Untuk Pertama Kalinya, Putin dan Trump Sepakat Gulingkan Zelensky

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Senin, 12 Oktober 2026 - 19:32 WIB
Untuk Pertama Kalinya, Putin dan Trump Sepakat Gulingkan Zelensky
Meski bermusuhan, Putin dan Trump sepakat gulingkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto/X
A
A
A
MOSKOW - Ukraina membutuhkan pemimpin baru yang memiliki kemauan politik untuk mengakhiri konflik dengan Rusia. Demikian diungkapkan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Komentar ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky—yang masa jabatan kepresidenannya telah berakhir lebih dari dua tahun lalu—untuk mengadakan pemilihan umum baru.

Berbicara kepada RIA Novosti pada hari Senin, Peskov mengatakan bahwa Trump meyakini sudah saatnya bagi Ukraina untuk memilih pemimpin baru karena "presiden Ukraina harus mengambil keputusan yang sangat bertanggung jawab dan sangat sulit untuk menghentikan perang ini."

"Entah Zelensky memikul tanggung jawab ini dan menunjukkan kemauan politik tersebut, atau tidak," lanjut Peskov, seraya menambahkan bahwa sejauh ini Zelensky gagal melakukannya.

Saat ditanya apakah Rusia menginginkan sosok pemimpin Ukraina tertentu, Peskov menjawab: "Yang penting bagi kami adalah adanya seseorang di dalam rezim Kiev yang menunjukkan kemauan politik untuk mengakui kenyataan di lapangan dan bergerak menuju penyelesaian damai."

Komentar ini muncul setelah Trump pada hari Sabtu menyatakan bahwa sudah saatnya Ukraina mendapatkan "presiden baru," seraya menuduh Zelensky berulang kali menolak peluang untuk berdamai. Ia menambahkan keyakinannya bahwa Rusia menginginkan kesepakatan, sementara Zelensky tidak.

Masa jabatan kepresidenan Zelensky berakhir pada Mei 2024, namun ia menolak mengadakan pemilihan umum baru dengan alasan pemberlakuan darurat militer. Moskow menganggapnya tidak sah, dan menilai statusnya yang dipertanyakan itu sebagai hambatan utama dalam penandatanganan perjanjian damai yang mengikat.

Mantan Menteri Pertahanan Mikhail Fedorov berpendapat bahwa Zelensky khawatir akan pemilihan umum baru karena potensi persaingan dari mantan panglima militer Valery Zaluzhny. Fedorov sendiri juga dipandang sebagai kandidat potensial.

Seorang pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Axios bahwa "Trump sangat marah" kepada Zelensky terkait serangan terhadap kilang minyak Rusia. Laporan Financial Times menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mengancam akan menghentikan pertukaran intelijen dan memblokir penjualan senjata AS melalui mekanisme pengadaan PURL yang dikoordinasikan NATO, kecuali jika serangan Ukraina dihentikan.

Pada hari Minggu, Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah mencapai kesepakatan gencatan senjata di sektor energi. Zelensky menanggapi bahwa pengumuman itu merupakan "berita baru bagi saya," namun menyatakan kesiapan untuk berhenti menyerang kilang Rusia jika negara itu menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina. Rusia belum memberikan komentar.

Zelensky juga berpendapat bahwa pemilihan umum di Ukraina hanya dapat diselenggarakan jika Rusia menyetujui gencatan senjata selama 60 hari.

Moskow menentang gagasan gencatan senjata sementara, dengan alasan bahwa hal itu hanya akan memberi waktu bagi Kiev untuk memulihkan pasukannya yang babak belur dan menerima lebih banyak senjata dari Barat.

Tekanan dari AS meningkat setelah percakapan telepon Trump pada hari Jumat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang kemudian menghasilkan kesepakatan besar mengenai ekspor solar ke AS untuk mengatasi kekurangan bahan bakar global.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Untuk Pertama Kalinya, Putin dan Trump Sepakat Gulingkan Zelensky
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 19:32 WIB
PM dan Menhan Polandia Hendak Dibunuh, Ada Apa dengan Negara NATO Ini?
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 09:18 WIB
Horor, Seorang Pria Tewas Diterkam Harimau di Kebun Binatang Inggris
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:25 WIB