7 Strategi NATO Tangkal Invasi Rusia, SACEUR: Semua Langkah Putin Akan Sia-sia

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:40 WIB
7 Strategi NATO Tangkal Invasi Rusia, SACEUR: Semua Langkah Putin Akan Sia-sia
NATO akan tangkal invasi Rusia. Foto/X
A
A
A
LONDON - Komandan Tertinggi Sekutu NATO untuk Eropa (SACEUR), Alexus Grynkewich, meluncurkan strategi pertahanan baru yang bertujuan memastikan bahwa serangan apa pun terhadap anggota aliansi akan menjadi "benar-benar sia-sia", di tengah situasi di mana negara-negara di sayap timur NATO menghadapi sabotase, pembakaran sengaja, dan intrusi pesawat nirawak.

7 Strategi NATO Tangkal Invasi Rusia, SACEUR: Semua Langkah Putin Akan Sia-sia

1. Siapa Berperang Kapan Saja

Berbicara di Forum Keamanan Warsawa, Grynkewich mengatakan strategi yang dikenal sebagai 'Teori Perang' ini dirancang untuk mencegah musuh menembus wilayah NATO dan mempertahankan serangan.

"Jika diserang, kami siap bertempur malam ini juga," ujar Grynkewich di hadapan hadirin yang menyambutnya dengan tepuk tangan meriah. "Kami akan terus bersiap dan berlatih setiap hari, sehingga kami akan lebih siap besok, dan bahkan lebih siap lagi pada hari berikutnya," tambahnya.

Grynkewich mengatakan strategi ini dimaksudkan untuk meyakinkan satu miliar orang yang berada di bawah payung keamanan NATO, sekaligus memberi sinyal kepada musuh—seperti Rusia—bahwa aliansi tersebut siap merespons invasi.

"Formasi musuh akan diputus dari pasokan bantuan. Komandan musuh tidak akan mampu mengendalikan pasukan mereka. Pasukan dan kemampuan pendukung musuh akan dikurangi dan dihancurkan," ujarnya, dilansir Euro News. "Singkatnya, kami akan memastikan serangan apa pun, terhadap sekutu mana pun, terbukti benar-benar sia-sia."

2. Memadukan Perang Konvensional dan Teknologi Canggih

Didukung oleh seluruh 32 anggota NATO, rencana ini memadukan kemampuan militer konvensional—termasuk pasukan darat dan perangkat keras militer—dengan teknologi canggih seperti pesawat nirawak, sistem penangkal pesawat nirawak, dan kecerdasan buatan.

Strategi ini juga mengambil pelajaran dari peperangan modern, khususnya pertempuran di darat dan di udara di atas Ukraina. "Kami belajar banyak dari mitra-mitra Ukraina," ujar Grynkewich dalam forum tersebut.

3. Mengacu pada 3 Prinsip

Strategi ini bertumpu pada tiga prinsip—"menghalangi", "melemahkan", dan "melumpuhkan"—yang digambarkan Grynkewich sebagai prinsip sederhana namun krusial bagi pendekatan NATO.

"Kami akan menghalangi serangan awal. Jika serangan terus berlanjut, kami akan melemahkannya dan mencegah setiap upaya kemajuan pasukan musuh. Dan jika diperlukan, kami akan melumpuhkan kekuatan musuh serta sistem operasional tempur yang dikerahkan untuk melawan kami," ujarnya.

4. Menghalangi: Mencegah Kemajuan Awal

Tahap pertama akan berfokus pada upaya menghentikan pasukan musuh agar tidak merebut wilayah aliansi.

Pasukan darat NATO akan menghadapi formasi musuh yang bergerak maju, membendung pergerakan mereka, dan menghancurkan pasukan yang mencoba merangsek masuk ke wilayah aliansi.

"Kami akan menahan posisi formasi musuh dan mencegah perebutan wilayah Aliansi," kata Grynkewich. "Pasukan darat akan menyerang musuh dan menghancurkan kekuatan mereka yang sedang bergerak maju," tambahnya.

5. Melemahkan: Menghentikan Serangan Lanjutan

Jika serangan awal berlanjut, NATO akan mengerahkan berbagai kemampuan yang lebih luas untuk mengacaukan dan memukul mundur pasukan musuh yang bergerak maju.

Hal ini mencakup penggunaan sensor canggih dan sistem otonom, yang mampu mengidentifikasi serta menilai ancaman dengan intervensi manusia yang minim atau bahkan tanpa intervensi sama sekali.

Grynkewich mengatakan bahwa strategi ini akan memadukan kemampuan dari berbagai domain operasional untuk mencegah pasukan musuh melakukan pergerakan lebih jauh.

6. Melumpuhkan: Mematikan Kemampuan Tempur Musuh

Tahap akhir tidak hanya akan menyasar pasukan musuh, tetapi juga sistem yang memungkinkan mereka untuk beroperasi.

Sasaran ini mencakup struktur komando, jaringan pasokan, dan infrastruktur logistik lainnya, dengan memanfaatkan kemampuan seperti serangan presisi jarak jauh dan jaringan sensor.

Tujuannya adalah untuk mengacaukan operasi militer musuh secara keseluruhan dan membuat kekuatan mereka tidak lagi mampu mempertahankan serangan.

"Pendekatan ini juga mengambil pelajaran dari peperangan modern di Ukraina dan Timur Tengah," kata Grynkewich. NATO menegaskan strateginya bersifat defensif. Grynkewich menegaskan bahwa strategi NATO ditujukan untuk melindungi wilayah aliansi, bukan untuk mengejar ambisi teritorial.

"Kami tidak memiliki rencana, niat, ataupun ambisi apa pun selain melindungi rakyat kami dan mempertahankan wilayah kami," ujarnya.

Ia menilai risiko serangan mendadak terhadap aliansi tersebut tergolong rendah, namun memperingatkan bahwa NATO akan merespons jika pihak lawan memutuskan untuk melancarkan serangan.

"Jika ada pihak yang cukup nekat untuk menyerang kami, kami akan melawan," katanya dalam forum tersebut.

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan di kalangan anggota NATO, khususnya negara-negara di sayap timur, di mana pihak berwenang telah melaporkan berbagai insiden seperti sabotase, pembakaran sengaja, dan penerobosan wilayah udara oleh pesawat nirawak (drone)—beberapa di antaranya melibatkan bahan peledak standar militer.

Grynkewich menyatakan bahwa situasi keamanan yang semakin menantang ini menegaskan perlunya NATO menunjukkan kesiapannya dalam mempertahankan wilayah aliansi.

7. Mengutamakan Pertahanan Kolektif

Saat ditanya apakah strategi tersebut masih relevan di tengah kekhawatiran sejumlah negara anggota mengenai komitmen Amerika Serikat terhadap NATO, Grynkewich merujuk pada ikrar pertahanan kolektif aliansi tersebut.

Ia mengatakan bahwa Washington telah menyetujui pernyataan dalam KTT NATO bulan Juli yang menegaskan kembali "komitmen yang sangat kokoh terhadap Pasal 5".

Pasal 5 merupakan landasan prinsip pertahanan kolektif NATO, yang menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Profesor AS: NATO Remehkan Senjata Nuklir Rusia Sama Saja Bunuh Diri
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:13 WIB
Meski Berulang Kali Dikhianati Trump, 5 Alasan Eropa Masih Mendukung Ukraina
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:30 WIB
Untuk Pertama Kalinya, Putin dan Trump Sepakat Gulingkan Zelensky
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 19:32 WIB