Houthi merupakan milisi pemberontak yang didukung Iran. Foto/X
SANAA - Houthi atau Ansar Allah merupakan kelompok politik dan militer asal Yaman yang kini menjadi salah satu aktor penting dalam konflik Timur Tengah. Berawal dari gerakan kebangkitan keagamaan Syiah Zaidiyah, Houthi berkembang menjadi kekuatan bersenjata yang berhadapan dengan pemerintah Yaman, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Israel.
Sejarah Houthi, dari Pemberontak Yaman hingga Menyerang Bandara Arab Saudi
1. Berawal dari Gerakan Keagamaan
Akar Houthi muncul dari gerakan kebangkitan Syiah Zaidiyah di Yaman utara pada dekade 1980-an.
Hussein Badreddin al-Houthi kemudian menjadi tokoh penting yang membawa gerakan tersebut ke ranah politik, dengan kritik terhadap pemerintah Yaman serta retorika anti-Amerika dan anti-Israel.
Mereka juga termotivasi oleh apa yang mereka anggap sebagai diskriminasi ekonomi yang dilakukan pemerintahan yang didukung Arab Saudi terhadap wilayah utara.
Setelah bertransformasi menjadi milisi pada tahun 2000-an, mereka terlibat dalam enam putaran perang antara tahun 2004 hingga 2010 melawan pasukan Presiden Saleh saat itu, hingga akhirnya ia digulingkan oleh gerakan pemberontakan Arab Spring pada tahun 2011.
2. Perang dan Perebutan Ibu Kota Yaman
Pada 2004, Houthi terlibat konflik bersenjata dengan pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh. Setelah Hussein al-Houthi tewas, gerakan tersebut berlanjut di bawah kepemimpinan Abdul-Malik al-Houthi.
Pada September 2014, Houthi berhasil merebut Sanaa, ibu kota Yaman. Setahun kemudian, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan intervensi militer untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
3. Dukungan Iran dan Konflik Laut Merah
Iran memberikan dukungan kepada Houthi, termasuk bantuan yang berkaitan dengan kemampuan persenjataan mereka. Namun, kelompok ini juga memiliki kepentingan politik dan basis kekuatan sendiri di Yaman.
Sekutu Barat Arab Saudi menuduh Iran mengarahkan, mempersenjatai, dan memberikan dukungan finansial kepada gerakan tersebut—sebuah tuduhan yang kerap dibantah oleh para pendukung Houthi.
Retorika Teheran secara tegas menunjukkan keberpihakan pada Houthi. Para ahli menyoroti penggunaan desain dan teknologi Iran dalam serangan rudal serta desain pesawat nirawak (drone) Houthi, sementara berbagai sumber mengklaim bahwa rudal dan senjata ringan dikirim melalui jalur darat melintasi Oman, meskipun bukti-bukti yang ada tidak sepenuhnya kuat atau utuh.
Panel Ahli PBB untuk Yaman menemukan bahwa Iran telah memasok bahan bakar kepada Houthi untuk membantu mereka menggalang dana bagi operasi mereka, namun tidak ditemukan adanya hubungan finansial atau militer secara langsung.
Peter Salisbury, seorang analis senior di International Crisis Group, mengatakan kepada DW: "Jika Iran memang mendukung Houthi secara langsung—seperti yang diyakini banyak orang—mereka berhasil menjaga tingkat penyangkalan yang masuk akal."
Setelah perang Gaza pecah pada Oktober 2023, Houthi melancarkan serangan terhadap Israel dan kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan mendukung Palestina. Serangan tersebut mengganggu pelayaran internasional dan memicu serangan balasan Amerika Serikat serta Inggris.
4. Serangan Terbaru Menghantam Bandara Arab Saudi
Konflik kembali meningkat pada Oktober 2026. Pada 10 Oktober, serangan rudal menghantam kompleks terminal penerbangan domestik di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Otoritas Arab Saudi melaporkan sedikitnya 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka. Houthi kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pada 11 Oktober, serangan kembali menghantam terminal bandara yang sama, menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya, menurut otoritas Arab Saudi. Pada hari yang sama, Arab Saudi juga melaporkan serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam. Houthi mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas penerbangan dan energi Saudi.
Rangkaian serangan tersebut meningkatkan risiko konflik yang lebih luas. Pemerintah Arab Saudi menyatakan akan merespons, sementara sejumlah negara mengecam serangan terhadap infrastruktur penerbangan sipil. Houthi menyebut operasi mereka sebagai balasan atas serangan Saudi di Yaman.
Perjalanan Houthi dari gerakan keagamaan lokal menjadi kekuatan militer regional memperlihatkan kompleksitas konflik Yaman. Serangan terhadap bandara Arab Saudi pada Oktober 2026 menandai eskalasi terbaru yang tidak hanya mengancam keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi mengganggu penerbangan dan stabilitas perdagangan internasional.
5. Didukung Ratusan Ribu Prajurit yang Loyal
Kekuatan militer Houthi terdiri dari gabungan berbagai elemen pasukan; sekitar 60 persen mantan tentara Yaman yang setia kepada Saleh telah bergabung dengan kelompok ini.
Sebuah laporan bulan September 2019 oleh Renad Mansour dan Peter Salisbury memperkirakan kekuatan mereka mencapai 180.000–200.000 personel bersenjata, dengan akses ke berbagai sistem persenjataan mulai dari tank dan kendaraan tempur ringan (teknikal) hingga rudal kendali anti-tank dan rudal balistik jarak jauh.
Kelompok ini mengklaim bahwa banyak komponen canggih dalam persenjataan mereka diperoleh saat mereka menguasai negara tersebut pada tahun 2014.
Meskipun tidak memiliki sumber daya keuangan yang sangat besar ataupun teknologi militer secanggih milik Saudi, Houthi telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa; mereka menguasai sekitar sepertiga wilayah Yaman—termasuk pusat-pusat populasi utama—dan bahkan telah menembus perbatasan Saudi.
(ahm)