Meski berulang kali dikhianati Trump, Eropa masih mendukung Ukraina. Foto/X
LONDON - Para pemimpin Eropa merapatkan barisan dan bersatu mendukung Ukraina saat kabar mengenai kesepakatan diesel antara Donald Trump dan Vladimir Putin terus memicu guncangan di seluruh aliansi.
Eropa sekali lagi berusaha menjaga wibawanya setelah Presiden AS Donald Trump mengejutkan benua tersebut dengan membuat kesepakatan khusus bersama mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, untuk melepas ribuan ton diesel yang sebelumnya terkena sanksi.
Kabar ini membuat cemas Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya, yang sejak lama mewaspadai diplomasi Trump yang sulit ditebak serta pemahamannya mengenai makna perdamaian yang adil dan langgeng.
Meski Berulang Kali Dikhianati Trump, 5 Alasan Eropa Masih Mendukung Ukraina
1. Trump Tak Pernah Berkonsultasi dengan Eropa
Ketegangan antara kedua sisi Atlantik tidak pernah benar-benar mereda sejak Februari tahun lalu, ketika Trump secara tak terduga menelepon Putin dan memulai negosiasi untuk mengakhiri perang tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemimpin Eropa mana pun.
Itu adalah awal dari serangkaian perkembangan tak terduga yang mengguncang Eropa dan menjungkirbalikkan asumsi lama mereka mengenai tatanan internasional pascaperang. Perkembangan tersebut mencakup pertemuan puncak Trump-Putin yang diatur secara mendadak di Alaska, bocoran rencana 28 poin yang sangat menguntungkan Moskow, serta pengecualian sanksi untuk minyak mentah Rusia.
Kesepakatan diesel, yang diumumkan pada hari Jumat di Truth Social, menambah babak baru dalam rangkaian peristiwa tersebut.
2. Trump Selalu Menyerang Legimatasi Presiden Ukraina
Melansir
Euro News, Trump kemudian kembali menggunakan pola yang sudah tak asing lagi: serangan terbuka terhadap legitimasi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan seruan untuk mengadakan pemilihan umum baru. Konstitusi Ukraina melarang penyelenggaraan pemilu di masa perang, sebuah poin yang kerap diingatkan Zelenskyy kepada Trump.
"Saya sarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan, karena dia sebenarnya bisa saja membuat banyak kesepakatan namun entah mengapa tidak pernah melakukannya," ujar Trump di tengah sambutan meriah dari pihak Moskow. Seperti pada episode-episode sebelumnya, Eropa berupaya keras untuk merapatkan barisan, bersatu mendukung Ukraina, dan menegaskan bahwa—apa pun tindakan atau pernyataan Gedung Putih—pihak Eropa akan tetap teguh pada langkah yang telah disepakati.
"Saya rasa kita perlu bersikap serius secara kolektif. Hari ini, menurut saya, tidak ada alasan faktual bagi kita untuk mengubah posisi kita," ujar Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Senin.
3. Eropa Memiliki Harga Diri
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa meniru kesepakatan diesel Trump-Putin adalah hal yang "sama sekali tidak mungkin" bagi Eropa, meskipun harga energi sedang melonjak. Itu karena Eropa memiliki harga diri.
"Rusia hanya akan bernegosiasi secara serius jika berada di bawah tekanan, dan itulah sebabnya kami tetap mempertahankan sanksi terhadap Rusia," kata Merz kepada para wartawan.
Pesan serupa juga bergema di Luksemburg saat para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu dan menegaskan bahwa kampanye tekanan terhadap Moskow akan terus berlanjut tanpa kendur. Beberapa pihak secara terbuka mengecam kesepakatan diesel tersebut, menyebutnya sebagai langkah yang disesalkan dan mengkhawatirkan.
4. Mengutamakan Persatuan Eropa
Para menteri luar negeri juga menyetujui penambahan 1.600 nama ke dalam daftar sanksi—jumlah terbanyak yang pernah tercatat—di mana separuh dari nama-nama tersebut terkait dengan produksi rudal balistik yang menghantam Ukraina. Perbedaan sikap antara Uni Eropa dan AS pun tampak sangat kontras.
"Kami menunjukkan persatuan hari ini terkait daftar (1.600 nama) tersebut," ujar Perwakilan Tinggi Kaja Kallas di akhir pertemuan.
"Namun, tentu saja, dampaknya akan jauh lebih kuat jika kami bertindak bersama AS. Pesan kami kepada Amerika Serikat adalah bahwa hanya tekanan yang efektif dalam menghadapi Rusia."
Meskipun kesepakatan Trump-Putin mengikuti pola diplomasi tak terduga yang kerap mengesampingkan kepentingan Eropa, konteks situasi yang suram kali ini membuatnya berbeda.
Kesepakatan diesel tersebut muncul di saat Rusia sedang meningkatkan serangan secara drastis terhadap Ukraina, yang menewaskan banyak warga sipil serta menghancurkan infrastruktur penopang ekonomi lokal, termasuk pembangkit listrik, pusat data, gudang, dan jalur kereta api.
5. Membela Mati-matian Ukraina
Blokade Rusia di Laut Hitam telah menyebabkan petani Ukraina tidak dapat mengirimkan berton-ton biji-bijian kepada pelanggan global mereka, sekaligus membuat negara kehilangan sumber pendapatan yang vital. Di tengah stagnasi aktivitas ekonomi dan membengkaknya biaya material, Uni Eropa menyadari bahwa paket bantuan bernilai miliaran euro yang mereka siapkan tidak akan mencukupi pada tahun depan. Dengan absennya peran AS, beban pembiayaan pun mau tak mau harus ditanggung oleh Eropa sendiri.
Prospek Rusia menjual solar—yang sebelumnya terkena sanksi—dan meraup keuntungan tambahan untuk membiayai serangan bom yang menghujani Ukraina merupakan hal yang sangat sulit diterima oleh Kyiv dan sekutunya. Situasi ini juga memunculkan pertanyaan serius mengenai sejauh mana AS dapat diandalkan untuk memberikan jaminan keamanan dalam skenario pascaperang.
Kendati demikian, penilaian kolektif Eropa tetap menyatakan bahwa memisahkan diri dari Amerika akan membawa lebih banyak kerugian daripada keuntungan.
"Yang perlu kita lakukan adalah memusatkan kembali dan melipatgandakan upaya kita untuk terus menekan Rusia," ujar Menteri Luar Negeri Irlandia, Helen McEntee.
"Prioritas kami haruslah mempertahankan tekanan tersebut, namun juga menjaga saluran komunikasi dengan AS, karena hal ini tidak akan dapat dicapai tanpa dukungan AS."
(ahm)