Iran klaim eskalasi di Timur Tengah hanya menguntungkan Israel. Foto/X
TEHERAN - Juru bicara Kementerian Luar NegeriIran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran "sangat prihatin dengan perkembangan di Semenanjung Arab" dan telah menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dialog antarpihak.
"Kami meyakini bahwa eskalasi yang terus berlanjut hanya akan menguntungkan rezim Israel, dan kami tidak ingin permusuhan terus berlangsung antara dua negara Muslim, terutama karena kawasan ini sudah menghadapi ketegangan yang disebabkan oleh Amerika Serikat dan Israel," ujarnya dalam sebuah taklimat pers.
"Kami secara konsisten menegaskan bahwa rakyat Yaman berhak hidup bermartabat, bebas dari tekanan, sanksi, dan blokade. Apa yang mereka alami selama 10 hingga 12 tahun terakhir tidak dapat dibenarkan, baik menurut prinsip Islam maupun hukum internasional."
Sementara itu, Abolfazl Shekarchi, kepala juru bicara angkatan bersenjata Iran, mengatakan negaranya tidak akan membiarkan pemulihan tatanan regional AS-Israel di Asia Barat, menurut penyiar IRIB.
"Bangsa-bangsa di kawasan telah menyaksikan sendiri ketidakefektifan apa yang disebut sebagai payung keamanan AS ini. Kini saatnya bagi mereka untuk belajar dari pengalaman ini dan menghindari keterpurukan ke dalam jurang maut dengan menggantungkan nasib mereka pada tali yang kian rapuh milik Trump dan Netanyahu," katanya.
"Washington bahkan tidak mampu menjamin keamanannya sendiri di kawasan ini, apalagi menjamin keamanan pihak lain," ujar Shekarchi.
"Terus-menerus mengandalkan payung keamanan AS tersebut sama saja dengan menerima konsekuensi berat akibat perhitungan dan keputusan yang keliru," tambahnya.
Sebelumnya, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menambahkan bahwa klaim AS mengenai pelayaran di Selat Hormuz "tidak sesuai dengan kenyataan yang kami amati di lapangan".
"Mereka boleh saja terus mengklaim bahwa Selat Hormuz tidak lagi efektif dan Iran telah kehilangan daya tawarnya, namun kami tetap menjalankan tugas kami," kata Esmaeil Baghaei kepada para wartawan. Baghaei menyatakan bahwa tindakan Iran di selat tersebut tidak bertujuan untuk mendapatkan posisi tawar, melainkan merupakan "akibat langsung" dari tindakan AS dan Israel.
"Selama AS bersikeras untuk terus mengganggu keamanan jalur perairan ini dan kawasan sekitarnya melalui blokade angkatan laut serta perang ekonomi—tindakan yang mereka banggakan dan semuanya merupakan contoh agresi militer terhadap suatu negara—keamanan tidak akan kembali ke jalur perairan ini."
(ahm)