Houthi mengobarkan perang melawan Saudi untuk mendirikan negara Syiah. Foto/X
SANAA - Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada hari Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya; ini merupakan serangan paling mematikan di wilayah Saudi dalam lebih dari satu dekade. Serangan susulan terhadap bandara tersebut pada hari Minggu menewaskan satu orang lagi.
Koalisi pimpinan Saudi menyalahkan kelompok Houthi Yaman dan menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan bahwa kelompoknya telah menargetkan bandara tersebut "dalam tiga tahap" sejak Jumat malam hingga menutupnya sepenuhnya, serta memperingatkan bahwa bandara-bandara Saudi "tidak aman", kecuali yang melayani Mekkah dan Madinah.
Serangan ini menjadi puncak dari eskalasi ketegangan selama musim panas. Gencatan senjata yang didukung PBB—yang sebelumnya telah membekukan perang Yaman sejak 2022—runtuh pada bulan Juli setelah Arab Saudi membom bandara Sanaa, dan pihak Houthi kemudian menyatakan blokade maritim terhadap kerajaan tersebut.
Pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan balik pada awal Oktober, dan utusan khusus PBB telah memperingatkan bahwa Yaman kembali mengalami perang berskala penuh.
Bentrokan sengit terus berlanjut di sekitar kota Taiz yang memiliki posisi strategis, yang terletak di dataran tinggi di atas pesisir Laut Merah. Pertempuran yang kembali berkecamuk ini telah menyebabkan 130.000 orang mengungsi.
4 Tujuan Houthi Mengobarkan Perang Melawan Saudi, Mendirikan Negara Syiah
1. Menguasai 30% Wilayah Yaman
Secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, atau "penolong Tuhan", gerakan ini muncul di wilayah paling utara Yaman pada tahun 1990-an di seputar sosok ulama Hussein al-Houthi.
Gerakan ini berakar pada paham Zaidiyah, sebuah cabang Islam Syiah yang pengikutnya merupakan kelompok minoritas di Yaman namun terkonsentrasi di wilayah dataran tinggi bagian utara.
Kelompok ini terlibat dalam enam putaran perang melawan pemerintahan mantan presiden Ali Abdullah Saleh antara tahun 2004 dan 2010. Hussein al-Houthi tewas dalam putaran pertama, dan kepemimpinan beralih kepada saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, yang hingga kini masih memimpin gerakan tersebut.
Pejuang Houthi merebut Sanaa pada bulan September 2014, dan pada bulan Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk masuk ke Yaman guna mendukung pemerintah yang diakui secara internasional—pemerintahan yang sebagian besar menjalankan tugasnya dari Riyadh dan kota Aden di Yaman selatan.
Saat gencatan senjata tahun 2022 diberlakukan, kelompok Houthi menguasai sekitar 30 persen wilayah Yaman, namun mencakup sekitar 80 persen dari total populasinya.
2. Menuntut Pengakuan Negara Syiah
Di dalam negeri, kelompok Houthi berupaya mendapatkan otonomi yang lebih luas bagi wilayah utara dan, belakangan ini, semakin menuntut pengakuan sebagai otoritas pemerintahan Yaman.
Mereka menuntut diakhirinya apa yang mereka sebut sebagai blokade darat, udara, dan laut oleh Arab Saudi terhadap Yaman—sebuah klaim yang dibantah oleh Riyadh. Dalam pernyataannya pada hari Minggu, Saree mengatakan kelompok tersebut akan terus meningkatkan serangan jauh ke dalam wilayah Arab Saudi—berdasarkan prinsip "pengepungan dibalas pengepungan, eskalasi dibalas eskalasi"—hingga "agresi" dihentikan dan blokade terhadap Yaman dicabut.
Namun, ambisi mereka melampaui batas wilayah Yaman.
Gerakan ini memosisikan politiknya sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuatan AS dan Israel di kawasan tersebut.
Sejak tahun 2023, kelompok ini telah menyerang lebih dari 100 kapal komersial di Laut Merah dan Teluk Aden, dengan alasan sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di tengah genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Serangan-serangan tersebut sempat dihentikan sementara pada Mei 2025 melalui kesepakatan gencatan senjata dengan Washington yang dimediasi oleh Oman.
Pada bulan Maret, mereka mulai menembakkan rudal ke arah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran, setelah AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran.
3. Melepaskan Diri dari Proksi Iran
Iran menganggap Ansar Allah sebagai bagian dari "Poros Perlawanan" bersama Hizbullah dan Hamas, serta telah menjalin hubungan erat dengan kelompok ini setidaknya sejak akhir tahun 2000-an. Sebagian besar persenjataan Houthi dirancang atau dipasok oleh Teheran.
Pihak Houthi membantah tuduhan bahwa mereka merupakan proksi Iran.
Menyusul serangan terhadap Riyadh, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada hari Senin menyatakan bahwa Teheran "sangat prihatin" dengan eskalasi ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi, serta menawarkan bantuan untuk memfasilitasi dialog antara kedua belah pihak.
4. Memiliki Militer yang Kuat
Pasukan Houthi berkembang dari perkiraan 30.000 personel pada tahun 2015 menjadi sekitar 350.000 pada tahun 2024, meskipun angka pastinya bervariasi.
Kelompok ini tidak memiliki angkatan laut konvensional dan hanya memiliki sedikit kekuatan udara, namun mereka mengerahkan pesawat nirawak, kapal nirawak bermuatan bahan peledak, serta rudal balistik jarak menengah yang mampu menjangkau sasaran sejauh sekitar 2.000 km di Israel.
Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan merupakan jalur akses selatan menuju Terusan Suez.
Pentingnya selat ini semakin meningkat sejak konflik yang melibatkan Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, yang memicu kenaikan harga minyak dan menjadikan Laut Merah sebagai rute alternatif utama bagi ekspor Arab Saudi.
(ahm)