Perang Arab Saudi dengan Houthi dimulai sejak lebih dari satu dekade silam ketika Saudi pimpin 9 negara membombardir Yaman. Foto/Anadolu
SANAA - Kelompok Houthi atau Ansar Allah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada 10 Oktober, menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Serangan itu menjadi yang paling mematikan terhadap kerajaan tersebut dalam lebih dari satu dekade, sehingga memaksa otoritas menangguhkan operasional bandara.
Insiden ini bukanlah kejadian yang berdiri sendiri.
Sejak pertempuran kembali pecah antara Arab Saudi dan kelompok yang didukung Iran tersebut pada Juli tahun ini, Houthi telah menyerang sedikitnya lima bandara di Arab Saudi. Bandara-bandara itu meliputi Bandara Internasional King Abdullah bin Abdulaziz di Jizan, Bandara Internasional Abha, Bandara Najran, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam.
Sejauh ini, sedikitnya 20 orang tewas dalam serangkaian serangan tersebut dan ratusan lainnya terluka. Serangan juga menyebabkan kerusakan pada landasan pacu, terminal, dan pesawat.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh saja telah diserang tiga kali dalam pekan ini. Dua serangan sebelumnya terhadap bandara tersebut pada pekan ini menewaskan empat orang dan menyebabkan kerusakan parah pada sebuah pesawat komersial Saudi yang sedang diparkir di landasan.
Houthi bahkan telah menyatakan seluruh wilayah udara Arab Saudi sebagai "zona operasi militer" dan mengatakan maskapai penerbangan sebaiknya menghindari penerbangan ke negara tersebut.
Arab Saudi mengoperasikan salah satu jaringan pertahanan udara berlapis paling luas di Timur Tengah. Lapisan pertahanan atasnya mencakup sistem THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) buatan Amerika Serikat (AS), bersama baterai rudal Patriot, sistem pertahanan udara Cheongung-II dari Korea Selatan, serta peluncur HAWK yang telah di-upgrade.
Arab Saudi juga memiliki sistem rudal antipesawat Crotale buatan Prancis, sistem Avenger yang dilengkapi rudal Stinger, meriam antipesawat, serta sistem laser Silent Hunter yang dipasok China.
Selain gencar tembakkan rudal, Houthi turut memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi dengan menghambat jalur di Selat Bab al-Mandab, Laut Merah. Mereka turut menargetkan kilang minyak dan jalur pipa minyak East-West milik kerajaan tersebut.
Di tengah kabut perang, konteks penting mudah terlewatkan: perang Houthi–Arab Saudi tidak dimulai dengan serangan terhadap bandara-bandara Saudi saat ini. Konflik itu juga bukan baru dimulai pada Juli, ketika gencatan senjata 2022 antara kedua pihak runtuh setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap Bandara Sanaa.
Kedua pihak sebenarnya telah berperang selama hampir dua dekade.
Awal Mula Konflik Arab Saudi vs Houthi
Houthi merupakan gerakan politik-keagamaan Syiah Zaidiyah yang berasal dari wilayah Saada di Yaman utara. Gerakan ini muncul pada 1990-an sebagai kelompok kebangkitan keagamaan yang menentang korupsi pemerintah pusat, marginalisasi ekonomi dan sosial yang mereka alami, serta meningkatnya pengaruh Wahhabisme yang didukung Arab Saudi di Yaman, termasuk di wilayah-wilayah yang secara tradisional dihuni komunitas Zaidiyah.
Perbatasan darat Arab Saudi dengan Yaman merupakan yang terpanjang bagi kerajaan tersebut, dengan panjang sekitar 1.200 kilometer. Sebagian besar perbatasan itu masih sulit diawasi secara ketat.
Karena itu, meluasnya pengaruh Iran melalui pemberontak Houthi membawa konsekuensi keamanan yang tidak bisa diabaikan Riyadh.
Kemampuan Houthi dalam menggunakan drone dan rudal, ditambah arti strategis jalur Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab bagi ekspor minyak Saudi, semakin menambah risiko bagi kerajaan tersebut.
Faktor-faktor ini membuat Riyadh berkepentingan untuk membendung peningkatan pengaruh Iran di Yaman sekaligus melemahkan kemampuan militer Houthi. Pada saat yang sama, Arab Saudi juga ingin mencegah keruntuhan ekonomi Yaman.
Jika Yaman runtuh, krisisnya hampir pasti akan meluas ke negara tetangganya di utara, yakni Arab Saudi. Saat ini, terdapat lebih dari dua juta migran Yaman di Arab Saudi. Keruntuhan ekonomi dapat mendorong jutaan warga Yaman lainnya untuk masuk ke negara tersebut.
Riyadh secara rutin memberikan bantuan keuangan kepada pemerintah Yaman untuk mencegah keruntuhannya. Dalam 14 tahun terakhir, Arab Saudi telah menyalurkan bantuan sebesar USD12,6 miliar.
Setelah menginvestasikan dana sebesar itu, Riyadh jelas berupaya memengaruhi siapa yang memimpin Yaman dan bagaimana kebijakan negara tersebut dijalankan.
Namun, keterlibatan Arab Saudi di Yaman tidak pernah terbatas pada bantuan keuangan semata.
Riyadh pertama kali terlibat secara militer di Yaman 17 tahun lalu, yakni pada 2009.
Antara 2004 hingga 2010, pemerintah Yaman dan Houthi terus terlibat dalam permusuhan. Pertempuran tersebut kerap meluas hingga ke wilayah selatan Arab Saudi.
Setelah Houthi menyerang pos-pos perbatasan Saudi pada November 2009 dan menewaskan sejumlah penjaga perbatasan, Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi menggunakan jet tempur F-15 dan Tornado. Riyadh bahkan melakukan operasi darat terbatas.
Yang patut dicatat, operasi tersebut merupakan operasi militer sepihak pertama Arab Saudi dalam beberapa dekade.
Pertempuran berlanjut pada 2010 dan menimbulkan korban besar di pihak Saudi. Sejumlah perkiraan menyebut lebih dari 130 tentara Saudi tewas.
Riyadh dan Houthi mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 2010 yang menghentikan pertempuran. Sementara itu, Houthi terus memperluas wilayah kekuasaan mereka di Yaman. Pada akhir 2014, kelompok tersebut telah menduduki Bandara Sanaa dan Bandara Aden yang sangat strategis.
Maret 2015, Arab Saudi Kembali Serang Yaman
Pada Maret 2015, Arab Saudi kembali terjun ke Yaman melalui Operasi Badai Penentu (Operation Decisive Storm).
Kali ini, Riyadh tidak bertindak sendirian. Arab Saudi membentuk koalisi yang terdiri atas delapan negara, yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, Mesir, Maroko, dan Sudan. Amerika Serikat juga memberikan dukungan logistik dan intelijen.
Kampanye militer tersebut dimulai dengan serangan udara besar-besaran yang menyasar sistem pertahanan udara, bandara dan pangkalan udara, lokasi peluncuran rudal, serta posisi-posisi Houthi. Riyadh juga memberlakukan blokade laut terhadap Yaman.
Koalisi secara khusus menargetkan bandara-bandara Yaman, pangkalan udara, rudal pertahanan udara, serta pesawat sipil dan militer. Tujuannya adalah melumpuhkan kemampuan udara apa pun yang mungkin telah diperoleh Houthi setelah mereka merebut aset-aset milik pemerintah Yaman.
Pada Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa, Pangkalan Udara al-Dulaimi yang berada di dekatnya, serta Pangkalan Udara Al Anad.
Sejumlah laporan menyebut serangan tersebut merusak atau menghancurkan puluhan pesawat, termasuk pesawat angkut CASA CN-235M-300 milik Angkatan Udara Yaman dan pesawat Beechcraft Super King Air di pangkalan udara al-Dulaimi.
Serangan itu juga merusak satu helikopter Mi-8, dua helikopter Bell 214 Huey, sejumlah jet tempur Su-22 untuk serangan darat, serta jet F-5. Pada akhir Maret, koalisi menghancurkan sebuah pesawat angkut Ilyushin Il-76TD di Bandara Internasional Sanaa.
Koalisi turut merusak landasan pacu Bandara Internasional Sanaa.
Pada April, koalisi kembali menyerang bandara tersebut. Sebuah pesawat penumpang Bombardier CRJ702ER milik maskapai Yaman, Felix Airways, terbakar. Sebuah pesawat kargo lainnya juga terkena serangan. Dua jet tempur MiG-29 milik Angkatan Udara Yaman juga dilaporkan hancur dalam serangan terkait di bandara tersebut.
Ketika sebuah pesawat kargo Iran yang diduga membawa bantuan kemanusiaan mencoba mendarat di Bandara Sanaa, jet-jet koalisi kembali menyerang bandara tersebut dan membombardir landasan pacunya hingga tidak dapat digunakan.
Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, saat itu mengatakan kepada Reuters bahwa bandara dibombardir setelah sebuah pesawat Iran menolak berkoordinasi dengan koalisi dan pilotnya mengabaikan perintah untuk berbalik arah.
Dia mengatakan pengeboman landasan pacu membuatnya tidak dapat digunakan untuk penerbangan bantuan yang telah direncanakan.
"Pejabat bandara mengatakan serangan itu menyebabkan sebuah pesawat sipil yang dioperasikan Felix Airways milik Yaman terbakar. Sebuah pesawat kargo juga terkena serangan, kata mereka," demikian laporan Reuters yang diterbitkan pada saat itu.
Bandara di kota Hodeidah, yang terletak di pesisir Laut Merah, juga dibombardir. Serangan-serangan tersebut berlanjut pada Mei.
Sebuah laporan pada waktu itu menyebut satu MiG-29, dua F-5, tiga Su-22, satu Mi-8, dan dua pesawat angkut Il-76TD hancur dalam serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman pada Mei 2015.
Angkatan Udara Yaman secara efektif dilumpuhkan dalam serangkaian serangan tersebut. Serangan koalisi menghancurkan sebagian besar pesawat MiG-29, Su-22, F-5, dan pesawat pendukung saat berada di darat, atau membuatnya tidak dapat digunakan.
Koalisi kembali menyerang bandara-bandara Yaman pada 2017 dan 2018.
Operasi militer pimpinan Arab Saudi berlangsung selama tujuh tahun, dari 2015 hingga 2022, ketika Riyadh dan Houthi mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Gencatan senjata itu pecah pada Juli 2026, ketika Riyadh kembali membombardir Bandara Sanaa untuk mencegah sebuah pesawat Iran mendarat di bandara tersebut.
Namun, pada Juli 2026, kemampuan ofensif Houthi telah meningkat secara signifikan.
Kali ini, justru Houthi yang memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi dan berulang kali menargetkan bandara sipil serta infrastruktur minyak milik kerajaan tersebut.
Ketika serangan Houthi terhadap bandara-bandara Saudi menjadi berita utama dunia, latar belakang yang membuka jalan bagi serangan-serangan itu sebenarnya telah terbentuk lebih dari satu dekade lalu, pada 2015.
Belum jelas nasib akhir dari konflik yang telah berlangsung hampir dua dekade antara Riyadh dan Houthi ini.
(mas)