Sedang tren di China, para warga lebih memilih membeli rumah second atau bekas ketimbang rumah baru. Foto/The New York Times/Bryan Denton
JAKARTA - Sektor perumahan di
China menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dalam beberapa bulan terakhir setelah mengalami tekanan hebat sejak 2021.
Di tengah penurunan tajam produksi rumah baru akibat kelesuan pasar properti yang berkepanjangan, muncul fenomena baru: lonjakan signifikan pada pangsa transaksi rumah bekas (
second-hand homes).
Menurut pengamat geopolitik Sun Lee, pangsa penjualan rumah bekas melonjak drastis dari 27 persen pada tahun 2020 menjadi lebih dari 50 persen pada 2026.
"Meski sekilas terlihat sebagai angin segar yang menandai fase stabilisasi pasar, analisis mendalam menunjukkan adanya persoalan struktural yang mengkhawatirkan di balik klaim optimistis para pejabat pemerintah yang menyebutnya sebagai fase baru," ucapnya, seperti dikutip dari
Mizzima, Selasa (13/10/2026).
Lee mengatakan transaksi rumah bekas pada dasarnya hanyalah proses transfer kepemilikan, bukan produksi fisik baru. Berbeda dengan konstruksi perumahan baru yang mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB), penjualan rumah bekas tidak menciptakan nilai tambah baru bagi ekonomi (kecuali biaya komisi broker).
Dengan investasi properti yang diproyeksikan menyusut sekitar 20 persen dan pembangunan hunian baru yang terus merosot, perekonomian dinilai kehilangan motor penggerak tradisionalnya yang selama ini didukung oleh penjualan lahan, proyek konstruksi, dan permintaan industri dasar seperti baja dan semen.
"Lonjakan penjualan rumah bekas bukanlah dirayakan sebagai bentuk kesuksesan ekonomi, melainkan indikator tingginya kehati-hatian konsumen," ujar Lee.
Trauma akibat kegagalan model pra-jual, di mana pembeli harus membayar lunas bertahun-tahun sebelum bangunan selesai—namun berujung pada proyek mangkrak dan utang KPR (kredit pemilikan rumah) yang tetap harus dibayar—telah menciptakan masalah seleksi merugikan (
adverse selection).
"Konsumen kini sangat enggan mengambil risiko di pasar perumahan baru. Memilih rumah second adalah cara pembeli menghindari risiko pengembang bangkrut atau proyek terbengkalai," ungkap Lee.
Pengelolaan Informasi dan Ilusi ‘Fase Baru'
Pemerintah China dinilai Lee cukup piawai dalam mengarahkan narasi publik untuk membentuk citra positif. Pembingkaian lonjakan transaksi rumah bekas sebagai "peningkatan struktural" atau "fase baru" dinilainya menyesatkan.
Menurut Lee, angka penjualan yang tinggi tersebut sebenarnya merupakan respons logis terhadap masalah kronis kelebihan pasokan (
oversupply) dan runtuhnya kepercayaan pasar.
"Ketika sebuah negara dapat mengekspor kelebihan produksi barang dagangan ke luar negeri untuk meredam dampaknya, sektor non-tradabel seperti perumahan dan konstruksi memaksa perekonomian domestik untuk menanggung bebannya secara langsung," tutur Lee.
"Tanpa pemulihan kepercayaan pada pasar konstruksi baru dan peningkatan selera risiko konsumen, lonjakan rumah seken hanyalah ilusi stabilitas di atas fondasi ekonomi yang rapuh," pungkasnya.
(mas)