Aneh Bin Ajaib! Sudah Berlakukan Sanksi, Mengapa AS Justru Beli BBM Rusia?

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Senin, 12 Oktober 2026 - 04:40 WIB
Aneh Bin Ajaib! Sudah Berlakukan Sanksi, Mengapa AS Justru Beli BBM Rusia?
AS beli BBM Rusia jelang pemilu sela. Foto/X
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah menyepakati perjanjian untuk melepas pasokan bahan bakar diesel dari Rusia guna meredam tingginya biaya bahan bakar di AS menjelang pemilihan umum paruh waktu bulan November.

Namun, para analis mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kesepakatan tersebut kemungkinan hanya berdampak kecil dalam meredakan krisis energi global, sementara negara-negara Eropa mungkin akan menolak sama sekali untuk membeli dari Rusia.

Kesepakatan ini tercapai meskipun telah diberlakukan sanksi bertahun-tahun terhadap Rusia akibat perangnya di Ukraina; sanksi terbaru diumumkan bulan lalu oleh AS dan secara khusus menargetkan pembeli minyak Rusia.

Aneh Bin Ajaib! Sudah Berlakukan Sanksi, Mengapa AS Justru Beli BBM Rusia?

1. 300.000 Ton BBM Rusia Dipasok ke AS

Apa yang disepakati Trump dengan Putin? Pada Jumat malam, Trump mengumumkan di media sosial bahwa setelah "diskusi yang sangat sukses" dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, telah disepakati bahwa Rusia akan "segera" memasok lebih dari 300.000 ton bahan bakar diesel ke pasar AS dan pasar global.

Sebanyak 500.000 ton lagi akan disalurkan pada bulan November, dan 1 juta ton berikutnya pada waktu setelah itu, kata Trump. Ia menambahkan bahwa, berdasarkan kondisi kilang dieselnya saat ini, Rusia kemudian akan mengirimkan tambahan 3 juta ton diesel.

Trump mengklaim bahwa langkah ini, bersama dengan apa yang ia sebut sebagai "kendali penuh" AS atas Selat Hormuz, akan menurunkan harga diesel di AS dan seluruh dunia.

"Harga yang lebih rendah bagi rakyat Amerika, terutama para petani, peternak, dan pengemudi truk kita yang hebat, adalah Prioritas Utama saya," tulisnya dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya.

Trump kemudian berterima kasih kepada Putin atas kesepakatan tersebut, seraya mengatakan kepada para wartawan di luar Gedung Putih pada hari Jumat: "Sejujurnya, ada pasokan minyak dalam jumlah besar yang masuk ke negara kita, dan diesel adalah apa yang kita butuhkan."

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Putin mengatakan bahwa Rusia "menegaskan kesediaannya untuk memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS dan pasar global secara luas".

2. Krisis Hormuz Perburuk Pasokan BBM

Harga bahan bakar global melonjak akibat perang AS-Israel melawan Iran serta perang Rusia melawan Ukraina. Teheran sebagian besar telah menutup Selat Hormuz—jalur yang biasanya dilalui oleh 20 persen pasokan minyak dan gas dunia pada masa damai—sejak AS dan Israel pertama kali melancarkan serangan terhadap Iran pada bulan Februari.

Serangan baru-baru ini terhadap Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) milik Arab Saudi—jalur ekspor minyak utama lainnya dari kawasan Teluk—serta serangan oleh kelompok Houthi Yaman di sekitar Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb telah memperparah gangguan pasokan.

Sementara itu, kilang minyak serta fasilitas energi dan pelabuhan di Rusia maupun Ukraina telah menjadi sasaran serangan hebat. Persediaan bahan bakar global telah merosot tajam, dan harga solar mencapai rekor tertinggi baik di AS maupun Eropa pada bulan September.

Pekan lalu, negara-negara G7 sepakat untuk melepas 100 juta barel cadangan darurat solar dan minyak mentah setelah adanya tekanan dari AS terhadap Uni Eropa, di mana pemerintahan Trump mengancam akan melarang ekspor solar AS.

Hamad Hussain, seorang ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, mengatakan kepada Al Jazeera pekan lalu bahwa dampak dari pelepasan cadangan G7 tersebut "akan berlangsung singkat mengingat ini hanyalah solusi sementara untuk mengatasi krisis pasokan".

3. Harga BBM di AS Jelang Pemilu

Lonjakan harga solar di AS menyebabkan rata-rata harga nasional naik hingga mencapai rekor USD6,52 per galon (3,79 liter) pada bulan September, lebih dari dua kali lipat harga setahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata harga nasional berada di angka USD6,20, menurut American Automobile Association (AAA).

AS merupakan eksportir solar terbesar di dunia. Persediaannya telah turun drastis sejak perang Iran dimulai dan masih berada di bawah tingkat normal meskipun kilang-kilang minyak telah meningkatkan produksinya.

Pada bulan September, para pembuat kebijakan AS dan Trump melontarkan gagasan untuk membatasi ekspor solar sebagai upaya menurunkan biaya bagi konsumen. Trump juga mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menghentikan serangan terhadap target-target bahan bakar solar, dengan menuduhnya sebagai penyebab kelangkaan setelah Ukraina meningkatkan serangan terhadap industri minyak Rusia tahun ini, yang bertujuan untuk mengganggu industri energinya, yang digunakan untuk mendanai upaya perangnya. Trump tidak secara khusus menargetkan Rusia untuk perlakuan serupa terkait serangannya terhadap infrastruktur energi Ukraina.

Trump sangat berkepentingan untuk menurunkan harga solar menjelang pemilihan paruh waktu AS. Isu perang Iran sudah sangat tidak populer, dan banyak pemilik usaha kecil di basis pendukung MAGA (Make America Great Again) miliknya sangat bergantung pada harga solar yang terjangkau.

Konsumen merasakan dampak kenaikan harga karena solar digunakan oleh pengemudi truk untuk mengangkut makanan dan produk, serta oleh petani dalam mengoperasikan mesin. Jajak pendapat terbaru dari Pew Research Center menunjukkan bahwa ekonomi merupakan isu terpenting bagi 84 persen pemilih terdaftar.

Negara-negara bagian yang memilih Trump dan biasanya mendukung kandidat dari Partai Republik—seperti Iowa dan Kansas—kini dipandang sebagai medan pertempuran sengit dalam pemilihan tanggal 3 November, sehingga menempatkan Trump di bawah tekanan untuk mencegah kekalahan Partai Republik.

4. AS Menelan Ludah Sendiri

AS melarang impor minyak dan gas Rusia pada tahun 2022 di bawah pemerintahan Biden sebagai tanggapan atas invasi ke Ukraina pada bulan Februari tahun tersebut. Undang-undang sanksi Rusia yang komprehensif, yang disahkan Kongres bulan lalu dan ditandatangani oleh Trump, juga menyasar negara-negara yang membeli minyak dan gas Rusia. Undang-Undang Sanksi terhadap Rusia dan Iran (Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act) tahun 2026 memperluas sanksi yang sudah ada dan bertujuan menekan Putin dengan menyasar para pejabat, bank, serta kapal tanker bayangan yang memfasilitasi perdagangan energi Rusia.

Undang-undang tersebut juga memberikan wewenang kepada Trump untuk mengenakan tarif 100 persen terhadap lima importir utama minyak dan gas alam Rusia.

Setelah pengumuman Trump pada hari Jumat, Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) "segera menerbitkan izin umum sementara untuk memungkinkan pasokan solar Rusia ke pasar global".
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Aneh Bin Ajaib! Sudah Berlakukan Sanksi, Mengapa AS Justru Beli BBM Rusia?
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 04:40 WIB
4 Alasan Trump Akan Bantu Saudi Gempur Houthi, Permohonan Berulang Kali MBS
International
Senin, 12 Oktober 2026 - 02:20 WIB
Christa Pike Dieksekusi tapi Gagal Mati, Sekarang Dijebloskan Lagi ke Penjara
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:52 WIB