Bekas Lapangan Terbang CIA di Laos Kini Berubah Status Jadi Pangkalan Militer China

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:45 WIB
Bekas Lapangan Terbang CIA di Laos Kini Berubah Status Jadi Pangkalan Militer China
Bekas lapangan terbang CIA di Laos berubah status jadi pangkalan militer China. Foto/CNN/Vantour
A
A
A
WASHINGTON - Militer China membuka pos baru di sebuah lokasi di Laos barat laut yang dulunya merupakan lapangan terbang CIA pada era Perang Vietnam.

Melansir CNN, pangkalan tersebut, yang terletak sekitar 40 mil (64 km) di utara ibu kota Vientiane dan hanya 25 mil (40 km) dari perbatasan terdekat dengan Thailand, mencakup Pusat Dukungan dan Pelatihan Gabungan China-Laos di Bandara Ban Keun serta Akademi Penerbangan Persahabatan China-Laos. Fasilitas ini mulai beroperasi pada 29 September, menurut pengumuman dari Kementerian Pertahanan China.

Foto-foto yang diperoleh CNN dari citra satelit dan platform intelijen Vantor menunjukkan bahwa landasan pacu sepanjang 6.500 kaki (2.000 meter), jalur penghubung , dan area parkir pesawat yang mampu menampung 22 pesawat telah rampung dibangun di pangkalan tersebut sejak bulan Desember.

Fasilitas-fasilitas ini "dirancang untuk membantu Laos memperkuat pelatihan dan pengembangan pilot angkatan udaranya serta akan dikelola bersama oleh kedua belah pihak," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan.

Delapan pesawat—kemungkinan jet Hongdu JL-8, yaitu pesawat latih dan serang ringan dengan dua kursi—terlihat dalam foto-foto satelit tersebut. Citra dari Vantor memperlihatkan perkembangan lapangan terbang gabungan baru antara Tiongkok dan Laos di Ban Keun, Laos, sejak Desember 2025.

Fasilitas tersebut "tidak ditujukan untuk melawan pihak ketiga mana pun dan kondusif untuk semakin memperkuat kerja sama praktis antara kedua militer serta menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan," demikian pernyataan kementerian tersebut.

Hingga saat ini, China hanya memiliki satu pangkalan resmi di luar negeri, yaitu sebuah instalasi di Djibouti, Afrika timur laut, yang dibuka pada tahun 2017.

China juga mendanai perluasan besar-besaran Pangkalan Angkatan Laut Ream milik Kamboja di Teluk Thailand, yang dioperasikan bersama dengan militer Kamboja.

Sebuah dermaga baru di sana, yang cukup besar untuk menampung kapal induk Angkatan Laut PLA (Tentara Pembebasan Rakyat China), telah menimbulkan kekhawatiran mengenai niat Beijing di kawasan tersebut. Namun, pemerintah Kamboja menegaskan bahwa Ream terbuka bagi pihak lain, termasuk Angkatan Laut AS, yang sempat menempatkan kapal tempur pesisir di sana pada bulan Januari.

Pangkalan Ban Keun di Laos dulunya digunakan oleh Air America—maskapai yang dioperasikan CIA—selama Perang Vietnam sebagai pusat logistik dan dukungan untuk operasi rahasia di kawasan tersebut.

Akan tetapi, langkah China di lokasi itu—meskipun bersifat simbolis—tidak menandakan adanya perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan antara AS dan Tiongkok, menurut para analis.

Drew Thompson, seorang peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, mengatakan pada hari Kamis bahwa sulit untuk melihat adanya ancaman terhadap pasukan AS di kawasan tersebut akibat keberadaan pangkalan itu.

"Landasan pacu ini bukanlah belati yang diarahkan ke jantung sasaran mana pun," ujar Thompson.

"Sulit bagi saya membayangkan skenario di mana (China) ingin meluncurkan sorti pesawat dari sana," ujarnya, seraya menyoroti lokasinya yang dekat dengan Thailand, sekutu utama AS di luar NATO.

Rachel Vandenbrink, seorang analis senior di Australian Strategic Policy Institute, mengatakan kepada Reuters bahwa pemilihan Ban Keun oleh China "kemungkinan lebih didasarkan pada peluang yang tersedia ketimbang untuk memenuhi kebutuhan operasional yang nyata."

"Laos memang memiliki nilai geostrategis sebagai pijakan yang mudah diakses di daratan Asia Tenggara, mengingat perbatasannya yang bersinggungan dengan Tiongkok serta adanya koneksi infrastruktur, termasuk jalur kereta api," ujar Vandenbrink kepada kantor berita tersebut.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
130 Juta Nama Pemilih Dihapus, Pendukung Partai Kecoak Lanjutkan Aksi Jalanan
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 16:20 WIB
Presiden Taiwan: Tingkatkan Anggaran Pertahanan untuk Cegah Perang
International
Sabtu, 10 Oktober 2026 - 21:35 WIB