Uni Emirat Atab segera bergabung dengan koalisi perang Saudi melawan Houthi. Foto/X
DUBAI - Anwar Gargash, penasihat Presiden Uni Emirat Arab (UEA), menyerukan "aksi bersama negara-negara Teluk" untuk memperkuat "kerangka keamanan kolektif" kawasan tersebut.
Dalam sebuah unggahan di platform X, ia menyatakan bahwa serangan terhadap negara-negara Arab Teluk—yang "bermula dari penilaian keliru pihak agresor bahwa negara-negara tersebut merupakan mata rantai terlemah dalam perang yang sebenarnya ingin kita hindari"—telah memperjelas bahwa "kita semua menjadi sasaran" dan bahwa "keamanan kita tidak dapat dipisahkan satu sama lain."
Serangan terhadap Arab Saudi, ujarnya, melemahkan "keamanan UEA dan seluruh negara Teluk".
"Ada kebutuhan mendesak untuk menghidupkan kembali aksi bersama negara-negara Teluk, khususnya dalam aspek keamanan dan pertahanan, serta memperkuat kerangka keamanan kolektif," katanya, dilansir Al Jazeera.
"Ini adalah aspek yang selama ini sangat terabaikan, sehingga mendorong pihak lain untuk bertindak melampaui batas terhadap kita. Keamanan Teluk adalah tanggung jawab bersama yang tidak menoleransi kelonggaran maupun penundaan."
Pejabat UEA tersebut juga menyerukan penghidupan kembali aksi bersama negara-negara Teluk, seraya menegaskan bahwa keamanan Teluk merupakan tanggung jawab bersama yang tidak boleh diabaikan atau ditunda.
Komentarnya muncul di tengah meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman. Aksi saling serang ini dianggap sebagai dampak meluasnya perang AS-Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober menewaskan 13 orang, termasuk empat warga Saudi, dan melukai lebih dari 300 orang, menurut otoritas penerbangan sipil Saudi. Pada tanggal 11 Oktober, seorang warga Pakistan tewas dan 11 orang lainnya terluka dalam serangan baru terhadap bandara tersebut.
Secara keseluruhan, 18 orang tewas dalam serangkaian serangan terhadap pusat penerbangan Arab Saudi tersebut selama sepekan terakhir. Akibatnya, operasional bandara dihentikan sementara dan gangguan penerbangan terus terjadi di seluruh Arab Saudi pada hari Senin; sebanyak 362—atau 34,54 persen—dari 1.048 jadwal keberangkatan dibatalkan atau ditetapkan tidak dapat terbang akibat serangan Houthi terhadap bandara Riyadh, menurut data jadwal penerbangan yang dihimpun oleh Cirium per pukul 05.30 waktu UEA.
(ahm)