Awalnya Sebut Kebohongan Total, Pentagon Kini Akui 21 Tentara AS Tewas selama Perang Iran

img-redaksi Muhaimin
Senin, 12 Oktober 2026 - 06:52 WIB
Awalnya Sebut Kebohongan Total, Pentagon Kini Akui 21 Tentara AS Tewas selama Perang Iran
Presiden Donald Trump memberi hormat ketika jenazah para tentara AS korban perang Iran tiba di Amerika Serikat. Foto/The White House
A
A
A
WASHINGTON - Pentagon merevisi jumlah personel militer Amerika Serikat (AS) yang tewas selama perang melawan Iran setelah sebelumnya jumlah kematian yang tercatat lebih rendah dari angka sebenarnya. Jumlah resmi korban tewas kini dinaikkan menjadi 21 personel.

Defense Casualty Analysis System (DCAS), sistem analisis korban militer AS, awalnya mencatat 18 personel militer AS tewas dengan penyebab terkait maupun tidak terkait pertempuran sejak perang dimulai pada 28 Februari.

The Washington Post melaporkan bulan lalu, dengan mengutip enam pejabat AS, bahwa basis data tersebut tidak mencatat jumlah kematian yang sebenarnya. Menteri Perang AS Pete Hegseth bahkan menyangkal laporan itu dengan menyebutnya sebagai "kebohongan total".

Pada Jumat pekan lalu, basis data tersebut diperbarui dengan memasukkan nama Mayor Sorffly Davius (46) dari Garda Nasional Angkatan Darat AS, yang tewas di Kuwait pada 6 Maret, serta seorang anggota Angkatan Laut AS yang identitasnya tidak diungkapkan dan tewas akibat bunuh diri pada September.

Basis data itu juga mencatat kematian Sersan Devin A. Seibel (26) yang tewas dalam kecelakaan saat latihan di Irak pada Mei. Namun, militer AS tidak mengaitkan insiden tersebut dengan perang melawan Iran dan mengklasifikasikannya sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, operasi yang telah berlangsung selama satu dekade untuk memerangi kelompok Islamic State atau ISIS.

Dengan dimasukkannya Seibel, jumlah keseluruhan personel militer AS yang tewas di Timur Tengah sejak 28 Februari mencapai 22 orang. Angka ini sesuai dengan jumlah yang sebelumnya dilaporkan surat kabar tersebut.

Catatan terbaru itu juga menunjukkan bahwa sebanyak 865 personel militer AS mengalami luka-luka.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dari Partai Demokrat, Adam Smith dan Chrissy Houlahan, mengkritik ketidakakuratan jumlah korban tersebut. Keduanya menyebut kesalahan itu sebagai "hal yang memalukan" bagi militer AS.

"Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kesalahan sebesar ini," kata mereka dalam pernyataan bersama, Minggu (11/10/2026).

Ketika dimintai tanggapan oleh The Washington Post, Pentagon tidak membahas perubahan data tersebut. Namun, Pentagon menyatakan bahwa pihaknya "tetap berkomitmen teguh untuk mencatat seluruh korban di kalangan personel militer secara transparan dan akurat".

Bulan lalu, Angkatan Laut AS mengakui bahwa delapan pelaut yang bertugas dalam kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln mencoba bunuh diri selama penugasan selama 10 bulan, yang mencakup periode perang melawan Iran.

Pengungkapan itu muncul setelah sejumlah laporan mengenai kelelahan fisik dan mental, penurunan moral, serta kekurangan makanan dan kebutuhan pokok di kalangan personel militer.

Meskipun Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa operasi militer tersebut berhasil, jajak pendapat Reuters/Ipsos pada September menemukan bahwa 62% warga Amerika tidak menyetujui serangan militer terhadap Iran.

Konflik tersebut juga semakin memperdalam perpecahan politik menjelang pemilu sela AS pada November. Biaya perang dan dampaknya terhadap perekonomian kini menjadi sorotan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) memperkirakan biaya perang mencapai USD43,6 miliar hingga 3 September. Angka tersebut berdasarkan data yang disampaikan kepada para anggota parlemen dan dilihat oleh kantor berita Associated Press (AP).

Trump sebelumnya mengatakan perang akan segera berakhir setelah pemilu sela. Namun, dia kemudian mengatakan kepada Axios bahwa dirinya menghadapi "keputusan besar" mengenai apakah akan kembali melancarkan serangan besar-besaran untuk mengakhiri konflik tersebut.

Dalam percakapan telepon pada Jumat pekan lalu, Trump membahas Iran dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin menekankan bahwa penyelesaian melalui jalur diplomatik masih memungkinkan.

Dia juga kembali menegaskan tawaran Moskow untuk menerima persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran guna membantu menyelesaikan perselisihan terkait program nuklir negara tersebut.

Menurut ajudan kepresidenan Rusia, Yury Ushakov, Trump menyambut baik keterlibatan Rusia dalam upaya diplomatik tersebut.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Aneh Bin Ajaib! Sudah Berlakukan Sanksi, Mengapa AS Justru Beli BBM Rusia?
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 04:40 WIB
4 Alasan Trump Akan Bantu Saudi Gempur Houthi, Permohonan Berulang Kali MBS
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 02:20 WIB
Christa Pike Dieksekusi tapi Gagal Mati, Sekarang Dijebloskan Lagi ke Penjara
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:52 WIB