pertimbangan bagi pasangan yang hendak menikah. Sebagian orang menunda pernikahan karena merasa belum memiliki harta yang cukup atau belum mencapai kemapanan finansial.

Islam memang mengajarkan tanggung jawab dalam pernikahan, termasuk kewajiban memberikan nafkah. Namun, kekhawatiran terhadap kemiskinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup diri dari pernikahan yang baik dan sesuai dengan tuntunan agama.

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ


"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (QS An-Nur: 32)

Ayat ini memberikan harapan kepada mereka yang ingin menikah agar tidak semata-mata dikuasai ketakutan terhadap kondisi ekonomi. Meski demikian, ayat tersebut bukan jaminan bahwa setiap orang yang menikah akan langsung kaya atau terbebas dari kesulitan finansial.

Pernikahan tetap membutuhkan persiapan, tanggung jawab, komunikasi, dan ikhtiar bersama. Rezeki yang diharapkan hadir melalui pernikahan perlu disertai usaha mencari nafkah serta pengelolaan keuangan yang baik.

6. Rezeki bagi anak dan orang tua

Kehadiran anak merupakan amanah sekaligus karunia Allah. Karena itu, Islam melarang orang tua membunuh anak-anak mereka karena takut jatuh miskin.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا


"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar." (QS Al-Isra': 31)

Ayat ini menegaskan bahwa ketakutan terhadap kemiskinan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan nyawa anak. Rezeki setiap makhluk berada dalam ketetapan Allah, sementara manusia tetap wajib menjalankan tanggung jawabnya.

Kehadiran anak tidak dapat semata-mata diukur dari beban ekonomi. Anak juga merupakan amanah yang perlu dipenuhi hak-haknya, termasuk memperoleh kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan pengasuhan yang layak.

Karena itu, pesan ayat ini bukan berarti semakin banyak anak seseorang pasti semakin kaya. Islam mengajarkan keyakinan kepada Allah sekaligus tanggung jawab dalam merencanakan dan memenuhi kebutuhan keluarga.

7. Rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka

Salah satu bentuk karunia Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah datangnya rezeki dari arah yang tidak diperkirakan manusia. Rezeki tersebut berkaitan dengan ketakwaan dan kepasrahan seorang hamba kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS At-Talaq: 2–3)

Ayat ini memberikan dorongan agar umat Islam senantiasa menjaga ketakwaan dalam menjalani kehidupan. Ketakwaan diwujudkan dengan menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta menjaga kejujuran dalam mencari nafkah.

Rezeki yang tidak disangka-sangka dapat hadir melalui kesempatan kerja, pertolongan orang lain, jalan keluar dari kesulitan, atau kemudahan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Namun, ketakwaan bukanlah cara untuk memaksa Allah memberikan kekayaan sesuai keinginan manusia. Seorang Muslim tetap perlu bersabar ketika menghadapi keterbatasan dan bersyukur ketika memperoleh kelapangan.

Pada akhirnya, keyakinan bahwa rezeki telah diatur Allah semestinya membuat seorang Muslim lebih tenang dalam menjalani kehidupan. Keyakinan tersebut bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan dorongan untuk terus berikhtiar, menjaga kehalalan sumber penghasilan, memperbanyak syukur, dan bertawakal kepada-Nya.

Dengan demikian, manusia tidak perlu mencemaskan rezeki secara berlebihan, tetapi juga tidak boleh mengabaikan tanggung jawab untuk berusaha. Rezeki adalah karunia Allah, sedangkan ikhtiar dan tawakal merupakan bagian dari sikap seorang hamba dalam menjemputnya.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
4 Jenis Rezeki dalam Islam, dari yang Dijamin hingga Tak Terduga
Kalam
Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:35 WIB
Jangan Takut Miskin! Ini 7 Janji Allah tentang Rezeki Manusia
Kalam
Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:14 WIB
Kerja Keras Tak Selalu Bikin Kaya, Ini Pesan Islam tentang Rezeki
Kalam
Selasa, 13 Oktober 2026 - 05:15 WIB