Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman. Arab Saudi kecewa dengan minimnya dukungan sekutu Barat dalam perang melawan Houthi Yaman. Foto/SPA
RIYADH -
Kerajaan Arab Saudi kecewa dengan terbatasnya dukungan yang mereka terima dari sekutu Barat dalam perang melawan kelompok Houthi Yaman. Sikap kerajaan itu diungkap
Bloomberg dalam laporannya, yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah ini.
"Kekecewaan Riyadh semakin besar terkait terbatasnya bantuan yang diberikan oleh sekutu Baratnya," kata sumber-sumber tersebut.
Inggris, menurut laporan itu, telah memasok pesawat tanker kepada Arab Saudi. Riyadh telah meminta dukungan pertahanan tambahan, yang diajukan dalam beberapa minggu terakhir, namun belum disetujui.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi belum berkomentar atas laporan dari
Bloomberg.
Awal bulan ini,
Axios melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menolak permintaan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman al-Saud untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya telah menegaskan kembali komitmen Washington terhadap perjanjian pertahanan bersama dengan Arab Saudi, dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat berniat memenuhi seluruh kewajibannya kepada kerajaan tersebut.
Sementara itu, Israel dilaporkan telah menawarkan bantuan militer kepada Arab Saudi untuk memerangi kelompok Houthi dengan harapan kedua negara dapat memulai proses normalisasi hubungan. Namun, tawaran itu ditolak Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Upaya Zionis Israel untuk ikut campur perang tersebut diungkap surat kabar
Haaretz, Selasa (13/10/2026), yang mengutip dua pejabat diplomatik. Menurut laporan tersebut, Israel berusaha meyakinkan Arab Saudi melalui Amerika Serikat (AS).
Laporan itu juga menyebutkan tawaran bantuan Israel datang langsung dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pemimpin Zionis yang sudah lama mengincar normalisasi hubungan Israel dan Arab Saudi.
Salah satu sumber diplomatik menyatakan Pangeran Mohammed bin Salman memveto upaya Netanyahu. Alasannya, kerja sama dengan Israel tidak akan memberikan kesan yang baik di mata masyarakat Arab Saudi.
Sumber tersebut berpendapat bahwa selama Mohammed bin Salman tetap menolak, intervensi militer Israel di Yaman tidak akan terlaksana.
Yaman dilanda perang saudara yang bermula setelah Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014.
Arab Saudi kemudian memimpin koalisi pendukung Yaman yang diakui masyarakat internasional. Koalisi itu memulai intervensi militer pada Maret 2015. Pertempuran sejak itu mereda dengan kesepakatan gencatan senjata.
Namun, pertempuran kembali pecah sejak beberapa bulan lalu dan terus memanas dalam beberapa hari terakhir. Houthi yang didukung Iran menargetkan Arab Saudi dengan rudal balistik dan drone, dengan alasan bahwa mereka telah menjadi sasaran serangan.
Pada Senin malam, kelompok Houthi mengeklaim bahwa mereka telah menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dengan rudal balistik. Mereka juga mengeklaim telah menyerang Pangkalan Udara Khamis Mushait di Arab Saudi bagian selatan dengan drone.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan dalam sebuah pernyataan di X bahwa kelompoknya telah menembakkan rudal balistik ke bandara tersebut, seraya mengeklaim serangan itu akurat.
Sebelumnya, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengumumkan pencegatan dan penghancuran rudal balistik yang diluncurkan oleh Houthi ke arah Riyadh, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Pengumuman koalisi tersebut bertepatan dengan pernyataan Pertahanan Sipil Arab Saudi bahwa bahaya telah berlalu di Riyadh, beberapa menit setelah mereka mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi bahaya.
Dalam pernyataan yang sama, Saree mengatakan kelompoknya juga telah melancarkan serangan drone terhadap Pangkalan Udara Khamis Mushait. "Serangan ini menghantam target secara langsung," katanya.
Belum ada komentar segera dari pihak Arab Saudi terkait klaim serangan terhadap Pangkalan Udara Khamis Mushait.
Saree kembali menyampaikan peringatan kelompoknya kepada maskapai penerbangan, karyawan, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara serta wilayah udara Arab Saudi karena dianggap tidak aman, namun mengecualikan bandara dan wilayah udara di Makkah dan Madinah.
Arab Saudi telah menghadapi serangkaian serangan terhadap bandara dan fasilitas sipil dalam beberapa hari terakhir di tengah eskalasi konfrontasi militer dengan Houthi.
Sebelumnya, Pertahanan Sipil Arab Saudi menyatakan pada Senin malam bahwa situasi bahaya telah berlalu di sebuah kegubernuran di wilayah selatan Arab Saudi, setelah peringatan darurat sempat diaktifkan.
"Sebuah peringatan telah dikeluarkan oleh Platform Peringatan Dini Nasional di Kegubernuran Khamis Mushait untuk memberi tahu adanya potensi bahaya," demikian pernyataan badan tersebut melalui platform media sosial X.
Sekitar 10 menit kemudian, mereka mengumumkan: "Bahaya telah berlalu di Kegubernuran Khamis Mushait."
"Demi keselamatan Anda, teruslah mematuhi instruksi Pertahanan Sipil serta hindari berkerumun dan merekam kejadian," imbuh mereka.
Badan tersebut tidak merinci jenis potensi bahaya yang dimaksud ataupun memberikan informasi mengenai korban maupun kerusakan.
(mas)