Pakar militer klaim serangan Houthi ke Bandara Riyadh sebagai bukti kelemahan pertahanan Arab Saudi. Foto/X/@SprinterPress
RIYADH - Yasmeen al-Eryani, direktur eksekutif bidang produksi pengetahuan di Sanaa Center, mengatakan bahwa kelompok Houthi sedang berupaya memberikan "tekanan maksimal" terhadap Arab Saudi.
"Namun, mereka juga memobilisasi kekuatan di garis depan internal secara besar-besaran, bahkan beralih dari pertempuran di pantai barat menuju Taiz dan wilayah-wilayah yang lebih padat penduduk," ujar al-Eryani kepada Al Jazeera.
Pakar Militer Klaim Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Membuktikan Kelemahan Pertahanan Saudi
1. Houthi Memanfaatkan Momentum
"Kita mungkin akan melihat mobilisasi lebih lanjut; mereka memiliki momentum yang sangat tinggi. Mereka kemungkinan akan terus memanfaatkan momentum tersebut—baik melalui serangan internal maupun lintas batas—dan dengan melakukan hal ini, mereka mewujudkan penyatuan berbagai medan tempur untuk memberikan tekanan di seluruh kawasan, baik secara ekonomi, politik, dan sebagainya," tuturnya.
Al-Eryani menambahkan bahwa Houthi sedang "memprovokasi" Arab Saudi, AS, dan negara-negara kawasan, yang berpotensi ikut terlibat dalam konflik tersebut.
2. Negara Teluk Akan Berhati-hati
Meskipun negara-negara Teluk saling memberikan dukungan, mereka harus berhati-hati terhadap "eskalasi penuh yang dapat menyebabkan lonjakan harga energi secara global," kata Dania Thafer, direktur eksekutif di Gulf International Forum.
"Menurut saya, dalam situasi ini, membatasi lingkup masalah Houthi lebih menguntungkan bagi mereka daripada memicu eskalasi lebih lanjut di berbagai lini," ujar Thafer kepada Al Jazeera.
Ia menjelaskan bahwa jika berkaca pada tindakan Arab Saudi sebelumnya dalam perang Yaman sejak tahun 2015, mereka kemungkinan akan membalas serangan Houthi dengan "sangat keras".
"Saya tetap berpendapat bahwa pihak Saudi kemungkinan menginginkan de-eskalasi. Mereka tidak menginginkan eskalasi jangka panjang, namun Houthi mempersulit keadaan dengan menjadi ancaman tidak hanya bagi keamanan nasional Saudi, tetapi juga bagi keamanan maritim internasional.
"Jadi, pertempuran ini jauh lebih besar daripada sekadar aksi saling balas serangan."
3. Serangan yang Sudah Diperkirakan Sebelumnya
Nawaf Obaid, peneliti senior di King's College London serta analis keamanan dan intelijen, mengatakan bahwa kelompok Houthi menyerang target-target sipil di wilayah Arab Saudi sebagai balasan atas serangan udara yang dilancarkan pasukan koalisi pimpinan Saudi di Yaman selama dua pekan terakhir.
Obaid mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan oleh kelompok yang didukung Iran tersebut sudah dapat diperkirakan sebelumnya.
"Ini benar-benar satu-satunya cara mereka untuk melakukan pembalasan secara penuh," ujarnya. Obaid menambahkan bahwa kemungkinan besar rudal balistik digunakan untuk menghantam "target sipil yang sangat jelas"—yaitu Bandara Internasional King Khaled di Riyadh—mengingat kerusakan yang ditimbulkannya.
4. Menampilkan Kesan Arab Saudi Lemah
Otoritas penerbangan sipil Saudi menyatakan bahwa 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam serangan hari Sabtu tersebut.
"Hal itu menunjukkan seperti apa pihak yang dihadapi oleh Arab Saudi dan sekutunya saat ini."
Ia mengatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk menampilkan citra negatif dan kesan lemah terhadap Arab Saudi, dan tujuan itu "sebagian besar telah tercapai". Namun, ia juga menyebutkan bahwa kelompok Houthi sedang "dipukul mundur dengan telak" di medan pertempuran.
(ahm)