Mungkinkah Negara-negara Arab Bersatu Melawan Houthi?

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Selasa, 13 Oktober 2026 - 03:30 WIB
Mungkinkah Negara-negara Arab Bersatu Melawan Houthi?
Mungkinkah negara-negara Arab bersatu melawan Houthi? Foto/X
A
A
A
MEKKAH - Serangan mematikan Houthi terhadap bandara-bandara Arab Saudi telah memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas, seiring langkah Riyadh meningkatkan operasi militer terhadap kelompok militan yang didukung Iran, dukungan sekutu regional bagi kerajaan tersebut, serta pertimbangan Presiden AS Donald Trump untuk melakukan intervensi langsung.

Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya 14 orang selama akhir pekan dan melukai lebih dari 300 orang, menurut laporan Reuters dan AP.

Mengadopsi strategi Iran dalam konfrontasinya dengan Amerika Serikat, kelompok Houthi mengancam akan melakukan eskalasi yang berdampak berat; mereka menargetkan infrastruktur vital Saudi sembari berupaya menimbulkan dampak ekonomi yang melampaui wilayah kerajaan itu sendiri.

Mungkinkah Negara-negara Arab Bersatu Melawan Houthi?

1. Perlunya Pertahanan Kolektif

Anwar Gargash, Penasihat Diplomatik Presiden UEA, memperingatkan bahwa serangan terhadap Arab Saudi secara langsung mengancam keamanan UEA dan negara-negara Teluk lainnya, seraya menyerukan kerja sama pertahanan regional yang lebih kuat. "Sejak agresi terhadap negara-negara Teluk Arab dimulai, menjadi jelas bahwa kita semua menjadi sasaran dan keamanan kita tidak dapat dipisahkan," tulisnya di X.

Gargash mengatakan bahwa kekurangan dalam kerja sama pertahanan gabungan Teluk telah mendorong serangan terhadap kawasan tersebut, seraya menegaskan bahwa keamanan kolektif adalah tanggung jawab bersama yang tidak memberi ruang bagi sikap lengah atau penundaan.

2. Saudi Hanya Mengandalkan Pasukan Pemerintah Yaman

Arab Saudi telah memberikan dukungan udara yang ekstensif kepada pasukan pemerintah Yaman yang memerangi Houthi, kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara.

Riyadh dapat mengintensifkan serangan terhadap peluncur rudal, fasilitas drone, dan gudang senjata sembari mendukung operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

"Ancaman ini harus ditangani secara tuntas," ujar Ali Shihabi, seorang penulis dan komentator politik Saudi, kepada CNN.

Ia mengatakan bahwa banyak hal akan bergantung pada kinerja pasukan pemerintah Yaman, yang menerima dukungan udara substansial dari Saudi.

Namun, Houthi telah mengembangkan rudal dan drone yang lebih canggih, yang memungkinkan mereka menyerang target jauh di luar Yaman.

Seorang pejabat Yaman selatan mengatakan kepada CNN bahwa milisi tersebut menjadi lebih gigih, serta meningkatkan kemampuan senjata dan intelijen mereka.

3. Dukungan Turki dan Pakistan Belum Nyata

Akankah sekutu regional bergabung dalam kampanye ini? Arab Saudi telah menerima dukungan kuat dari Turki, Pakistan, dan Mesir menyusul serangan-serangan tersebut.

Dalam pernyataan bersama, keempat negara tersebut mengecam serangan itu sebagai eskalasi yang berbahaya dan menegaskan kembali dukungan terhadap hak Arab Saudi untuk mempertahankan keamanan dan kedaulatannya.

Turki dan Pakistan telah memperkuat kerja sama pertahanan dengan Riyadh, meskipun Ankara mengisyaratkan bahwa perannya akan berfokus pada bantuan pertahanan dan teknis, bukan operasi ofensif, demikian dilaporkan Reuters.

Dukungan yang terus menguat ini dapat memperkuat pertahanan Arab Saudi tanpa harus menyeret mitra-mitranya ke dalam pertempuran langsung.

4. Trump Bisa Bergabung dengan Syarat

Trump telah mengisyaratkan bahwa Washington mungkin akan bergabung dalam operasi militer melawan Houthi menyusul serangan terhadap bandara yang juga menewaskan seorang warga negara Amerika.

AS sebenarnya sudah memberikan bantuan intelijen dan militer kepada Arab Saudi, namun sejauh ini belum terlibat secara langsung dalam kampanye serangan udara terbaru tersebut.

Shihabi mengatakan kepada CNN bahwa keterlibatan langsung AS dapat meningkatkan kecepatan operasi militer karena pesawat Amerika mampu merespons lebih cepat berdasarkan data intelijen satelit AS.

Namun, Washington harus mempertimbangkan konsekuensi dari pembukaan front militer baru di tengah konfrontasi yang masih berlangsung dengan Iran.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Mungkinkah Negara-negara Arab Bersatu Melawan Houthi?
International
Selasa, 13 Oktober 2026 - 03:30 WIB
Iran: Eskalasi di Timur Tengah Hanya Menguntungkan Israel
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 21:35 WIB
Riyadh Dibombardir Houthi, MBS Sembunyi di Bunker dengan Penjagaan Ketat
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:18 WIB