Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, berkali-kali diserang rudal oleh kelompok Houthi Yaman. Serangan paling fatal menewaskan 12 orang pada Sabtu (10/10/2026). Foto/Eagle Intel Reports
RIYADH - Kelompok
Houthi di Yaman, kelompok bersenjata yang juga dikenal sebagai Ansar Allah (dalam bahasa Arab berarti Pendukung Allah), melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Arab Saudi menggunakan gelombang rudal balistik, rudal jelajah, dan drone.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh telah beberapa kali menjadi sasaran Houthi sejak kelompok tersebut memulai kampanye militer terbaru terhadap kerajaan itu pada September.
Serangan rudal Houthi terhadap bandara tersebut pada Sabtu menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Pada Minggu, rudal Houthi kembali menyerang bandara yang sama dan menyebabkan satu orang tewas dan 11 lainnya terluka.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi terpaksa menghentikan operasional bandara dan mengalihkan seluruh penerbangan. Sementara itu, Amerika Serikat dan Inggris mengeluarkan peringatan perjalanan baru bagi warga negara mereka.
Houthi juga mengeklaim dua serangan lain terhadap pusat penerbangan tersebut pada awal pekan ini.
Rudal Houthi Canggih atau Pertahanan Udara Saudi yang Lemah?
Arab Saudi memiliki salah satu militer dengan perlengkapan terbaik di dunia, termasuk sistem pertahanan udara canggih berlapis-lapis.
Pesawat-pesawat tempur Saudi telah menggempur posisi Houthi di berbagai wilayah Yaman selama sepekan terakhir. Serangan itu bertujuan membalikkan kemajuan terbaru kelompok yang didukung Iran tersebut terhadap pasukan pemerintah Yaman, yang didukung Riyadh.
Persenjataan Houthi sendiri telah berkembang pesat sejak kelompok itu merebut kendali atas Sanaa dari pemerintah Yaman pada September 2014.
Drone dan rudal mereka kini mampu menjangkau wilayah sejauh Israel. Tingkat akurasinya juga memungkinkan mereka menyerang sasaran tertentu, seperti bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi.
Jenis persenjataan yang digunakan untuk menyerang Bandara King Khalid belum diketahui secara pasti. Namun, Houthi telah meluncurkan ratusan drone dan rudal ke Arab Saudi sejak intervensi militer pada 2015.
Kelompok tersebut juga telah menyerang Israel dan, menurut laporan
Al Jazeera, kapal-kapal yang terkait dengan Israel sejak dimulainya genosida di Gaza pada Oktober 2023.
Houthi menggunakan berbagai senjata secara terpadu, memadukan drone dan rudal dengan kecepatan berbeda untuk membingungkan sistem pertahanan udara lawan.
Kombinasi serupa juga membentuk jalannya perang darat di Yaman. Houthi menggempur posisi pasukan pemerintah selama berminggu-minggu sebelum merebut pesisir Laut Merah melalui serangan cepat pada bulan lalu.
Di antara persenjataan paling canggih yang dimiliki kelompok tersebut adalah rudal balistik jarak menengah, seperti Palestine-2. Rudal berbahan bakar padat dua tahap ini diyakini memiliki jangkauan 2.000 kilometer dan kemampuan hipersonik.
Senjata lainnya adalah Toufan, yang tampaknya merupakan rudal Ghadr buatan Iran yang diberi nama baru. Rudal tersebut diperkirakan memiliki jangkauan antara 1.350 kilometer hingga 1.950 kilometer.
Jangkauan rudal-rudal tersebut—sebagian dilengkapi hulu ledak tandan (
cluster warhead)—memungkinkan Houthi menembus jaringan pertahanan udara Israel, yang berjarak sekitar 2.000 kilometer dari Yaman.
Houthi juga memiliki sejumlah rudal jarak pendek, seperti seri Burkan dan Badr. Rudal-rudal tersebut diyakini berasal dari Iran dan telah digunakan dalam serangan lintas perbatasan ke wilayah Arab Saudi.
Menurut Nawaf Obaid, peneliti senior di Departemen Studi Perang King's College London, persenjataan rudal Houthi pada dasarnya berasal dari teknologi persenjataan Iran, dengan sejumlah pengaruh teknologi China.
"Houthi hanya menunjukkan sedikit bukti adanya inovasi teknologi domestik yang signifikan," katanya.
"Kemampuan produksi dalam negeri mereka sebagian besar terbatas pada pembuatan jenis rudal dan drone kelas bawah tertentu," lanjut dia.
Bulan lalu, pasukan pemerintah Yaman menuduh Houthi mendapat bantuan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk mengembangkan kemampuan baru, yakni rudal jelajah yang dapat berputar-putar di sekitar wilayah sasaran sambil menunggu kesempatan menyerang (
loitering cruise missile).
Otoritas Arab Saudi mengatakan pasukannya telah menembak jatuh sejumlah proyektil selama sepekan terakhir, termasuk dua rudal balistik yang diarahkan ke ibu kota pada Kamis.
Namun, mereka gagal mencegat proyektil yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu.
Nawaf Obaid mengatakan kepada
Al Jazeera bahwa kebobolan sesekali dalam sistem pertahanan udara Arab Saudi merupakan hal yang dapat diperkirakan, mengingat luas wilayah kerajaan tersebut dan panjang perbatasannya dengan Yaman.
"Sekalipun Anda memiliki sistem pertahanan udara berlapis-lapis, akan selalu ada satu yang berhasil menembusnya," katanya. Dia menekankan bahwa puluhan upaya serangan Houthi dapat digagalkan untuk setiap satu serangan yang berhasil mencapai sasaran.
Wolfgang Pusztai, analis kebijakan keamanan dan pertahanan, mengatakan kepada
Al Jazeera bahwa sistem pertahanan rudal balistik Arab Saudi pada awalnya terutama difokuskan untuk menghadapi ancaman dari Iran.
Namun, seiring meningkatnya serangan Houthi, dia menilai Riyadh kemungkinan mulai mengalihkan sebagian sistem pertahanannya untuk menghadapi ancaman dari Yaman.
Persoalan lain adalah ketersediaan stok rudal pencegat. Arab Saudi, bersama sejumlah sekutu regional dan global Amerika Serikat, menghadapi keterbatasan persediaan amunisi untuk sistem Patriot dan THAAD.
Stok tersebut telah terkuras dengan cepat oleh AS dan sekutu-sekutunya selama bulan-bulan awal perang melawan Iran.
Bulan lalu, Riyadh dilaporkan telah menghubungi sejumlah negara sahabat untuk meminta pengerahan sistem pertahanan udara atau dukungan lainnya guna membantu menghadapi serangan Houthi.
Meski demikian, Houthi juga beroperasi di bawah berbagai keterbatasan serius. Kelompok itu menghadapi embargo senjata yang diberlakukan berdasarkan mandat PBB, blokade Arab Saudi yang telah berlangsung bertahun-tahun, serta pertempuran di beberapa front di seluruh Yaman.
"Secara militer, koalisi pimpinan Arab Saudi memiliki keunggulan. Namun, Houthi masih dapat mendominasi pemberitaan melalui serangan sesekali terhadap Arab Saudi," kata Obaid.
"Sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia dan negara dengan perekonomian anggota G20, Arab Saudi memiliki tanggung jawab global yang membuat serangan semacam ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar."
Jumlah pasti rudal yang dimiliki Houthi belum diketahui. Ketidakpastian ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan kelompok tersebut mempertahankan serangan terhadap Arab Saudi, sementara pada saat bersamaan mereka juga terlibat dalam perang darat yang sengit dengan menggunakan rudal dan drone.
Obaid mengatakan kampanye udara Arab Saudi di Yaman sangat berfokus pada penghancuran depot rudal, instalasi bawah tanah, dan fasilitas produksi drone milik Houthi.
Dia menambahkan bahwa operasi tersebut "menimbulkan kerusakan yang sangat besar" terhadap kemampuan militer kelompok itu.
Pusztai mengatakan kepada
Al Jazeera bahwa Houthi kemungkinan hanya memiliki persediaan terbatas rudal balistik jarak pendek.
Kondisi tersebut berarti mereka mungkin tidak lagi mampu melancarkan serangan saturasi, yakni menembakkan banyak rudal dan drone secara bersamaan ke sasaran, seperti yang dapat dilakukan dalam serangan besar terhadap Arab Saudi.
Sebaliknya, mereka dapat memusatkan perhatian pada peluncuran satu rudal ke sasaran sipil yang pertahanannya lebih lemah.
"Strategi tersebut bertujuan memaksimalkan dampak strategis serangan-serangan ini, dalam kasus ini untuk mengganggu lalu lintas penerbangan sipil," katanya.
(mas)