Rezim Kim Jong-un unjuk kekuatan dengan menembakkan rudal Korea Utara ke Laut Jepang. Foto/Ilustrasi dari Yonhap
TOKYO - Rezim Kim Jong-un yang berkuasa di
Korea Utara (Korut) unjuk kekuatan dengan menembakkan rudal yang belum diketahui jenisnya ke Laut Jepang atau Laut Timur pada Senin (12/10/2026). Korea Selatan dan Jepang sama-sama memantau manuver rudal Pyongyang tersebut.
"Korea Utara menembakkan proyektil tak dikenal ke arah Laut Timur," kata Kepala Staf Gabungan (JCS) Militer Korea Selatan.
Kantor Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi mengonfirmasi peluncuran rudal Korut dalam sebuah peringatan darurat di platform X.
Peringatan yang dikeluarkan pukul 09.35 pagi itu tidak merinci lintasan terbang rudal, lokasi jatuhnya, ataupun apakah rudal tersebut memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Jepang, yang membentang sekitar 230 mil dari garis pantai negara tersebut. "Informasi lebih lanjut akan menyusul," tulis kantor tersebut, yang dikutip
AFP.
Peluncuran rudal tersebut menyusul uji coba rudal balistik oleh Pyongyang pada 3 Oktober lalu, yang menurut mereka telah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Rudal yang ditembakkan mampu mengubah lintasan terbangnya pada ketinggian rendah dan telah dilengkapi dengan teknologi AI," ujar Kim Yo-jong, adik perempuan dari pemimpin Korut Kim Jong-un, pada saat uji coba rudal 3 Oktober lalu.
Tak mau kalah, beberapa hari kemudian, Seoul mengumumkan keberhasilan uji coba hypersonic glide vehicle (HGV) atau kendaraan luncur hipersonik buatan dalam negeri pertamanya; sebuah senjata yang dibawa ke atmosfer atas oleh pendorong roket atau rudal balistik sebelum meluncur menuju sasarannya.
Kantor kepresidenan Korea Selatan menyatakan bahwa HGV tersebut menawarkan kemampuan pencegahan baru yang mampu menghantam target-target utama dalam lingkungan operasional Semenanjung Korea.
Ketegangan antara kedua Korea meningkat sejak tiga tentara Korea Selatan terluka akibat ledakan dua ranjau darat di wilayah Zona Demiliterisasi (DMZ) yang dikuasai Seoul—wilayah yang telah berfungsi sebagai zona penyangga sejak gencatan senjata tahun 1953.
Sebuah penyelidikan gabungan antara Seoul dan PBB menduga bahwa Korut telah menanam ranjau-ranjau tersebut lebih dari setahun yang lalu, sebuah tuduhan yang dibantah dengan keras oleh Pyongyang.
(mas)